
Alfina terbangun mendengar suara kumandang adzan Ashar. Matanya masih sembab sehabis menangis, bagaimana tidak sedih, setelah sepekan membiarkan suaminya bersama istri barunya, waktu gilirannya tiba sang madu malah jatuh sakit. Tapi Alfina bukan hanya kecewa dengan ketidakhadiran Rayhan, namun juga turut merasa sedih adik madunya dalam keadaan sakit.
Ia mencoba memposisikan diri sebagai Zia, dalam keadaan sakit pasti memerlukan pendampingan suami di sisinya.
"Qodarullah wa maa syaa a fa'ala ( Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat)," ucap Alfina. Ia segera bangkit mencuci muka dan mengambil wudhu, bersiap mengajak anak-anaknya sholat Ashar, dan setelah sholat nanti ia telah berjanji kepada anak-anak untuk mendampingi mereka berenang.
.
.
Sementara di kediaman papa Rendra...
Zia terbangun, terkejut melihat Rayhan tidur di sampingnya. Badannya terasa jauh lebih baik, ia melihat cairan di dalam botol infus hampir habis. Mau tidak mau, walau tidak ingin, ia tetap harus membangunkan Rayhan.
Dengan lembut ia membelai rambut dan pipi Rayhan, kemudian dengan lembut juga ia memanggil suaminya.
"Mas, Mas Ray ...Mas..." panggil Zia.
"Hmm Zi, kamu sudah bangun, gimana? Mana yang sakit?" Rayhan segera bangkit untuk duduk.
"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik," jawab Zia.
"Terus kamu butuh sesuatu?" tanya Rayhan.
"Itu," Zia menunjuk ke arah botol infus yang di gantung di paku yang menancapkan lukisan bunga di tembok dekat tempat tidur mereka.
"Oh, mau habis ya?"
"Iya, tinggal sedikit," sahut Zia seraya mengangguk.
"Sebentar, aku tanya papa, mau ditambah lagi atau sudah cukup ini aja," Rayhan berdiri dan keluar dari kamarnya.
Sejenak kemudian ia datang bersama papa Rendra.
__ADS_1
"Gimana Zia, masih merasa pusing?" tanya papa Rendra.
"Nggak pa, Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, dilepas aja ga pa pa," sahut Zia.
"Oke papa lepas, tapi kalian nginap di sini dulu ya malam ini, sekalian papa observasi kamu, nanti papa resepkan vitamin buat kamu, biar Rayhan belikan," papa Rendra akhirnya setuju untuk melepas jarum infus yang menancap di punggung tangan Zia itu.
Setelah papa Rendra meninggalkan kamar itu, Zia beranjak dari tempat tidur juga.
"Mau kemana kamu Zi?" tanya Rayhan.
"Mau pee," sahut Zia.
"Aku antarkan," Rayhan segera bangkit dari peraduan dan memapah Zia hingga ke kamar mandi.
"Aku bisa sendiri Mas, aku ga pa pa," ucap Zia, namun tak dihiraukan oleh Rayhan, ia tetap berjalan di samping Zia. Setelah di kamar mandi, Zia duduk di atas kloset. Dan Rayhan berdiri tak jauh dari sana.
"Mas kok masih di sini, tunggu di luar gih," pinta Zia.
"No, aku takut kamu jatuh pingsan seperti tadi, aku tunggu di sini aja, udah cepetan," kata Rayhan tetap tak mau pergi.
Rayhan terlintas lagi di pikirannya, kalau dia melihat Zia dengan posisi seperti itu, yang ada dia yang sakit menahan ngilu, menahan diri lagi karena Zia belum bisa melayaninya.
"Ya sudahlah, aku tunggu diluar, tapi jangan dikunci pintunya," ucap Rayhan pada akhirnya menyerah.
Zia menuntaskan hajatnya di kamar mandi dan segera keluar agar Rayhan tidak khawatir.
"Mas, kita pulang jam berapa?" tanya Zia.
"Kamu ga dengar tadi papa bilang apa? Kita nginap dulu sambil papa ngawasin kamu," jawab Rayhan.
"Aku ga pa pa Mas, udah sehat kok, lagian malam ini waktunya mas Ray pulang ke rumah Mba Al kan,"
"Aku udah bilang Al kalau belum bisa pulang sekarang, karena kamu sedang sakit,"
__ADS_1
"Mba Al pasti sedih Mas, mba Al pasti sangat merindukan Mas Ray," cicit Zia.
"Kalau aku ke sana sekarang, memangnya aku bisa tenang gitu, di sana senang-senang, yang ada pasti kepikiran kamu, kondisi kamu belum pulih betul," tutur Rayhan.
Zia hanya terdiam, tidak ingin mendebat suaminya lagi, yang bisa ia lakukan adalah patuh dengan ucapan Rayhan.
.
.
.
Malam itu terasa panjang dan dingin bagi Alfina, sudah hampir tengah malam namun ia belum bisa memejamkan matanya.
Rasa sedih, rindu, marah, kecewa, cemburu, baebaur menjadi satu, membuat dadanya kian sesak. Terbesit penyesalan mengapa ia rela begitu saja membagi cinta suaminya.
"Astaghfirullah...." ucapnya.
Ia ingat kembali bagaimana kesulitan hidup yang dialami Zia, juga bocah kecil Maryam yang telah yatim itu.
Alfina lantas bangkit ke kamar mandi mengambil wudhu dan mendirikan sholat malam. Setelah sholat, ia curahkan segala isi di hatinya kepada Rabb nya.
"Ya Allah Ya Rahman... Semua yang terjadi di muka bumi ini, dan yang terjadi kepadaku tak luput dari takdir yang telah Engkau tuliskan, maka dari itu Ya Allah, kuatkan hatiku untuk ikhlas menjalaninya, berikan kami kedamaian dan kebahagiaan. Juga mudahkanlah kami menjalani pernikahan ini," ucap Alfina.
Di tempat lain...
Zia dan Rayhan juga mendirikan sholat malam. Keduanya juga berdoa dan meminta keharmonisan dan kerukunan dalam keluarga mereka.
Selepas sholat, karena masih mengantuk, Zia izin untuk tidur sebentar.
"Mas, aku tidur sebentar lagi ya, Mas mau tidur juga?" tanya Zia.
"Nggak Zi, aku mau baca Al Quran dulu sambil nunggu Subuh," sahut Rayhan.
__ADS_1
"Iya Mas, minta tolong nanti bangunin aku kalau sudah subuh," pinta Zia.
Rayhan tersenyum dan mengangguk. Kemudian membuka mushaf Al-Qur'an dan membacanya. Suaranya merdu ma syaa Allah, hingga Zia tersenyum-senyum dalam tidurnya.