Aku Jadi Yang Kedua

Aku Jadi Yang Kedua
Delapan


__ADS_3

Siang ini Alfina ada di kedai ayam goreng, ia bersama Amala keponakannya yang ingin membantu di kedai ayam goreng milik Alfina itu. Dengan telaten Alfina mengajari bagaimana membuat campuran tepung dan adonan untuk ayam goreng, juga bagaimana cara kerja mesin kasir, membuat minuman, dan sebagainya. Rencananya Alfina dan Rayhan ingin mempekerjakan satu karyawan lagi untuk menjaga kedai itu, karena sesungguhnya Alfina telah lelah bekerja di rumah.


Dulu alasan ia membuka kedai adalah daripada ia berpangku tangan di ruko yang Rayhan sewa untuk beristirahat menunggu Aisyah dan Sulaiman pulang sekolah. Sulaiman yang masih TK pulang sekolah setelah dhuhur, sedangkan Aisyah yang SD pulang setelah ashar. Jarak dari rumah ke sekolah yang lumayan jauh, membuat Rayhan memutuskan untuk menyewa ruko untuk tempat istirahat, disitulah Alfina mencari kesibukan di sana.


Karena ada rencana Rayhan yang menikah lagi, maka Alfina tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk menemani Sulaiman. Nantinya Sulaiman bisa dititipkan di rumah adik madunya sambil menunggu jam pulang sekolah Aisyah.


"Gimana Mala? Bisa ya? Ada kesulitan?" tanya Alfina pada Amala.


"Ya masih belum terbiasa, sambil jalan aja Tante Al, kalau ada kesulitan Mala akan tanya," sahut Amala..


"Baiklah in syaa Allah besok biar dibuatkan standar prosedur operasional sama om Rayhan, terus ditempel di dinding sini, biar kamu mudah bacanya, dan semoga secepatnya kamu dapat teman, biar aku bisa tenang, soalnya sebentar lagi aku akan sibuk dengan sesuatu, mau tutup kedai kok eman, udah banyak pelanggan Alhamdulillah," ucap Alfina.


"Iya Tante," ucap Amala.


Alfina membuka ponselnya yang bergetar di saku celemek masaknya. Ternyata Zia yang mengirim pesan, Zia memberitahu bahwa orang tuanya ingin bertemu dengan Rayhan. Maka dia menelpon Rayhan.


Rayhan : "Halo Assalamualaikum Al,"


Alfina : "Waalaikumussalam Mas, dimana sekarang?"


Rayhan : "Aku lagi di kantor, ada apa Al?"


Alfina : "Sibuk ga Mas?"


Rayhan : "Ga juga sih, baru selesai tanda tangan jual rumah, ini aku juga mau ke sana Al, sebentar lagi,"


Alfina : "Itu Mas, e... orang tuanya dek Zia ada di rumah dek Zia sekarang, dan minta ketemuan sama Mas Rayhan, gimana?"


Rayhan : "Iya aku ke sana, setelah sholat dhuhur in syaa Allah, sama kamu kan perginya?"


Alfina : "Mas pergi sendirian gimana? Aku masih ngajarin Amala,"


Rayhan : "Oh iya, ya udah aku sendirian ga pa pa, apa enaknya aku ajak Sulaiman dan Fatimah ya?"


Alfina : "Boleh juga sih Mas, aku siapin anak-anak dulu sekarang,"

__ADS_1


Alfina menutup sambungan teleponnya, dan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku, kemudian buru-buru menyiapkan Sulaiman dan Fatimah untuk diajak Rayhan ke rumah Zia.


"Mau kemana sih Mi?" tanya Sulaiman.


"Sulaiman dan Fatimah temani Abi ke rumah Maryam ya," ucap Alfina.


"Emang benar ya Mi... Abi mau menikah dengan Ummanya Maryam?" tanya Sulaiman.


"Harapan kami sih begitu Sulaiman sayang, kan Sulaiman tidak keberatan ya waktu ummi dan Abi tanya dulu itu?"


"Nggak keberatan sih Mi, tapi apa nanti Abi tetap sayang sama Sulaiman, Fatimah, Mba Ais, juga Mba Dija?" tanya Sulaiman.


"Tentu saja nak, in syaa Allah Abi akan tetap menyayangi kalian semua sama seperti sekarang, juga akan menyayangi Maryam, jangan khawatir ya,"


"Iya Umma," sahut Sulaiman.


"Tin..." suara klakson mobil Rayhan yang memasuki pelataran ruko mereka.


"Tuh Abi datang, yuk kita keluar," ucap Alfina yang membawa anak-anak keluar ruko.


"Sudah siap semuanya?" tanya Rayhan.


"Iya aku tahu Sulaiman dan Fatimah sudahrapi, yang aku tanya itu kamu, sudah siap berbagi suami?" tanya Rayhan. Alfina mengangguk dan tersenyum di balik cadarnya.


"Oke, kami berangkat, yuk Sulaiman, Fatimah," ajak Rayhan.


"Tunggu Mas," Alfina mencegah Rayhan pergi dahulu, ia berlari menuju kedai dan kembali membawa tas plastik berisi 1 box ayam goreng.


"Ini Mas, daripada ga bawa apa-apa, ada beberapa potong ayam goreng, dadakan sih, adanya ayam dibawa aja ya," ucap Alfina.


"Oke," ucap Rayhan seraya menerima tas plastik itu.


"Mas, semoga dimudahkan Allah ya, aku doakan dari sini," ucap Alfina yang mencium punggung suaminya dengan takzim.


"Aamiin, kami berangkat ya Al, assalamualaikum," ucap Rayhan.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, fii amanillaah ( semoga Engkau dalam lindungan Allah) Mas," sahut Alfina.


"Maasalamah ( semoga keselamatan juga menyertaimu)," jawab Rayhan.


Rayhan sampai di halaman rumah kontrakan Zia. Tidak seperti biasanya, pintu rumah yang selama ini selalu tertutup siang itu terbuka.


Dari dalam bapak Zia sudah menunggu, bapak melihat mobil Outlander warna hitam tengah berhenti di halaman rumah itu. Dan seorang pria gagah, berjenggot, memakai peci rajut putih, memakai kurta warna abu-abu muda dan celana sirwal hitam turun bersama dua anak laki-laki dan perempuan.


"Assalamualaikum," sapa Rayhan yang menggandeng Sulaiman dan Fatimah.


"Waalaikumussalam, silakan masuk," jawab bapak.


Zia dan ibu juga mendengar Rayhan datang ikut ke ruang tamu karena mengira Alfina juga ikut.


Rayhan menjabat tangan bapak, juga Sulaiman dan Fatimah.


"Kenalkan, saya Rayhan Pak," ucap Rayhan yang sedikit gugup.


"Oh iya nak Rayhan, saya bapaknya Iko, ini ibunya," ucap Bapak.


"Iko?" tanya Rayhan merasa bingung, siapa Iko??


"Zia maksud bapak, namanya Risqo Fauziah, dulu waktu kecil dipanggil Iko, tapi dia merasa seperti panggilan laki-laki, jadi minta dipanggil Zia, tapi bapak sudah kadung terbiasa dengan Iko," kata bapak menjelaskan.


"Ah...iya," sahut Rayhan.


"Mba Al mana?" tanya Zia yang baru pertama kali itu mengajak Rayhan bicara, kalau ga penting sangat untuk bertanya, mungkin sampai menikah nanti mereka baru saling bicara.


"Oh iya, Alfina, istri saya sedang melatih karyawan baru untuk memasak ayam di kedai, ini tadi Alfina bawakan ayam goreng, maaf bapak, ibu, karena mendadak, kami tidak menyiapkan apapun," ucap Rayhan seraya menyerahkan box ayam goreng tadi.


"Oh iya terima kasih nak Rayhan, oh iya sampai lupa, silakan duduk, tapi maaf lesehan di karpet ya," ucap bapak.


"Ah iya Pak, Ndak pa pa," ucap Rayhan segera duduk bersila di karpet di ruang tamu itu, sebenarnya bukan ruang tamu juga, tapi ruangan depan yang dipakai Zia menjahit.


Zia mengajak Sulaiman dan Fatimah ke belakang agar bapak leluasa berbincang dengan Rayhan.

__ADS_1


"Saya tadi diberitahu Iko, kalau ada yang mau memperistri dia, tapi lelaki ini sudah beristri, apakah benar begitu?" tanya bapak.


Dag dig dug ... dag dig dug... Rayhan gugup tak karuan, dia bilang apa ya enaknya biar bapak tidak marah atau tersinggung....


__ADS_2