Aku Menantu Bukan Pembantu

Aku Menantu Bukan Pembantu
Part 1


__ADS_3

Azizah duduk termenung di pinggiran kolam renang. Tanpa sadar air matanya luruh, mengingat masa-masa indah dulu saat dirinya masih kuliah.


Kebersamaan dengan keluarga dan berkumpul dengan teman-teman adalah hal yang dirindukan Azizah. Rasa bebas bermain ke sana-ke sini tak lagi dapat dirasakan kembali olehnya. Bagaikan dalam sangkar burung emas, dirinya terperangkap di istana mewah namun seperti penjara baginya.


"Zizah ...," panggil Ibu mertuanya.


"Iya, Mah," sahut Zizah.


"Kamu ngapain aja di situ? Bukannya kerja, malah nyatai di sini," pekiknya.


"Zizah hanya istirahat sebentar Mah," sanggah Azizah sambil menunduk.


"Selesaikan dulu pekerjaanmu, baru boleh kamu istirahat!" bentaknya.


"Baik, Mah," jawab Azizah.


Azizah segera kembali ke kamar mandi, mencuci pakaian yang sudah menumpuk. Setelah pernikahan itu, Azizah tak lagi melanjutkan kuliahnya. Ia tinggal bersama mertua serta adik-adik dari suaminya.


Pernikahan yang tak terduga, mengubah hidup Azizah. Kesehariannya kini hanyalah melakukan pekerjaan rumah layaknya seperti pembantu. Dirinya adalah menantu yang tak di harapkan dalam rumah itu.


"Mau aku bantuin?" Suami Azizah datang menghampiri.


"Udah gak usah, nanti yang ada aku dimarahin sama Mama kamu."


"Gak apa-apa, Bun. Aku kasian lihat kamu begini."


"Tapi nanti ...."


"Perutmu semakin membesar, aku tak mau nanti calon anak kita kenapa-kenapa. Aku bantu ya, ini cuciannya juga banyak. Kita kerja bareng-bareng," jelas Jerry yang merasa bersalah, karena dirinya, Azizah menjadi seperti ini.


"Iya, Yah. Makasih ya," ujar Azizah.


"Maaf ya, karena aku, kamu jadi begini."


"Maafin aku juga, kamu jadi terasingkan di rumah kamu sendiri."


Azizah saat ini sedang mengandung. Kehamilannya sudah menginjak delapan bulan. Dia tak ada keberanian untuk pulang ke rumah Ayahnya. Karena ini hamil tak berencana, Azizah pun kabur dari rumah.

__ADS_1


Perbedaan agama antara Azizah dan Jerry, membuatnya memilih untuk tinggal bersama Jerry. Azizah takut Ayahnya tak merestui, sebab tak ada jalan lain lagi. Jika ia tak mengikuti persyaratan mertuanya, Jerry tak diizinkan untuk bertanggung jawab atas kehamilan itu.


Jerry tetap melanjutkan kuliahnya dan Azizah mengerjakan semua pekerjaan di rumah itu. Dari mencuci, bersih-bersih rumah, menyetrika, serta mengurus adik Jerry yang berkebutuhan khusus. Bagi Ibu mertuanya, Azizah hanya menumpang, tak ada yang gratis di dunia ini tanpa bekerja.


"Zizah, tolong ya kamu urus Diva. Mamah mau tidur dulu sebentar!" perintahnya.


"Iya, Mah," sahut Azizah.


Diva adalah adik Jerry paling bungsu, dia anak berkebutuhan khusus. Setiap hari Azizah, memandikan, menyuapi, serta mengantar jemput ke sekolahnya. Setelah itu baru ia mengerjakan tugas rumah.


"Mah ... mamah," panggil Diva ke Ibu mertua Azizah.


"Jangan ganggu Mamah!" bentaknya.


"Yiva, mau main sama Mamah." Diva merengek seperti anak kecil, memanggil mamahnya pun dengan sebutan Yiva.


"Main saja sana, dengan Kak Azizah! Mamah capek abis pulang dari pasar," pekiknya.


Diva pun menangis dengan histeris, dia meraung-raung hingga menendang Mamahnya itu.


"Zizah ...," panggilnya


"Kamu gimana sih? Mamah lagi mau istirahat, malah diganggu Diva. Bukan diurus yang benar," omelnya.


"Maaf, Mah. Tadi Azizah lagi jemurin baju dulu," sahut Azizah.


"Ya udah, bawa Diva keluar dari kamar Mamah. Kamu tenangin dia dan ajak tidur siang," ucapnya.


"Baik, Mah," jawab Azizah.


Walau perut Azizah semakin membesar, ia tetap berusaha untuk mengerjakan semuanya. Dirinya sadar diri karena tinggal di rumah ini hanya menumpang. Ia sudah sangat bersyukur, ada tempat teduh juga segala kebutuhan dari makan dan keperluan lain dipenuhi oleh Mertuanya.


Tiba-tiba gawainya berdering, ada telepon masuk dari Mamah Azizah.


"Azizah, kamu di mana? Kata Ayah kamu gak pulang-pulang ke rumah," tanyanya khawatir.


"Azizah takut pulang Mah," jawab Azizah.

__ADS_1


"Takut kenapa? Ada masalah sama orang rumah?"


"Hhhmm ...."


"Loh kenapa gak dijawab? Ayahmu khawatir, pulanglah nak."


"Maafin Zizah, saat ini aku belum bisa pulang, Mah."


"Tapi alasannya apa?"


"Maaf, Mah. Zizah sekarang lagi hamil."


Seketika teleponnya terputus, namun kembali berdering dan Mamah Azizah video call dengannya.


"Kamu benar hamil?" tanyanya masih belum percaya.


"Iya, Mah. Maafin Zizah ya," isak tangis Azizah pun pecah.


"Ya Allah, kenapa kamu bisa seperti ini? Kamu pulang aja, Mamah yakin nanti Ayah akan mengerti." Mamah Azizah berusaha membujuknya untuk pulang ke rumah.


"Enggak, Mah. Azizah belum siap," dalihnya.


"Ya sudah, kalau perlu apa-apa bilang Mamah, ya," ucap Mamah Azizah.


Mamah Azizah bekerja di Singapura sebagai seorang TKW. Dari kecil Azizah sudah sering ditinggal oleh Mamah dan dia dirawat oleh kakaknya. Terlihat raut Mamah Azizah sangat sedih, ketika mendengar bahwa anaknya sedang hamil. Apalagi mendengar suaminya berbeda keyakinan.


"Kamu habis nangis?" tanya Ibu Mertua Azizah.


"Enggak, Mah," sanggah Azizah.


"Ya udah, nanti jangan lupa mandiin Diva ya!" perintahnya.


"Iya, Mah," sahut Azizah.


Azizah segera mengerjakan perintah Ibu Mertuanya. Setelah selesai memandikan Diva, ia langsung melanjutkan pekerjaan lain.


Ibu mertua Azizah, bekerja berkeliling pasar dari jam 01.00 dini hari hingga jam 09.00 pagi, sesudah itu Ibunya istirahat lalu memasak. Ibu Mertuanya tak mau lagi mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Menurutnya sudah capek bekerja dan tugas itu adalah kewajiban Azizah yang hanya di rumah saja.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2