Aku Jadi Yang Kedua

Aku Jadi Yang Kedua
Dua Puluh Satu


__ADS_3

"Mas, aku pusing," ucap Zia yang memegangi pangkal hidungnya.


"Oke kamu istirahat aja, aku ambilkan makan dan bawa kemari," ucap Rayhan. Tak ada sahutan dari Zia, Rayhan segera keluar dari kamar itu.


"Zia mana?" tanya mama Hasna.


"Di kamar Ma, ga enak badan," sahut Rayhan yang mulai mengambil makanan di atas piring.


"Manja banget sih mas istri kamu yang ini," celetuk Mba Santi.


"Namanya juga ga enak badan, emang kamu apain aja sih? Perasaan tadi juga baik-baik saja pas masak sama mama," tanya mama Hasna.


Rayhan tersenyum simpul, dengan malu-malu ia pun menjawab.


"Aku buat dia mandi dua kali Ma," sahut Rayhan.


"Ya pantas saja, mana cuaca juga lagi panas berangin gini, jangan macem-macem kamu sama anak orang Ray," pesan mama Hasna.


"Iya Ma," sahut Rayhan sambil cengengesan.


"Kamu itu udah punya anak lima masih aja cengengesan dibilangin mama,"


"Iya Ma, maaf, aku makan di kamar dulu sama Zia," ucap Rayhan sambil lari ngibrit ke kamarnya sebelum terkena omelan sang mama lagi.


"Zi, bangun sebentar Zi," ucap Rayhan membantu Zia duduk bersandar di tempat tidur, punggung tangan Rayhan menyentuh kening Zia, mengecek apakah Zia sedang demam.


"Subhanallah, panas sekali badan kamu Zi," kata Rayhan.


Zia, hanya terdiam, mengerutkan keningnya, matanya terasa panas, badannya ngilu semua.


"Makan sedikit ya, habis itu aku ambilkan obat," Zia hanya mengangguk.


Dengan sabar, Rayhan menyuapi Zia, rasa bersalah muncul dibenaknya, karena ulahnya Zia jadi sakit seperti ini.

__ADS_1


Setelah beberapa suap, Zia merasa mual, ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang baru ia makan. Rayhan memijat tengkuk Zia agar ia merasa lebih baik. Setelah mualnya reda, Zia berdiri, namun terasa pusing dan tiba-tiba pandangan menjadi gelap. Zia pingsan. Rayhan segera menggendongnya ke kamar dan merebahkan tubuh Zia di atas tempat tidur, lalu berlari memanggil mama Hasna.


"Ma ..mama!!" panggil Rayhan yang panik.


Dan dari pintu depan, papa Rendra masuk, rupanya beliau sudah pulang kerja dari rumah sakit.


"Pa, tolong Zia Pah," pinta Rayhan.


"Kenapa Zia?" tanya papa Rendra.


"Zia pingsan Pa," sahut Rayhan yang menyambar lengan ayahnya dan membawanya ke dalam kamar, mama Hasna yang melihatnya juga ikut masuk ke dalam kamar Rayhan.


"Dari tadi pingsannya?" tanya papa Rendra.


"Barusan, dia aku suapin, tapi sepertinya mual, dia muntahin semuanya di kamar mandi, pas berdiri langsung pingsan," jawab Rayhan.


"Kamu itu nakal sekali Ray, punya istri dikerjain terus, kecapekan yang ada," gerutu mama Hasna yang sudah berada di kamar itu juga


"Ma, ambilkan peralatan di troli emergency," pinta papa Rendra.


"Ini Pa," ucap mama Hasna yang menaruh troli emergency di dekat tempat tidur Zia.


Papa Rendra segera memberikan cairan infus pada Zia dan memasukkan vitamin juga penurun panas pada infus itu.


"Sudah Ray, kamu temani Zia istirahat," pesan papa Rendra.


"Baik Pah," sahut Rayhan, setelah papa mamanya keluar dari kamar itu, Rayhan duduk di sebelah Zia dan memegang tangannya.


"Mas Ray," lirih Zia.


"Hmm apa Zi? Kamu mau sesuatu?" tanya Rayhan ketika melihat istrinya membuka matanya.


Zia tersenyum kecil dan menggeleng.

__ADS_1


"Aku ngantuk, temani aku sebentar ya," pinta Zia.


"Iya Zi, tidurlah, aku temani di sini,"


.


.


.


Sementara di rumah Alfina....


Anak-anak seperti biasa sedang bermain di ruang tengah. Alfina menemani mereka dengan sabar.


"Sudah jam dua anak-anak, tidur siang semua yuk," ucap Alfina yang terlihat juga lelah.


"Iya ummi," jawab para bocil dengan serempak.


Alfina tersenyum mendengar kekompakan mereka menyahut, kemudian bersama-sama mereka membereskan mainan yang menghambur seperti kapal pecah.


Setelah itu Alfina mengantarkan anak-anak tidur di kamar mereka. Setelah semua terlelap, Alfina pergi ke kamarnya. Bersih-bersih sebisa mungkin, menyiapkan baju tidur malam, dan bersiap untuk mandi luluran. Karena malam nanti menjadi gilirannya setelah satu pekan Rayhan bersama Zia.


Tentu saja ia sangat bahagia, setelah ia beristirahat dan bersabar, tiba juga hari dimana suaminya akan pulang dan berada di sampingnya kembali. Kerinduan sudah memenuhi dadanya untuk dicurahkan kepada suami tercinta.


"Mungkin ini juga hikmah dari mas Rayhan menikah lagi, aku jadi lebih rajin, lebih ingin menampilkan diriku sebaik mungkin, dan melayaninya sebaik mungkin juga," ucapnya sambil tersenyum-senyum.


Setelah mandi, Alfina kembali ke kamar, dan berganti pakaian. Lalu ia meraih ponsel dan duduk selonjoran di atas tempat tidur. Menggeser geser layar benda pipih persegi panjang itu, dan menemukan pesan dari suami tercinta.


"Al, maaf aku belum bisa pulang malam ini, ini aku di rumah mama, dan Zia sedang sakit," pesan Rayhan pada Alfina. Di sana juga Rayhan mengirim foto Zia yang sedang tertidur dengan jarum infus menancap di punggung tangan kirinya.


Alfina menghembuskan nafas, dan beristighfar berulang kali, mencoba meredakan segala rasa kecewa dan kesedihannya.


"Alhamdulillahi ala kulli haal ( segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan," ucapnya.

__ADS_1


"Iya Mas, sakit apa dik Zia, syafaahallaah ( semoga Allah memberikan kesembuhan kepadanya )," balas Alfina.


Ia kemudian memelorotkan tubuhnya hingga berbaring sempurna, menutup matanya, tertidur hingga sore hari.


__ADS_2