
"Mah, Zizah belum bisa pulang untuk saat ini. Aku bingung pulangnya, karena tiket sudah dipesan untuk sekalian pulang-pergi." Azizah menelepon Mamahnya.
"Iya, Zah. Mamah mengerti dengan keadaanmu, nanti kalau sudah pulang langsung ke rumah sakit ya," kata Mamah Azizah.
"Iya, Mah," ucap Azizah.
Setelah itu Azizah hanya diam dan termenung, memikirkan Ayahnya. Rasa tak karuan melanda hatinya. Bagi Azizah, Ayahnya adalah sesosok perkerja keras. Apapun dilakukan demi anak-anaknya. Kasih sayangnya begitu besar yang membuat ia rindu kepada sosok laki-laki paruh bayah itu.
Azizah merasa bersalah dengan Ayahnya, pergi dari rumah tanpa pamit. Bertahun-tahun menghilangkan jejaknya, agar tak satu orang pun tahu tentang dirinya itu. Ada rasa ingin pulang, tapi selalu diurungkan niatnya karena belum siap jika harus bertemu dengan Ayah. Ia tak mau melihat wajah laki-laki terhebatnya itu kecewa apa yang telah dilakukannya. Tak pernah terpikirkan bahwa kehidupan Azizah akan menjadi seperti ini, terbawa dalam pergaulan zaman, membuatnya lupa akan risiko dikemudian hari. Menikah muda memanglah tak mudah, apalagi tanpa persiapan yang matang. Banyak sekali rintangan yang dihadapi, manis-pahit dijalani dengan sekuat hati.
Terbilang dari keluarga kasta menengah kebawah, membuat Ibu Mertuanya selalu merendahkan Azizah. Sering sekali juga, Ibu Mertua menghina perkerjaan orang tua Azizah. Begitu pilu yang dirasakannya, hingga ia menelan pahit semua omongan Ibu dari suaminya itu. Diperlakukan semena-mena, terkadang dirinya hanya menahan batin, bertahan demi keluarga kecilnya. Untuk keluar rumah pun sangat sulit untuk dilakukan. Jika Ayahnya mengetahui hal ini, pasti sangatlah sedih anak gadis yang selalu dicintai dengan sepenuh hati, mendapat perlakuan seperti pembantu oleh mertuanya sendiri.
Lamunan itu pun buyar saat, ada telepon dari Mamah Azizah.
"Zizah, Ayah kamu ...." Mamah Azizah terhenti sejenak sambil menangis tersendu-sendu.
"Ayah kenapa, Mah?" tanya Azizah penasaran.
"Ayah kamu saat ini sedang koma," jawab Mamah Azizah.
"Ya Tuhan, kok bisa, Mah?" Azizah terkejut dengan kondisi Ayahnya tersebut.
"Ayahmu komplikasi jantung dan lambung dan usia yang terbilang lansia, membuatnya semakin drop," jelas Mamah Azizah.
__ADS_1
"Duh gimana ini? Azizah belum bisa pulang, Mah," tangis Azizah pun pecah seraya rasa khawatir kepada Ayahnya.
"Doakan saja, semoga Ayahmu segera disadarkan dari komanya," pinta Mamah Azizah.
"Iya, Mah. Kalau soal itu Zizah selalu mendoakan Ayah," ujar Azizah.
Setelah selesai berbicara dengan Mamahnya di telepon, Azizah menghampiri Jerry.
"Yah, Ayahku koma," ucap Azizah sambil menintikkan air mata.
"Koma?" Jerry terkejut dengan ucapan Azizah.
"Iya, Yah. Katanya komplikasi jantung dan lambung. Bagaimana ini? Hu ... hu ...." Azizah menangis di depan suaminya itu.
"Kamu sabar dulu ya, Bun. Nanti saat sudah sampai sana, kita bergegas langsung ke rumah sakit." Jerry berusaha menenangkan Azizah.
****
Sudah satu minggu Azizah di Pontianak, acara hajatan sepupu Jerry pun berjalan lancar dan meriah. Besok hari dimana akan pulang, rasa cemas masih menghantui pikiran Azizah. Rasa gelisah yang dihadapi tak kunjung reda, sudah tak tahan lagi ia ingin menjenguk Ayahnya. Keadaan Ayahnya pun juga belum membaik, masih dalam keadaan koma. Ia terus berdoa untuk kesembuhannya dan berjanji akan bertekuk lutut memohon ampun dan maaf kepada sang Ayah. Dirinya sangat berdosa kepada kedua orang tuanya, yang memberi luka dalam hati kepada mereka.
Hari untuk pulang pun tiba, Azizah tak sabar untuk menjenguk Ayahnya di rumah sakit. Coba saja aku menemuinya dari awal pastinya tak akan ada rasa menyesal seperti ini, gumamnya dalam hati. Azizah berusaha menenangkan pikirannya agar yang ditakutkannya tak terjadi. Ia memandang wajah Rafael, untuk menghilangkan rasa gundahnya itu. Terkadang melihat wajah anak yang masih polos itu, suka menyejukkan hati.
Ayah tunggulah sebentar lagi, Azizah akan datang menemui Ayah ....
__ADS_1
Begitulah kata hati Azizah, berharap mendengar ucapan maaf dari Sang Ayah. Hatinya belum tenang, jika belum bertemu dengan Ayahnya itu. Entah ada firasat apa, tapi ia benar-benar merasa sangat gelisah. Seketika dirinya tertidur di dalam perjalanan, bermimpi bertemu sang Ayah dan melihat senyumannya yang begitu bercahaya. Deg! Azizah terkejut saat tangan Jerry menepuk-nepuk pundaknya, membangunkan dirinya terlelap tidur bersama mimpi yang memberi suatu tanda itu.
"Bun, bangun! Sudah mau sampai." Jerry membangunkan Azizah.
"Eh ... iya, Yah," ucap Azizah.
Sesampainya di bandara, Azizah, Jerry dan Rafael langsung menuju ke rumah sakit, dimana itu adalah tempat Ayahnya dirawat. Mertua Azizah dan adik-adik Jerry tak ikut, mereka langsung pulang ke rumah. Berpacu dalam kemacetan, membuat Azizah begitu khawatir. Tak pernah ia, merasakan perasaan takut sedalam ini. Mimpi saat di dalam pesawat tadi menambah kegalauan hatinya.
Setiba di rumah sakit, Azizah langsung menuju ke kamar di tempat Ayahnya berada, yang sudah diberitahu oleh Mamah Azizah. Saat memasuki ruangan, banyak sekali perawat juga dua orang dokter ada ditempat Ayahnya. Terlihat tim medis, berusaha untuk menyelamatkan sang Ayah. Namun, takdir berkata lain satu garis berbunyi menandakan Ayah Azizah telah tiada. Dokter pun langsung mengumumkan jam kematiannya.
Tangis Azizah pecah, ia berlari menuju tubuh Ayahnya yang sudah tak bernyawa lagi. Kata Maaf berulang kali diucapkan Azizah, berteriak histeris memohon agar Ayahnya membukakan matanya. Jerry berusaha menenangkan istrinya itu. Azizah menangis dalam pelukan Jerry, menumpahkan semua penyesalannya. Dirinya tak mampu berkata-kata lagi, melihat tubuh sang Ayah yang sudah mendingin. Terlihat senyuman tipis di bibinya, seakan senang dengan kedatangan Azizah.
Andai waktu bisa diputar ulang, aku akan datang meminta maaf. Maafkan aku, Ayah. Diri ini bukanlah anak yang berbakti.
Rasa penyesalan datang bertubi-tubi, ia juga tak sempat meminta maaf langsung kepada Ayahnya. Sungguh teriris hati Azizah, bila mengingat kesalahannya yang ia perbuat. Permohonan Ayahnya yang meminta Azizah pulang, membuat dia sangat menyesalinya. Lalu Aisyah menghampiri kakaknya itu yang sedang menatap sang Ayah.
"Saat Ayah begini baru inget pulang, dari kemarin kemana aja?" celetuk Aisyah dengan tatapan sinis.
Azizah hanya diam, ia tak mampu menjawab pertanyaan adiknya. Dia memang bersalah selama ini tak pulang hanya karena keegoisan dalam dirinya. Rasa takut kepada Ayahnya yang tak merestui pernikahannya dengan Jerry, itulah yang selalu ada dipikiran Azizah. Dia juga tak bisa memberitahu bahwa agamanya yang dianutnya sudah berbeda. Ini memang sangatlah sulit untuk dirinya. Begitu berat cobaan hidup yang dijalaninnya itu.
Kakak Azizah pun menghampiri mereka.
"Zizah, kata Ayah, beliau sudah memaafkan semua kesalahanmu dan sudah merestui pernikahanmu dengan suamimu itu. Itulah kata-kata terakhir yang diucapnya," jelas kakak Azizah memberitahu.
__ADS_1
Azizah hanya bisa menangis mendengar perkataan kakaknya itu. Beribu penyesalan di dada, seakan lemas tak berdaya. Jika saja tak terlambat, mungkin ia sudah mendengar kata 'memaafkan' dari mulut sang Ayah. Namun, ia mendengar lewat dari kakaknya. Hati gundah menusuk hingga dalam rongga tubuh yang ringkih, seperti tertancap beling menggores hati Azizah.
Bersambung ....