Aku Jadi Yang Kedua

Aku Jadi Yang Kedua
Tiga Puluh


__ADS_3

Lagi asyik-asyiknya mandi, tiba-tiba Rayhan membuka pintu kamar mandi.


"Mas!!" ucap Zia memelototkan matanya karena terkejut. Spontan ia menyambar handuk dan menutupi tubuhnya.


"Ssst!!!" ucap Rayhan.


"Mba Al?" tanya Zia.


"Ada di bawah," sahut Rayhan.


"Kamu sudah selesai mandinya?" tanya Rayhan dengan senyum smirk menggoda Zia.


Zia jadi ketakutan, teringat hal yang terjadi di rumah orang tua Rayhan dahulu. Melihat Zia yang ketakutan, Rayhan tersenyum lebar.


"Kamu takut Zi?" tanya Rayhan.


 "Ehm..." Zia menunduk tidak berani menatap wajah Rayhan.


"Cepat keluar aku kebelet pee," ucap Rayhan. Seketika senyum terlukis di wajah Zia, dan dia langsung berlari keluar kamar mandi.


Setelah berpakaian Zia menuju lantai bawah menemui Alfina.


" Kok cepat Mbak acaranya?" tanya Zia.


"Iya Dek Zia, mas Ray minta pulang duluan, kayanya ga tega ninggal kamu sama anak-anak, takut kewalahan karena dek Zia belum terbiasa sendirian ngurus banyak anak," ucap Alfina yang duduk di meja makan, di depannya ada segelas air, Zia rasa Rayhan yang memberikannya pada Alfina.


"Ah begitu, tapi aku senang bersama mereka," ucap Zia.

__ADS_1


"Mereka ngrepotin ya dek?" tanya Alfina.


"Sama sekali nggak, bahkan Mba Aisyah tadi bantuin saya masak, ma syaa Allah pinter-pinter semua anaknya Mba Al," sahut Zia.


"Ma syaa Allah, Alhamdulillah kalau begitu," Alfina ikut senang.


"Yang paling menyentuh hatiku Mba, mereka itu baik denganku, menyayangi Maryam juga, mereka ga ada benci aku sama sekali, padahal, aku dan Maryam sudah menyita perhatian, waktu, dan kasih sayang abinya," ucap Zia.


"Alhamdulillah, dengan izin Allah, dan karena mas Ray tidak membagi kasih sayangnya, tapi selalu seratus persen kasih sayangnya untuk anak-anakku, dan seratus persen juga untuk anakmu dek," ucap Alfina.


"Iya Mba, Alhamdulillah, dan aku ga tau musti ngomong apa lagi sama Mba Al, Mba tahu sendiri bagaimana keadaan aku sebelumnya, terima kasih banyak Mba Al dan mas Ray sudah menolongku dan Maryam, aku minta jangan ambil lagi ya Mba kebahagiaan yang telah Mba Al bagi ini, jangan sampai Mba minta Mas Ray untuk menceraikan aku,"


"Kita hidup hanya untuk meraih ridho Allah dek, mengambil mu sebagai adik maduku semoga jadi ladang pahala buat kita, bisa lebih bersabar, menahan diri, lebih menyadari bahwa semua yang kita anggap punya kita semata-mata hanya titipan dari Allah. Aku ga akan meminta mas Ray menceraikan mu, selama kita berada di rel kehidupan yang tepat, fokus saja beribadah pada Allah, mengurus Mas Ray ketika di sini, mengurus Maryam dan adik-adiknya nanti, mengurus titipan semua harta ini, pastikan kamu memberikan yang terbaik untuk semua itu, Akupun juga sama, akan fokus dengan apa yang Allah beri untuk aku jaga. Aku rasa selama kita tetap pada posisi kita, tidak akan ada masalah yang terjadi di antara kita," tutur Alfina.


Dan Rayhan ikut mendengar pembicaraan mereka dari tangga. Ia kemudian turun mendekati Zia dan Alfina yang duduk bersebelahan di ruang makan dan memeluk mereka berdua dari belakang.


"Mas," ucap Alfina. Zia hanya tersenyum. Kemudian Rayhan duduk di kursi yang berseberangan dengan mereka berdua.


"Al," ucap Rayhan. Zia dan Alfina menoleh ke arah Rayhan.


"Aku sih terserah mas Ray saja," sahut Zia.


"Ga pa pa Mas, Mas Ray di sini aja besok," ucap Alfina.


"Maaf Zi, bukannya aku tidak senang di sini, tapi aku juga ingin bersama Aisyah dan adik-adiknya, lagian aku ingin kamu segera hamil anakku Zi, kalau setiap hari dilakukan itu tidak akan baik, karena sp**ma lelaki produksi terbaik setelah tiga hari tidak dikeluarkan, kan pas tiga hari aku di rumah Alfina, pas waktunya aku di sini, kita sudah siap, jadi kita tetap di jadwal semula ya," tutur Rayhan.


"Iya Mas," ucap Zia.

__ADS_1


"Baiklah, aku ikut saja apa kata mas Ray, kalau gitu aku mau ke kedai ya, Amala belum ada temannya, jadi sementara setiap hari aku juga jaga kedai," pamit Alfina seraya berdiri.


"Aku antar ya," ucap Rayhan.


"Ga perlu Mas, aku kan bawa mobil, itu aja, kalau anak-anak sudah bangun, minta tolong mas Ray antar ke kedai ya, mau aku ajak belanja mereka," kata Alfina.


"Baiklah," Rayhan juga berdiri, memberi isyarat pada Zia karena ia akan mengantar Alfina sampai depan.


"Makasih ya Mba," ucap Zia sembari cipika-cipiki.


"Sama-sama, makasih juga sudah jagain anak-anak, eh iya gamisnya aku bawa dulu ya, kalau sudah bersih biar dibawakan mas Ray ke sini, assalamualaikum," ucap Alfina.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," sahut Zia.


Alfina pun pergi dari rumah itu, diantar Rayhan sampai ke depan.


Zia merapikan kursi makan, dan mencuci gelas bekas Alfina minum tadi. Rayhan memeluknya dari belakang.


"Mas, jangan gitu, ga enak dilihat anak-anak nanti," ucap Zia.


"Aku mengantuk, temani aku di atas," pinta Rayhan.


"Iya, Mas Ray naik dulu, aku mau kunci pintu," ucap Zia.


"Udah aku kunci, yuk kita ke atas, ngantuk banget Zi," Rayhan mendorong Zia ke lantai atas dan ingin tidur sebentar ditemani istri mudanya itu.


Zia terbaring di samping Rayhan yang sudah nyenyak, rupanya pria itu sudah sangat lelah dan mengantuk sepulang acara reuni tadi.

__ADS_1


Zia masih belum bisa memejamkan matanya, masih terngiang apa yang dikatakan oleh kakak madunya tadi, bagaimana bisa seorang wanita dengan tenang mengatakan semua itu.


"Aku sungguh iri kepadamu Mba, bagaimana kamu setegar itu, aku cemburu dengan pembawaan mu yang tenang, aku yakin bahwa bidadari pun cemburu padamu...." batin Zia.


__ADS_2