
[Dimana, Mah? Azizah udah sampai di Bandara.]
[Ini Mamah sudah jalan menuju ke ruang tunggu.]
[Oh iya. Azizah udah ngeliat Mamah kok.]
Azizah memanggil Mamahnya.
"Mah, Azizah di sini."
Mamah Azizah pun segera menghampiri anaknya. Mereka saling berpelukan melepas rindu. Setelah itu bergegas pulang ke rumah Jerry. Selama di perjalanan, mereka bercerita satu sama lain, menyampaikan keluh kesah.
Sesampai di rumah Jerry, Mamah Azizah disambut baik oleh keluarga Jerry.
"Selama datang, Bu. Mari masuk," ucap Ibu Mertua Azizah.
"Iya, makasih. Saya kesini hanya sebentar mau ngasih oleh-oleh buat Ibu," ujar Mamah Azizah.
"Duh ... gak usah repot-repot, Bu," sahutnya.
"Gak apa-apa, Bu. Saya mau ucapkan terima kasih juga, sudah mau menerima anak saya di sini," jelas Mamah Azizah.
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Azizah itu mantu saya, jadi sama aja kaya anak sendiri." Ibu Mertua Azizah berusaha menutupi semua perlakuannya ke Azizah.
"Saya harus segera pergi. Adik Azizah mau akad nikah." Mamah Azizah pun pamit kepada Ibu Mertua Azizah.
Azizah dan Jerry hanya mengantar Mamah Azizah sampai depan gang rumah Ayahnya saja. Ia masih enggan untuk pulang ke rumah. Sungguh berat pilihan yang dibuatnya itu, hanya saja menunggu waktu yang tepat.
Azizah tak mau membuat suasana menjadi keruh, di saat acara akad nikah adiknya itu. Tak mau berfokus kepada dirinya, yang bertahun-tahun menghilang. Ia hanya ingin akad nikah adiknya berlangsung tenang dan bahagia.
"Mah, Azizah antar sampai sini aja ya," seru Azizah.
"Hhm ... mau Mamah paksa juga percuma, kamu tetap dengan pendirianmu itu," sahut Mamah Azizah yang agak kecewa dengan anaknya itu.
"Maafin Azizah, Mah. Lain waktu, pasti aku pulang kok," cetus Azizah berusaha meyakinkan Mamahnya.
Azizah memandangi Mamahnya dari belakang. Sebenarnya ada rasa ingin menemani tubuh wanita yang sudah renta itu. Ia juga melihat sekeliling daerah rumah yang menjadi tempat kelahirannya itu. Rasa rindu begitu melanda di hati. Namun, ia menahan diri dan nanti pasti akan kembali kesini lagi di waktu yang tepat.
Azizah pun segera pulang ke rumah Jerry, karena masih banyak kerjaan yang belom diselesaikan. Waktu keluar ini juga bukan hal yang tepat untuk jalan-jalan. Dirinya hanya takut, nanti Ibu Mertuanya marah-marah rumah masih berantakan.
Azizah mengirimi pesan ke Aisyah untuk memberi ucapan selamat.
[Selamat ya, Syah. Maaf Kakak gak bisa datang. Semoga sehat selalu untuk kamu dan calon anakmu juga.]
__ADS_1
[Gak masalah kok. Yang penting Mamah aja yang datang, kakak gak perlu. Kasian ntar anaknya kakak, denger Mamahnya dicemoh karena gak pulang-pulang. Haha.]
Seperti biasa balasan Aisyah hanya memberi luka untuk Azizah. Entah kesalahan apa yang dulu ia pernah dibuat kepada adiknya itu, hingga membenci dirinya. Padahal dulu Azizah sangat menyayangi Aisyah.
Azizah berusaha tak perlu memikirkannya. Ia berpikir positif, mungkin itu memang sudah watak adiknya seperti itu. Semoga di lain waktu, dirinya bisa kembali akur dengan Aisyah seperti dulu. Berkumpul bersama dengan tanda cawa yang riang.
****
Azizah sudah sampai di rumah Jerry. Dia kembali beraktifitas, mengerjakan tugasnya itu. Hari-harinya seperti biasa, layaknya pembantu dari sudut-sudut rumah hingga atap pun harus bersih rumah ini.
Ibu Mertua menghampiri Azizah sambil membawa oleh-oleh dari Mamahnya. Namun, bukan rasa terima kasih yang didapatnya, tapi hinaan yang keluar dari mulut Ibu Mertuanya itu.
"Mamah kamu, pembantu begitu bisa juga ya beliin oleh-oleh yang bagus dan mahal seperti ini, sangat berkelas."
"Mamah saya pekerjaannya disana memang dikata sebagai pembantu, tapi bukan berarti Anda bisa menyebut dengan kata merendahkan seperti itu."
"Loh? Memang kenyataannya bukan? Mamah kamu mengasuh anak, sama saja dia cuma 'PEMBANTU'."
Azizah tak meladeninnya lagi, hanya membuang waktu dan energi untuk dirinya. Tak apa Mamahnya dikatakan sebagai pembantu, tetapi kerjaannya adalah kerjaan halal, tak seperti Ibu Mertuanya itu.
Mungkin Ibu Mertuanya itu mempunya segalanya. Pekerjaan Bapak Mertua Azizah adalah seorang PNS, yang tentunya itu adalah pekerjaan terpandang. Dan Ibu nya mempunyai banyak uang untuk bisa dipinjamkan kepada orang lain, tapi dengan sistem bunga. Apalah daya, kenyataannya seperti itu. Mamah Azizah bekerja sebagai TKW dan Ayahnya hanya hansip. Namun, ia selalu bangga dengan kedua orang tuanya, karena mereka dirinya dari dulu sampai sekarang tak pernah kekurangan sedikitpun. Mamahnya juga selalu membantu Azizah saat susah.
__ADS_1
Bersambung ....