
Hari ini Zia sudah berkumpul lagi bersama Maryam putri semata wayangnya. Dan Rayhan sudah kembali ke rumah Alfina.
Selama tiga hari ke depan, Rayhan tidak akan pulang ke rumah Zia. Zia memanfaatkan waktu untuk bersih-bersih, mengurus cucian dan beristirahat.
"Umma...!" panggil Maryam yang turun dari lantai atas.
"Apa sayang, Umma masih masak, bentar lagi kita makan siang ya," sahut Zia.
"Bosen sendirian, ga ada teman main, pengen jalan-jalan," ucap Maryam yang manyun, dia sudah terbiasa dengan Sulaiman dan saudara-saudaranya yang banyak, dan kini harus sendiri lagi, tentu membuat gadis kecil itu kesepian.
"Hmm iya, setelah makan siang, kita minta izin Abi ya, kalau Abi izinkan, kita jalan-jalan ke tempat bermain di mall," tutur Zia.
"Beneran Umma??" tanya Maryam tidak percaya.
"Iya, pokoknya Abi izinkan, kita jalan-jalan," sahut Zia.
"Hmm sekarang enak ya Umma, kita punya rumah, tingkat lagi, Maryam punya kamar sendiri dan banyaaaak mainan, kita punya mobil juga, jadi Umma ga capek-capek dan kepanasan juga kehujanan naik sepeda," ucap Maryam mengenang semuanya.
"Iya Alhamdulillah, rezeki dari Allah nak, kita harus banyak-banyak bersyukur, caranya gimana bersyukur?"
"Ucap Alhamdulillah," sahut Maryam.
"Iya, salah satunya dengan mengucap Alhamdulillah, tapi jangan lupa merawat dengan baik, karena itu juga merupakan bentuk syukur kepada Allah, caranya kamarnya dibersihkan, mainannya selesai main di rapikan, ya sayang ya,"
"Em...baik Umma,"
"Yuk, sekarang kita makan," ucap Zia yang telah menyajikan ayam goreng saus mentega dan Cha sayuran.
"Wah ayam, hmm sepertinya enak Umma," ucap Maryam dengan mata berbinar.
"Cobain aja sayang," ucap Zia yang mengambilkan nasi untuk piring Maryam dan piringnya juga.
Zia tiba-tiba teringat ketika masih tinggal di kontrakan tiga petak dulu, waktu Maryam ingin makan lauk ayam, ia hanya mampu membeli sepotong, Zia menunggu Maryam selesai makan, agar bisa menghabiskan sisa ayam Maryam.
Namun sekarang sekali masak ia bisa memasak setengah kilogram ayam sekaligus.
"Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban ( Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan)," lirih Zia.
Selesai makan siang Zia menemani Maryam bermain di ruang tengah, sementara dia menjahit kurta untuk suaminya. Kini menjahit sudah menjadi hobi saja bagi Zia, kalau dulu sebagai mata pencaharian, kini Zia ingin fokus mengurus rumah dan Maryam saja, tentu mengurus suaminya ketika di rumah. Karena uang belanja dan nafkah yang diberikan oleh Rayhan sudah lebih dari cukup untuknya dan Maryam.
__ADS_1
Kini Zia paham betul capeknya Alfina, pasti setiap hari kewalahan dengan Rayhan, apalagi Alfina juga mengurus tiga orang anak yang ada di rumah. Alfina juga perlu istirahat, begitu juga Zia menganggap giliran Rayhan di rumah kakak madunya itu sebagai masa istirahatnya, meskipun begitu, terbesit rasa rindu dengan kehadiran Rayhan di rumah ini.
"Umma telpon Abi gih, katanya mau minta izin Abi kalau kita mau keluar jalan-jalan," pinta Maryam yang sudah tidak sabar.
Zia mengambil ponselnya, mencari kontak yang ia beri nama, Mas Ray surgaku... Zia hendak menelpon, namun takut mengganggu saat Rayhan bersama Alfina.
"Aku kirim pesan aja, nanti kalau sudah selesai pasti dia jawab," gumam Zia.
"Bismillah...Mas Ray, aku mau minta izin membawa Maryam jalan-jalan keluar, dia ingin bermain di tempat bermain di mall,"
Zia sudah mengirim pesan itu kepada Rayhan, dan benar saja tidak langsung di jawab. Zia meletakkan kembali ponselnya dan meneruskan menjahit.
Maryam yang asyik bermain boneka, tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan kembali bertanya pada Zia.
"Udah diizinin Umma?" tanya Maryam.
"Sabar sebentar, Abi pasti lagi sibuk," sahut Zia.
"Kok lama ya...apa karena Abi ga sayang sama Maryam? Maryam kan bukan anaknya Abi..." cicit Maryam.
"Ssst ..kok ngomong gitu, Abi itu sayang sama Maryam, buktinya Maryam dibikinin kamar sendiri, mainan yang banyak, Abi lagi sibuk sayang, nanti juga dibalas," tutur Zia membujuk Maryam.
"Maryam, biasakanlah memberi udzur pada orang lain, jangan berpikiran buruk, pikir saja sekarang Abi lagi kerja untuk kita untuk Sulaiman, untuk ummi Alfina, dan saudara-saudara Maryam yang lain," Zia dengan sabar memberikan pengertian.
"Iya Umma," sahut Maryam, ia pun pergi dan duduk di sofa dengan boneka kelincinya.
Dua jam berlalu, akhirnya Rayhan membalas juga.
"Tuh kan, mas Ray lagi sibuk sama mba Al," lirih Zia, yang membuka pesan dari Rayhan.
"Iya, pergilah, tapi pulangnya jangan malam-malam, nanti aku telpon kalian, aku merindukanmu,"
Zia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
"Bisa-bisanya ngomong rindu, padahal di sebelahnya ada istrinya juga, dasar lelaki," gumam Zia.
Zia membalikkan badan hendak memanggil Maryam, namun gadis kecil itu rupanya tertidur di sofa.
Zia tidak tega membangunkannya, namun ingat pesan Rayhan tadi jika mereka tidak boleh pulang malam-malam. Maka dengan berat hati ia bangunkan gadis kecil itu.
__ADS_1
"Maryam, bangun yuk," Zia membangunkan Maryam dengan lembut, perlahan anak itu menggeliat dan terbangun.
"Umma," ucapnya.
"Yuk, siap-siap, kita mandi, sholat ashar dan berangkat jalan-jalan,"
"Abi sudah izinkan?" tanya Maryam dengan mata berbinar. Zia mengangguk, Maryam yang tadinya mengantuk jadi semangat dan melek seperti lampu seratus Watt.
Setelah mereka bersiap, akhirnya berangkat juga, namun Zia tidak membawa Maryam ke mall, tapi ke mini market dekat masjid agung, karena sebentar lagi Maghrib, dan tidak ingin ketinggalan sholatnya, maka mereka bermain di sana, mini market itu juga ada wahana permainannya, seperti mandi bola, memancing ikan-ikanan, mewarnai gambar, permainan pasir sintesis dan sebagainya.
Maryam bermain dengan gembira, Zia duduk di bangku tempat penunggu mengawasi Maryam.
Drrt...drrtttt.... Ponsel Zia bergetar, rupanya panggilan video dari Rayhan. Zia segera menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum Mas," sapa Zia, terlihat wajah segar suaminya yang baru mandi.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, kamu dimana Zi?" tanya Rayhan di seberang.
"Di mini market dekat masjid agung, bentar lagi Maghrib, aku ga ingin ketinggalan sholat Maghrib, di dalam mall ga denger adzan," sahut Zia.
"Maryam mana?" tanya Rayhan.
"Maryam, lagi main mandi bola, itu tuh," Zia mengarahkan kamera pada Maryam.
"Wah, seneng dia," ucap Rayhan.
"Iya Mas, sudah biasa rame-rame sama mba Aisyah, adik Fatimah, dan mas Sulaiman, sekarang sendirian lagi, makanya dia tadi merengek minta keluar rumah,"
"Oh gitu, sabar dulu ya Zi, in syaa Allah dua hari lagi aku temani kalian,"
"Iya Mas, Mba Al gimana kabarnya?" tanya Zia.
"Alhamdulillah sehat, kamu juga sehat-sehat ya,"
"Baik Mas,"
"Oke aku bersiap ke masjid dulu, kamu juga segera sholat sama Maryam, jaga diri baik-baik, assalamualaikum," pungkas Rayhan dengan melambaikan tangannya.
"Waalaikumussalam Mas," Zia juga melambaikan tangannya dan mengakhiri panggilan video itu.
__ADS_1