
Zia menunggu kedatangan Rayhan, karena malam ini giliran Rayhan pulang ke rumah Zia. Rayhan sedang mengantar Aisyah dan Sulaiman pulang ke rumah Alfina. Juga ada satu meeting dengan klien malam ini.
Zia duduk di ruang tengah sambil membantu Maryam belajar.
"Umma, Maryam ngantuk," ucap Maryam.
"Oke, yuk kita naik, tapi sebelumnya beresin dulu buku-bukunya dan alat tulisnya,"
"Baik Umma," Maryam merapikan bukunya dan menatanya di meja belajarnya, juga memasukkan sebagian buku lagi ia masukkan ke dalam tas sekolahnya.
Terdengar deru mobil yang di parkir di depan rumah, dan suara pintu mobil tertutup.
"Itu, sepertinya Abi datang, tunggu sebentar ya, Maryam Salim dulu sama Abi, kita ke pintu depan yuk,"
"Assalamualaikum," ucap Rayhan ketika masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumussalam," sahut Zia dan Maryam.
Mereka tersenyum lebar, bergantian mencium punggung tangan Rayhan, Rayhan menggendong Maryam dan memeluk Zia. Ada rasa bahagia bisa ditemani Rayhan lagi tiga hari ke depan.
"Mas mau makan atau mandi dulu?" tanya Zia, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Aku mandi saja, tadi sudah makan, kalian sudah pada makan?" tanya Rayhan kembali.
"Sudah tadi Mas, maaf ga nunggu Mas Ray, habisnya kalau malam-malam makan, aku takut gemuk," sahut Zia.
"Hahaha, iya, tapi ga pa pa sebenarnya kalau kamu gemuk, chubby aja jangan gembrot,"
"Iya, ke atas yuk, Maryam dah ngantuk katanya, tuh nguap, ditutup pakai tangan kiri sayang," ucap Zia, dan Maryam menurut, ia menutup mulutnya dengan tangan kiri saat menguap.
Tiba di kamar Maryam, Rayhan menidurkan gadis kecil itu, Zia memakaikan selimut padanya.
"Abi, Umma..."
"Apa Maryam?" sahut Rayhan.
__ADS_1
"Boleh Maryam minta temenin Abi sama Umma sampai Maryam tidur?" tanya gadis kecil itu.
"Baiklah, Abi sama Umma temani sampai Maryam tidur, berdoa dulu gih,"
"Bismikallahumma ammutu wa ahya," ucap Maryam, ia pun memejamkan matanya.
Zia dan Rayhan saling memandang dan tersenyum. Mereka berdua meninggalkan kamar Maryam dan menutup pintunya.
"Aku mandi dulu, kamu siapkan bajuku ya, nanti kita bicara, aku ingin ngobrol banyak denganmu.
"Iya Mas," sahut Zia kemudian ia ke kamar ganti untuk menyiapkan baju ganti untuk Rayhan.
Setelah Rayhan mandi, ia bersama Zia duduk di sofa yang menghadap kearah balkon. Pemandangan malam itu indah sekali, langit bertaburan bintang dan bulan hampir bulat sempurna.
"Ma syaa Allaah, indah ya mas langit malam ini," ucap Zia yang menyandarkan kepalanya pada bahu Rayhan.
"Hmm iya, cantik, kamu yang cantik, ma syaa Allah," sahut Rayhan.
Rayhan memandang wajah Zia, dia memang cantik, tak kalah dari Alfina, sangat kuat dan mandiri, namun ketika bersamanya Zia menjadi manja.
"Eh iya Zi, besok lusa aku ada undangan reuni teman kuliah,"
"Mereka teman angkatan aku, tapi sebagian besar juga mengenal Alfina, karena kamu dari kampus yang sama,"
"Jadi..."
"Ya jadi, aku akan pergi ke reuni bersama Alfina, kamu ga pa pa kan?"
"Ga pa pa Mas, aku sudah cukup senang bersama Mas di rumah,"
"Benarkah?" tanya Rayhan.
"Iya, tapi malamnya bersamaku kan? Masih jatahku lusa itu,"
"Iya, in syaa Allah aku pulang kemari," sahut Rayhan.
__ADS_1
"Oke, fix," ucap Zia.
"Eh, Mas Ray," panggil Zia.
"Hmm.." sahut Rayhan yang mengelus surai hitam Zia.
"Mas Ray bahagia punya dua istri?" tanya Zia.
"Untuk saat ini iya, aku sangat bahagia, kalian berdua istri yang cantik, istri yang baik, melayaniku dengan baik, menjaga hartaku dengan baik ketika aku tidak ada," jawab Rayhan.
"Kok saat ini .. Emang mas Ray pernah membayangkan ada saat yang tidak membahagiakan setelah kita menikah?"
"Ada, aku takut saat salah satu di antara kalian menguasai ku, tidak rukun, bertengkar, pasti aku yang tidak nyaman, aku ngeri membayangkan hal itu, maka dari itu jangan sampai kalian bertengkar ya, tetaplah saling pengertian seperti sekarang," ucap Rayhan.
"Iya Mas, in syaa Allah, aku akan berusaha sebaik mungkin," sahut Zia.
Angin berhembus sepoi-sepoi, dan semakin malam menjadi semakin dingin.
"Mas Ray besok sibuk ngga?" tanya Zia.
"Besok, ke kantor, ada yang mau akad beli rumah, habis itu ga ada acara lagi in syaa Allah, kenapa? Mau kau ajak kemana?"
"Hehehe, iya, aku ingin sekali Mas antar aku belanja untuk keperluan membuat nasi kotak,"
"Kamu mau jualan?" tanya Rayhan.
"Bukan Mas, tiap hari Jumat, sekolah Maryam ada acara berbagi nasi bungkus gratis, aku juga ingin berbagi, aku sangat tahu bagaimana rasanya, makan sekali sehari, aku dulu juga pernah kesulitan dengan makanan, jadi aku ingin berbagi makanan dengan mereka yang membutuhkan," jawab Zia.
"Baiklah, kita belanja besok, coba kamu tanya Alfina, dia sering berbelanja kotak nasi dan teman-temannya, kali aja dia dapat harga murah,"
"Oh iya, baik Mas, ngantuk Mas, tidur yuk," ucap Zia.
"Yuk," Rayhan merangkul pundak Zia dan membawanya ke tempat tidur.
Drrrrt....drrt....ponsel Zia bergetar dibatas nakas dia sebelah Rayhan. Rayhan mengambil ponsel itu dan mengernyitkan dahinya setelah melihat siapa yang menelepon istri mudanya itu.
__ADS_1
"Siapa Mas yang telpon malam-malam begini?" tanya Zia.
"Rayhan? Siapa Rayhan?" tanya Rayhan 🤔