
Hari ini adalah hari Sabtu dan anak-anak libur sekolah. Zia menyiapkan sarapan pagi di dapur, sedangkan Maryam sedang bermain-main bersama Rayhan di teras rumah. Rayhan sangat menyayangi Maryam begitu pula Maryam yang sangat rindu sekali dengan sosok seorang ayah. Dan Maryam sangat bersyukur dan bahagia bisa mendapat ayah sambung yang baik dan menyayanginya seperti Rayhan.
"Sarapan sudah siap, yuk kita makan," ucap Zia.
Rayhan dan Maryam yang mendengarnya segera masuk ke dalam rumah.
"Itu umma sudah panggil kita makan, yuk kita makan Maryam," ucap Rayhan.
"Yuk Abi, tapi Maryam boleh minta gendong sama Abi?" pinta Maryam.
"Tentu boleh dong anak Abi sayang," ucap Rayhan seraya membawa Maryam ke dalam gendongannya.
"Hmmm... Baunya harum sekali ya, Umma masak apa ya ini?" tanya Rayhan.
"Ini dia nasi goreng spesial sama telur mata sapi," sahut Zia yang menyajikan tiga piring nasi goreng di atas meja makan.
"Yuk kita makan jangan lupa Maryam baca bismillah ya," ucap Rayhan.
"Baik Abi... Bismillah," ucap Maryam.
Mereka bertiga menyantap sarapan itu dengan sangat nikmat.
"Mas... nanti Mas Ray dan Mbak Al jam berapa acara reuniannya?" tanya Zia.
"Jam 10.00 mungkin sampai setelah makan siang, nanti titip anak-anak ya Zi," jawab Rayhan.
"Baik Mas semoga anak-anak nanti betah di sini dan nggak rewel minta pulang," sahut Zia.
"Insya Allah nggak akan rewel, Sulaiman kan sudah terbiasa di sini, kalau Aisyah itu gampang anaknya, dan kalau Fatimah yang penting ada kakak-kakaknya dia akan aman dan nggak rewel," ucap Rayhan.
Setelah selesai makan Zia membantu Raihan siap-siap untuk pergi ke reuni sedangkan Maryam sudah bermain di ruang tengah.
"Kamu nggak pa pa Zi?' tanya Rayhan ketika Zia membantu mengancingkan kancing kemejanya.
"Ya nggak apa-apa mau bagaimana lagi Mas namanya juga cuma istri yang kedua," sahut Zia.
"Jangan gitu dong Zi meskipun yang kedua tapi kamu tetap istri sah aku di mata hukum dan agama," ucap Rayhan.
__ADS_1
"Dan percayalah aku mencintaimu sama halnya aku juga mencintai Alfina, aku mencintai kalian karena Allah," lanjut Rayhan.
"Iya Mas aku sangat mempercayai Mas Ray makanya aku di sini tenang-tenang saja aku nggak peduli apa kata orang yang penting kita yang menjalaninya," ucap Zia.
"Nah begitu kamu hari ini membantuku menjaga anak-anak, aku ucapkan terima kasih sebelumnya jazakillahu Khairan zaujaty," ucap Rayhan.
"Wa jazakallahu Khairan, udah beres udah ganteng, cium dulu mas." ucap Zia yang menyodorkan pipinya pada Rayhan.
Raihan yang merasa gemas pada dia menangkup kedua pipi sia dan menciumi seluruh wajahnya. "Muah muah muah muah..."
"Udah mas... udah itu mbak Alfina sudah datang, yuk kita turun," ajak Zia.
Zia pun turun bersama Raihan dan benar saja Alfina sudah ada di ruang tengah bersama anak-anak.
"Dek Zia aku mau minta tolong ya, jadi nggak sengaja ujung gamisku nggak tahu kena apa ini jadi kotor hitam-hitam gitu, aku mau pinjem gamis kamu boleh?" tanya Alfina sembari memperlihatkan ujung gamisnya pada Zia dan Rayhan.
"Boleh ayo aku antar ke atas Mbak gamis-gamisku ada di atas semuanya," sahut Zia.
Dan Zia diikuti oleh Alfina pergi ke atas menuju kamar Zia dan Rayhan.
Ketika sampai di kamar dia menunjukkan kamar ganti pada Alfina.
"Baik dek," sahut Alfina.
"Kalau begitu aku tinggal ke bawah dulu ya Mbak, Mbak Al santai aja pilih-pilih yang mana pun juga boleh, aku mau siapin camilan buat anak-anak dulu," ucap Zia.
"Baik, makasih dek Zia," sahut Alfina.
Zia pun meninggalkan Alfina di ruang ganti itu sendirian. Alfina melihat sekeliling kamar ganti itu, di sana lemari-lemari kaca itu terlihat bagus dan kokoh, di dalamnya terdapat baju-baju Zia dan Rayhan, Alfina tidak pernah menyangka bahwa pakaian suaminya akan berada di lemari perempuan lain seperti sekarang, begitu juga krim rambut dan parfum yang biasa dipakai Raihan tertata rapi di atas meja rias di samping Skin Care dan make up milik Zia.
Setelah Alfina berganti pakaian dengan baju milik Zia, dia keluar dari kamar ganti itu, dan sekarang yang dia lihat adalah kasur besar dengan sprei bunga warna pink,
"Ini adalah kendaraan di mana Mas Rayhan membawa Zia menuju Surga Cinta... Aku harap Zia tidak mencuri Mas Rayhan dariku, Aku harap dia mengingat di mana Posisiku juga," lirih Alfina. Kemudian dia keluar dari kamar itu dan turun menuju lantai bawah.
"Wah baju Zia juga cukup kamu pakai Al, oh iya kalian kan sama ukurannya," ucap Rayhan ketika melihat Alfina turun dari atas.
"Iya, maaf ya dek Zia aku jadi merepotkan mu," ucap Alfina.
__ADS_1
"Ah Nggak kok Mbak, Mbak Al kan kakakku jadi boleh pakai bajuku yang mana saja, oh iya baju kotornya sini aku cuci sekalian," ucap Zia.
"Jangan Dek biar aku cuci sendiri di rumah," sahut Alfina.
"Ya udah bajunya dimasukin sini aja Mbak," ucap Zia seraya menyerahkan sebuah paper bag pada Alfina.
"Oke makasih ya jazakillah khairan," sahut Alfina.
"Wa jazaakillaahu khoiron, sudah cepat berangkat sana kalian nanti telat loh reuniannya,"
"Iya aku tinggal dulu ya Zi, titip anak-anak," ucap Raihan kemudian mengecup pucuk kepala Zia, Zia hanya tersenyum dan mengangguk sedangkan Alfina yang melihatnya juga ikut tersenyum.
"Kami pergi dulu ya Dek, anak-anak ummi sama Abi pergi dulu ya, Assalamualaikum," pamit Alfina.
"Wa'alaikumussalam," sahut Zia dan anak-anak, Alfina pun bersama Raihan pergi.
Sia menyajikan buah-buahan yang dipotong-potong untuk anak-anak dan mereka semua menyukainya.
"Anak-anak, Uma mau mencuci di belakang ya, Mbak Aisyah minta tolong adiknya dijagain, kalau ada apa-apa, kalau ada perlu panggil Uma di belakang ya," ucap Zia kepada anak-anak.
"Baik Uma," sahut mereka semua hampir bersamaan.
10 menit kemudian Aisyah bersama Fatimah pergi menyusul Zia yang sedang menjemur pakaian di belakang.
" Umma, Fatimah mau poop," ucap Aisyah.
"Oh iya sama Umma, Umma antar ke kamar mandi ya," ucap Zia.
"Baik Umma," sahut Fatimah.
Zia menunggu Fatimah di depan kamar mandi, dari ruang tengah Sulaiman berteriak memanggil Zia.
"Umma aku ingin minum jus,"
"Aku juga umma," ucap Maryam.
"Baik Sayang umma akan segera bikinkan," ucap Zia yang bergegas ke dapur, tak lupa berpesan kepada Fatimah agar jika selesai memanggil Zia.
__ADS_1
"Ah ternyata begini rasanya Mbak Alvina dulu waktu satu pekan merawat anak-anak sendirian," lirih Zia.