Aku Jadi Yang Kedua

Aku Jadi Yang Kedua
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Alfina dibawa ke rumah sakit oleh pria yang menabrak mobilnya itu. Pria itu menelpon Rayhan menggunakan ponsel Alfina.


Pria itu menunggu di lobby IGD bersama Fatimah yang belum berhenti menangis.


"Adik cantik Namanya siapa?" Tanya pria itu.


"Fatim..." sahut Fatimah.


"Adik jangan nangis terus nanti mama di dalam ikut sedih," ucap pria itu mencoba membujuk Fatimah.


"Fatim mau minum sesuatu?" tanya pria itu.


Fatimah hanya menggeleng.


"Ya udah kalau nggak mau duduk di sini dulu sama Om ya kita tunggu dokternya lagi periksa mama," ucap pria itu, yang dengan sabar duduk menunggu Alfina yang diperiksa di dalam ruang IGD


Lima belas menit kemudian Rayhan datang.


"Fatimah !!" Panggil Rayhan.


"Abi....." ucap Fatimah sambil berlari memeluk Raihan. Pria yang bersama Fatimah tadi berdiri dari duduknya dan ia sudah menebak itu adalah suami dari wanita yang ia tabrak tadi.


"Oh maaf anda suami Bu Alfina?" tanya pria itu.


"Iya, anda siapa?" tanya Rayhan.


"Kenalkan saya Fahri saya yang membawa Bu Alfina kemari dan sayang tidak sengaja menabrak mobil Bu Alfina dari belakang," pria itu mengenalkan dirinya.


"Oh iya, ini kartu nama saya, saya harap bapak tidak marah dengan saya," ucap yang menabrak tadi seraya menyerahkan kartu namanya. Rayhan menerima kartu nama itu dan membacanya ... Fahri CEO PT. Perkasa.


"Semua biaya rumah sakit dan perbaikan mobilnya akan saya tanggung," ucap Fahri.


"Bisa saya minta kartu nama anda juga?" tanya Fahri.


"Oh iya, ini," Rayha. Mengeluarkan kartu namanya dari dompetnya.


"Baiklah, in syaa Allah akan saya hubungi anda kembali," ucap Fahri.


Rayhan hanya mengangguk. Dia masih merasa seakan pernah tahu pria ini, namun dimana...


"Baiklah, karena anda sudah datang, saya mau permisi dulu, saya masih ada pekerjaan," ucap Fahri.

__ADS_1


"Baik, terima kasih sudah membawa istri saya kemari," ucap Rayhan. Setelah itu Fahri meninggalkan rumah sakit itu.


"Keluarga nyonya Alfina Rahmadanti," panggil seorang perawat.


"Iya, saya sus," sahut Rayhan.


"Ini dokter mau bicara Pak,"


Rayhan yang menggendong Fatimah mengikuti perawat itu ke ruang jaga dokter.


"Ini dokter Liliana yang memeriksa nyonya Alfina," ucap perawat tadi.


"Anda suami dari nyonya Alfina?" tanya dokter Liliana.


"Jadi selain shock karena kecelakaan, nyonya Alfina juga mengalami perdarahan, kami lakukan pemeriksaan hematologi, dan kadar hemoglobinnya sangat rendah yaitu 6, itu termasuk rendah pak, kalau orang normal minimal 11, maka dari itu kami berencana melakukan transfusi darah. Dan untuk mengetahui penyebab perdarahan, tadi kami melakukan USG, dari dokter Radiologi, hasil bacaannya di dalam rahim nyonya Alfina ada polip atau benjolan Pak, dan kami juga konsultasikan dengan dokter kandungan, dan disarankan untuk melakukan kuretase," tutur dokter Liliana memberikan pengertian pada Rayhan.


"Kira-kira itu bahaya Ndak Dok benjolannya?" tanya Rayhan.


"Ehm mengenai benjolannya, ganas atau tidak bisa diketahui dari pemeriksaan jaringan kuretnya setelah operasi," jawab dokter Liliana.


Rayhan hanya mengangguk, dia sedih juga gelisah, tak tahu harus bagaimana, dia awam tentang kesehatan, namun takut juga terjadi sesuatu pada istri pertamanya itu.


"Bapak baru satu putrinya?" tanya Dokter Liliana.


"Bismillah, saya ikut saja apa kata dokter, dokter pasti lebih tahu mana yang terbaik untuk istri saya," ucap Rayhan kemudian.


"Baik pak, tanda tangan persetujuan tindakan dulu pak ya," ucap dokter Liliana.


"Baik," sahut Rayhan kemudian ia menandatangani surat persetujuan tindakan yang diberikan dokter Liliana.


"Dok, sebelum operasi bisa saya bertemu istri saya?" tanya Rayhan.


"Boleh pak, itu di ruang observasi sebelah sana," sahut dokter Liliana.


"Oh iya, satu lagi, saya minta dokter kru operasi semuanya perempuan, mengenai biaya saya tidak ada masalah sama sekali," ucap Rayhan, tentunya dia tidak ingin lelaki lain melihat aurat istrinya.


"Baik pak, kami akan sampaikan ke ruangannya nanti,"


Rayhan yang menggendong Fatimah, menemui Alfina.


Rayhan merasa sakit, melihat wanita yang menemaninya selama tiga belas tahun ini terbaring lemas dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Al," panggil Rayhan.


Alfina hanya tersenyum. Melihat tenangnya Alfina, Rayhan mulai curiga, Alfina sudah tahu sejak lama bahwa dia sakit, dan karena itu dia meminta Rayhan menikah lagi dengan Zia.


"Kamu sudah lama tahu kalau kamu sakit?" tanya Rayhan. Alfina hanya tersenyum.


"Kenapa kamu sembunyikan dari aku Al? Sejak kapan kamu sakit?" desak Rayhan.


"Tiga bulanan yang lalu, ketika Mas Ray keluar kota satu pekan, aku perdarahan, aku periksa katanya ada benjolan, tapi aku belum siap untuk kuret,"


"Tapi sekarang kamu mau kan buat kuret?" tanya Rayhan.


"Iya Mas, sekarang sudah ada dek Zia, aku bisa tenang kalaupun harus pergi duluan," ucap Alfina.


"Ngomong apa sih kamu, ga gitu, belum kelihatan benjolan itu ganas atau jinak, apapun hasilnya aku akan carikan dokter terbaik buat menyembuhkan kamu," ucap Rayhan.


"Iya, iya, telpon dek Zia Mas, biar dia bawa Fatimah pulang duluan, kasian kalau lama-lama di rumah sakit," ucap Alfina.


Rayhan pun permisi keluar sebentar untuk menelpon Zia istri keduanya, dan meminta Zia untuk ke rumah sakit.


Zia terkejut dengan apa yang didengarnya, namun ia tetap berangkat ke rumah sakit mengendarai mobilnya.


Sesampainya di sana, Alfina sudah siap masuk ke dalam ruang operasi.


"Mba Al," ucap Zia, yang memegang tangan Alfina, tangan Alfina yang satu berpegangan pada Rayhan, dan Alfina menyatukan keduanya.


"Zi, titip Fatim, titip anak-anak, titip mas Ray," pesan Alfina dengan tersenyum. Zia hanya mengangguk.


Alfina pun dibawa masuk ke dalam ruang operasi, dan melambaikan tangan pada suami, anak, dan adik madunya.


Setelah Alfina masuk ke dalam ruang operasi, Rayhan meminta Zia membawa Fatimah pulang.


"Kamu pulang dulu Zi, bawa Fatimah, buatkan dia kue yang enak," pinta Rayhan.


Walaupun sebenarnya Zia ingin menemani Rayhan menunggu Alfina yang sedang operasi, tidak ada pilihan lain selain menaati perintah suaminya.


"Baik Mas, aku doakan dai rumah, dan ini aku bawa teh madu untuk Mas Ray minum," ucap Zia mengeluarkan botol minum dari tasnya.


"Oke, makasih Zi, aku akan minum," ucap Rayhan.


Zia pun menggendong Fatimah keluar dari rumah sakit itu dan membawanya ke rumahnya.

__ADS_1


"Oh Mba Al, kenapa hal sebesar itu disembunyikan sendiri, Mba Al pasti takut selama ini, namun tidak ada yang tahu akan ketakutannya ... Ya Allah berilah kelancaran pada operasi Mba Alfina kakak maduku, semoga hasilnya juga tidak berbahaya, semoga Mba Alfina segera pulih, dan bisa segera berkumpul bersama kami lagi...aamiin," ucap Zia di dalam hatinya.


__ADS_2