Aku Jadi Yang Kedua

Aku Jadi Yang Kedua
Dua Puluh Enam


__ADS_3

Drrrrt....drrt....ponsel Zia bergetar dibatas nakas dia sebelah Rayhan. Rayhan mengambil ponsel itu dan mengernyitkan dahinya setelah melihat siapa yang menelepon istri mudanya itu.


"Siapa Mas yang telpon malam-malam begini?" tanya Zia.


"Rayhan? Siapa Rayhan?" tanya Rayhan.


"Biarin aja Mas, ga usah diangkat, aku mau cerita ke Mas Ray dulu," ucap Zia. Rayhan membiarkan panggilan itu berhenti sendiri kemudian me non aktifkan ponsel Zia.


"Jadi waktu jalan-jalan sama Maryam ke tempat permainan kemarin, Mas Ray kan video call aku, lha pas selesai, aku mau masukin ponsel aku ke tas, tiba-tiba dari belakang, ada yang nubruk aku, jadi ponsel aku jatuh, itu sudutnya pecah,"


Rayhan beralih ke ponsel Zia dan melihat salah satu sudutnya beneran pecah. Kemudian kembali memperhatikan penjelasan Zia lagi.


"Terus,"


"Terus katanya dia mau bertanggung jawab mau ganti ponselnya, tapi ga pas saat itu, karena dia buru-buru, besoknya mau akad nikah katanya,"


"Jadi ..."


"Ya, jadi dia minta kontak aku biar bisa hubungin aku lagi mengenai dia mau ganti ponsel ini,"


"Kenapa kamu kasih kontak kamu begitu saja Zi?"


"Aku udah bilang sama dia Mas, ga usah diganti, toh masih berfungsi dengan normal, dia ga enak katanya, terus aku lihat dia sepertinya juga bukan orang jahat, dia juga mau nikah saat itu, dan sekarang mungkin sudah menikah, jadi aku kasih aja nomor kontak aku,"


"Zia, besok aku belikan ponsel baru, kamu blokir nomor lelaki itu," ucap Rayhan tegas.


"Ga perlu Mas, ga perlu diganti ponselnya, masih bisa dipakai kok,"


"Tapi lelaki itu..."


"Mas Ray cemburu yaa..." goda Zia.


"Ya jelaslah, orang yang aku cinta bertukar nomor ponsel dengan lelaki lain," Rayhan manyun.


"Iya, Mas aja yang jawab nanti kalau dia telpon, atau kirim pesan, kita selesaikan muamalahnya dengan baik, ya,"


"Oke," sahut Rayhan.


"Mas enak banget sih bisa cemburu, kalau aku, masa iya aku mau cemburu sama mba Al," Zia terlihat sedih, dan Rayhan mengelus punggungnya.


"Kamu sebenarnya cemburu ga sih kalau aku sedang di rumah Alfina?" tanya Rayhan.


"Ya iyalah Mas, pasti cemburu, namun mau bagaimana lagi, aku kan ibarat kata cuma dipinjemin, ya harus ikhlas kalau pemiliknya ambil lagi, kan ntar juga dipinjemin lagi," jawab Zia.


"Sudah, yang penting malam ini aku untukmu, matikan lampunya Zi,"


.

__ADS_1


.


Keesokan paginya, Zia memasak di dapur, Maryam tengah menunggu Ummanya selesai memasak, dia duduk sendirian di ruang makan.


"Abi mana sih Umma? Kok dari Maryam bangun sudah ga lihat Abi, apa Abi sudah kembali ke rumah Sulaiman?" tanya Maryam.


Zia tersenyum mendengar celoteh anaknya itu.


"Abi sejak subuh tadi ke masjid sayang, setelah sholat subuh, biasanya abi nunggu matahari terbit, setelah itu baru sholat syuruq, nah baru pulang deh," jawab Zia.


"Assalamualaikum," ucap Rayhan yang baru saja dibicarakan.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," sahut Zia dan Maryam.


"Abi!!!" seru Maryam yang langsung melompat memeluk Rayhan. Rayhan terkejut dan tersenyum lebar, betapa terlihat anak sambungnya sangat senang dengannya, juga menyayanginya. Kemudian Rayhan membawa Maryam duduk di pangkuannya di kursi makan.


"Abi, kata Umma Abi sholat syuruq dulu, kenapa ga langsung pulang aja?" tanya Maryam.


"Karena Allah janjikan pahala yang besar bagi orang yang sholat syuruq atau sholat isyroq,"


"Dari Anas bin Malik, Rasulullah shalallahu alayhi wasallam bersabda...“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”," lanjut Rayhan.


"Oh begitu," sahut Maryam.


"Nah ini sarapannya sudah siap buat Maryam," Zia menyajikan sepiring nasi dengan orak-arik telur dan sayuran.


"Abi minum ini dulu sama Umma, sarapan aga nanti ya Mas, minum ramuan ini dulu," sahut Zia yang meletakkan mug berisi air hangat berwarna kuning.


"Apa itu Zi?" tanya Rayhan.


"Geprekan kunyit, lengkuas, sere, jahe, dituangi air panas, kalau sudah aga hangat dikasih perasan jeruk nipis, madu, sama garam Himalaya," jawab Zia.


"Buat apa?" Rayhan mengangkat mug itu, mencium bau isinya, dan menyeruput sedikit.


"Biar sehat Mas," sahut Zia.


"Enak Zi, pintar kamu, ma syaa Allah," ucap Rayhan menikmati minuman hangat buatan istri mudanya.


"Mas Ray suka?" tanya Zia, Rayhan mengangguk dan tersenyum.


"Kalau begitu, nanti malam in syaa Allah aku buatin lagi," ucap Zia bahagia orang yang dicintainya menyukai apa yang dibuatnya.


"Maryam makan dulu ya, Abi mau ambil ponsel di kamar," Rayhan menurunkan Maryam dari pangkuannya dan naik ke lantai atas.


"Umma, Maryam nanti sore boleh minta sesuatu buat makan?" tanya gadis kecil itu.


"Maryam mau apa?" tanya Zia.

__ADS_1


"Ayam goreng dari kedai Ummi Alfina," sahut Maryam.


"Boleh Umma?" tanya Maryam.


"Boleh, nanti sore in syaa Allah kita beli ayam goreng di sana ya," sahut Zia.


"Zi," panggil Rayhan ketika menuruni anak tangga.


"Iya Mas," sahut Zia.


"Anak-anak diantar Alfina, dia nanti mau nemenin Amala jaga kedai, Nisa karyawannya lagi sakit," ucap Rayhan yang baru saja membaca pesan dari Alfina.


"Oh, iya Mas, terus Maryam..."


"Maryam dijemput ke sini sekalian, mungkin mereka sedang di jalan," sahut Rayhan.


"Mas mau sarapan sekarang?" tanya Zia.


"Iya, kita sarapan, jangan kasih aku yang pedas Zi," ucap Rayhan.


"Kenapa? Mas sakit perut?" Zia khawatir.


"Bukan, aku mau makan kamu, nanti kamu kepedasan kalau aku makan pedas duluan," bisik Rayhan yang berhasil membuat pipi Zia memerah.


Rayhan segera menikmati sarapan paginya bersama Zia dan Maryam. Dan belum selesai mereka makan, suara pintu mobil ditutup tepat di depan rumah, bisa dipastikan itu adalah Alfina.


Maryam menyelesaikan sarapannya dan mengambil tasnya lalu memakai sepatunya.


"Assalamualaikum," sapa Alfina yang masuk melalui pintu dapur.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," Zia langsung menghentikan sarapannya dan berdiri menyambut kakak madunya.


"Masuk Mba, sarapan yuk," mereka bersalaman dan cipika-cipiki.


"Makasih, tadi sudah sarapan sama anak-anak di rumah," sahut Alfina. Rayhan ikut berdiri, Alfina mencium punggung tangan Rayhan dan Rayhan mencium kening Alfina, Zia yang melihatnya seperti tertusuk jantungnya.


"Oh iya nanti sore antar Maryam dan Sulaiman ke kedai ya, Sulaiman pengen makan ayam di kedai katanya," ucap Alfina pada Zia. Maryam yang juga mendengarnya tersenyum lebar kesenangan.


"Iya, baik, in syaa Allah Mba, tadi Maryam juga bilang pengen makan ayam goreng Mba Al," sahut Zia.


"Yuk Maryam, kita berangkat," ajak Alfina.


"Mba Al, aku ga ngantar ke depan ya, jilbabku di kamar atas soalnya," ucap Zia.


"Iya ga pa pa Zi,"


Rayhan merangkul pundak Alfina dan menggendong Maryam menuju mobil. Zia yang melihat kedekatan mereka, merasa perih di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2