
"Oke aku bersiap ke masjid dulu, kamu juga segera sholat sama Maryam, jaga diri baik-baik, assalamualaikum," pungkas Rayhan dengan melambaikan tangannya.
"Waalaikumussalam Mas," Zia juga melambaikan tangannya dan mengakhiri panggilan video itu.
Zia hendak menyimpan benda pipih persegi panjang itu ke dalam tasnya kembali. Namun tak disangka, karena tempat itu ramai, ada yang menabraknya dari belakang.
"Eh maaf...maaf kak," ucap seorang pria yang tak sengaja menabraknya.
"Ah iya, Ndak pa pa, ah ponsel aku," ucap Zia seraya memungut ponselnya yang terjatuh. Dan layarnya pecah di sudut.
"Oh layarnya pecah, ah aku harus bertanggung jawab, akan aku ganti, tapi tidak bisa sekarang," ucap pemuda yang usianya kira-kira lima tahun di bawah Zia.
"Ga pa pa, cuma pecah sedikit, masih bisa digunakan kok," Zia menolaknya.
"Plis kak, aku ga enak jadinya, aku yang nabrak kakak, karena buru-buru, besok hari akad nikahku, aku harus segera pulang, gini aja aku simpan kontak kakak, aku akan segera hubungi setelah urusanku selesai," ujar pemuda itu.
Zia berpikir sejenak, pemuda ini sepertinya bukan orang jahat, dan dia segera menikah, pasti cuma menghubunginya mengenai ponsel ini saja. Mana sudah adzan Maghrib lagi...
"Baiklah," ucap Zia, kemudian mereka bertukar nomor ponsel.
"Aku kasih nama siapa ini?" tanya pemuda itu.
"Zia," sahut Zia.
"Aku Rayhan," ucap pemuda itu.
"Hah...kenapa bisa sama namanya...." batin Zia.
"Sudah ya kak, aku pamit dulu, doakan acara akad nikahku lancar," pamit pemuda itu dan berlari menghilang ditelan kerumunan orang.
Zia memanggil Maryam dan segera ke masjid untuk sholat Maghrib. Setelah sholat, Zia mengajak Maryam untuk pulang, namun gadis kecil itu masih enggan dan meminta kembali ke tempat permainan tadi.
"Hmm karena Abi melarang kita pulang malam-malam, jadi kita harus pulang sayang," ucap Zia.
"Tapi ummaa..." rengek Maryam.
Zia juga tidak sampai hati mengecewakan Maryam yang masih ingin bermain, tapi amanah dari suaminya juga harus ia lakukan.
"Begini saja, kita mampir ke kedai pizza yang dulu Maryam pengen itu, kita beli yang kecil, terus dibawa pulang," ucap Zia mencoba membujuk Maryam.
__ADS_1
"Iya kah Umma? Pizza yang mahal itu? Wah Maryam mau, Maryam belum pernah makan," ucap Maryam kegirangan.
"Oke, kita masuk mobil ya," ajak Zia. Setelah itu Zia membawa Maryam ke kedai pizza hot dan memesan satu pan kecil pizza untuk dibawa pulang.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah. Di perjalanan, mereka melewati kantor properti milik Rayhan. Terbesit rindu di hati Zia, ingin sekali berada di sisi suaminya. Namun kembali lagi, Zia mencoba menyadari bahwa suaminya bukan miliknya seorang.
Sesampainya di rumah, ternyata si kecil Maryam sudah terlelap di kursi penumpang. Zia turun terlebih dahulu untuk mengunci pagar dan membawa tasnya masuk, dan kembali lagi ke dalam mobil untuk menggendong Maryam.
Rayhan dari ponselnya melihat rekaman cctv di rumah Zia, ia terlihat Zia bersusah payah menggendong Maryam, sambil satu tangannya memencet remote control untuk mengunci mobil.
"Zia..." lirih Rayhan. Hatinya iba melihat istri barunya itu. Namun dia harus memikirkan Alfina juga. Rayhan menutup ponselnya dan meletakkan di atas meja.
Alfina telah datang dengan secangkir kopi dan duduk di samping Rayhan.
"Mas ga telpon dek Zia?" tanya Alfina.
"Sudah, tadi aku sudah menelpon dia," sahut Rayhan yang menyeruput kopi yang dibawakan oleh Alfina tadi.
"Telpon lagi Mas," ucap Alfina.
"Kenapa sih Al?" Rayhan bertanya kenapa Alfina keukeuh meminta Rayhan menelpon adik madunya.
"Al aku tahu maksud kamu baik, tapi apa menurut kamu aku hanya membutuhkanmu untuk itu?" tanya Rayhan.
"Terus... apalagi? Aku takut mas tidur dengan kecewa," ucap Alfina.
"Tidak seperti itu, selama tiga belas tahun ini aku selalu menemanimu, apalagi hari-hari pertama kamu haid, pasti sakit pinggangnya, aku bantu pijat ya," tutur Rayhan.
"Iya Mas," ucap Alfina sembari tersenyum, sebenarnya dia juga sedih jika Rayhan meninggalkannya malam ini.
"Yuk kita ke kasur, aku pijat pinggangmu,"
.
.
Pagi hari, Maryam sudah bersiap untuk sekolah. Dia tengah sarapan bersama Zia.
"Umma, kita berangkat jam berapa? Ini juga belum ada jam tujuh kan?" tanya Maryam.
__ADS_1
"Iya, sebentar lagi Abi datang jemput Maryam untuk ke sekolah," jawab Zia.
"Kok pagi sekali Umma, biasanya jam tujuh lebih kan?" tanya Maryam lagi.
"Iya, kan sekalian antar Mba Aisyah, mba Ais kan masuknya jam tujuh sayang, jadi harus berangkat sebelum jam tujuh, kamu sama Sulaiman nanti nunggu sebentar ga pa pa kan?"
"Iya Umma," ucap Maryam kemudian meminum susu yang telah dibuat oleh Zia.
Blek...suara pintu mobil ditutup. Zia tahu itu pasti Rayhan bersama Sulaiman dan Aisyah.
"Itu Abi datang, yuk berangkat," Zia segera memakaikan tas di punggung Maryam, dan memakai jilbab dan cadarnya lalu keluar menemui Rayhan.
"Assalamualaikum," sapa Rayhan dengan senyum lebarnya.
"Waalaikumussalam Mas," Zia mencium punggung tangan suaminya.
"Maryam masuk dulu ke mobil ya, Abi mau minum sebentar," ucap Rayhan.
"Baik Bi," sahut Maryam yang dengan senang naik ke mobil bersama Sulaiman dan Aisyah.
"Antar aku ke dalam sebentar," Rayhan menggandeng tangan Zia, yang mau tak mau mengikuti di belakang Rayhan.
Sesampainya di dapur, Rayhan tidak mengambil minum, melainkan memeluk Zia.
"Mas..." Zia terkejut Rayhan tiba-tiba memeluknya.
"Aku kangen kamu Zi..." Rayhan belum juga melepaskan pelukannya.
"Iya nanti mas Ray pulang ke sini kan? Udah Mas, nanti Ais telat masuk sekolah," ucap Zia.
"Ah iya, cepat ambilkan aku air," ucap Rayhan. Zia segera mengambil air minum untuk Rayhan, Rayhan sudah duduk manis di kursi makan.
"Ini Mas," ucap Zia. Rayhan meminumnya hingga tandas.
"Mas Ray sudah sarapan?" tanya Zia.
"Sudah sayang, oke, aku berangkat dulu, kamu di dalam aja ya," ucap Rayhan.
"Baik Mas," ucap Zia patuh. Rayhan segera pergi dan mengantar anak-anak ke sekolah, lalu pergi ke kantornya.
__ADS_1
Setelah Rayhan dan anak-anak pergi, Zia membereskan dapur. Kemudian ke atas, mengganti sprei, membersihkan kamarnya, karena malam ini Rayhan akan pulang kemari.