
"Jer, bulan depan Shasha mau nikah. Kamu, Azizah dan Rafael wajib ikut, karena ini acara keluarga," ucap Ibu Mertua Azizah.
"Iya, Mah," sahut Jerry.
Kampung halaman Ibu Mertua Azizah adalah di Pontianak. Jika ada acara tertentu pastilah mereka akan kesana. Dan ini adalah pertama kalinya Azizah akan pergi kesana. Jerry pun memberitahu kepada istrinya.
"Bun, nanti bulan depan Shasha mau nikah, kita akan ke Pontianak."
"Aku diajak juga, Yah?"
"Iya, Bun."
"Duh aku deg-degan ketemu keluarga besar kamu."
"Gak apa-apa, Bun. Mereka semua baik kok."
"Iya, Yah."
Ibu Mertua Azizah sangat sibuk mempersiapkan segala kebutuhannya ke Pontianak. Ia juga membeli sesuatu untuk oleh-oleh di sana. Dirinya tak mau dipandang rendah, maklum saja Ibu Mertua Azizah itu yang paling tua, jadi ingin dihormati dan disanjung. Dia juga membelikan baju dan sepatu untuk menantunnya, serta cucunya juga.
"Ini Mamah belikan baju dan sepatu, buat kamu juga Rafael," ucap Ibu Mertua Azizah sambil menyodorkan tas belajaannya.
"Makasih ya, Mah," ujar Azizah.
"Nanti di Pontianak pake ya saat acara pestanya, Mamah gak mau liat kamu kucel!" perintah Ibu Mertua Azizah.
"Iya, Mah," sahut Azizah.
"Pokoknya kamu nanti di sana jangan malu-maluin Mamah," cetus Ibu Mertua Azizah.
"Iya, Mah." Hanya kata iya yang diucapkan Azizah.
****
Tiba saatnya untuk pergi ke Pontianak. Setiba di sana, mereka diperlakukan layaknya tamu istimewa. Dikarenakan keluarga Jerry paling tua, jadi sangat di hormati oleh keluarga besarnya. Azizah juga diperlakukan sama, tak boleh sedikit pun membantu acara hajatan saudara Jerry. Azizah sangat cepat akrab dengan yang lain dan juga Shasha yang akan menikah.
__ADS_1
"Tante, aku bantuin ya." Azizah ingin membantu Tante Jerry.
"Gak usah, Zah. Udah kamu ke depan aja, ngumpul bareng yang lain," tutur Tante Jerry.
"Benar gak apa-apa nih? Aku gak enak aja, kalau gak bantu-bantu," ucap Azizah.
"Iya gak apa-apa," sahutnya.
"Yaudah, aku ke depan ya, Tan," tukas Azizah.
Azizah sangat senang di sini, karena begitu baik saudara-saudara Jerry. Omanya Jerry pun juga suka dengan Azizah, karena ia sopan juga ramah. Berbeda sekali dengan Ibu Mertuanya itu, dia bingung mengapa hanya mertuanya saja yang begitu. Sesekali ia suka mendengar, jika Ibu Mertuanya sering membicarakan yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Azizah malas orangnya, tiap hari bangunnya siang terus. Gimana suaminya mau dapat kerjaan, kalau dia seperti itu terus, rejekinya keburu dipatok ayam ibarat kata orang jaman dulu." Cerita Ibu Mertua Azizah kepada saudara-saudaranya.
"Masa sih kak? Saya lihat, Azizah rajin. Tadi aja dia mau bantu-bantu kerjaan di dapur, tapi aku bilang gak usah," tutur Tante Jerry.
"Itu mah cari muka aja dia, masak aja gak bisa. Kerjaan gak ada yang beres, saya juga yang ngerjain semuanya," ucapnya tak mau kalah dengan penuturan Tante Jerry.
Azizah yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas. Dirinya sudah tak heran, bila mertuanya berkata seperti itu. Azizah sekarang juga sudah malas memikirkan perkartaan Ibu Mertuanya itu, tak peduli berkata apa. Sebab faktanya, ia tak seperti yang dikatakan oleh Mamah Jerry. Terkadang yang lain bisa melihat dan menilai sendiri, jika melihat langsung saat Azizah sedang mengerjakan tugas rumah.
Terdengar suara telepon berdering dari gawai Azizah.
"Halo, Mah. Ada apa?" tanya Azizah, yang ternyata Mamahnya yang menelepon dirinya.
"Ayahmu masuk rumah sakit," jawab Mamah Azizah.
"Rumah sakit? Ayah sakit apa, Mah?" tanya Azizah kembali.
"Belum tau, kata kakakmu tiba-tiba Ayah pingsan dan sekarang lagi di ruang igd, masih tahap pemeriksaan," ucap Mamah Azizah.
"Ya Tuhan. Semoga Ayah baik-baik aja ya, Mah," ujar Azizah yang khawatir dengan kondisi Ayahnya.
"Iya, Zah. Kamu ke rumah sakit ya, jenguk Ayahmu," pinta Mamah Azizah.
"Azizah pengen banget ke rumah sakit, tapi saat ini aku lagi di Pontianak, Mah. Kampung halaman Mamahnya Jerry. Sepupu Jerry akan menikah," tutur Azizah.
__ADS_1
"Duh, gimana ya. Mamah juga udah balik ke Singapur, gak mungkin pulang lagi ke sana," ucap Mamah Azizah.
"Aku bilang Jerry dulu ya, Mah. Nanti aku kabari lagi." Azizah mengakhiri pembicaraan lewat telepon dengan Mamahnya.
Azizah bergegas menghampiri Jerry.
"Yah," panggil Azizah.
"Iya, Bun. Kenapa?" tanya Jerry.
"Ayahku masuk rumah sakit," jawab Azizah.
"Sakit apa? Terus bagaimana keadaannya?" tanya Jerry kembali.
"Belum tau, saat ini masih tahap perawatan. Aku ingin ke sana jenguk Ayah." Azizah menangis, mengkhawatirkan Ayahnya.
"Kita baru pulang minggu depan, Bun," tutur Jerry.
Tiba-tiba Ibu Mertua Azizah datang menghampiri mereka.
"Kenapa, Jer?"
"Ayah Azizah masuk rumah sakit."
"Sakit apa?"
"Belum tahu, Mah. Kita bisa gak pulangnya dipercepat?"
"Gak bisa, kita pesen tiketnya sudah sekalian pulang-pergi."
"Azizah mau tengok Ayahnya di rumah sakit."
"Suruh tunggu sampai minggu depan, pesan tiket dadakan itu mahal."
Azizah yang mendengar hanya diam dan pasrah. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Rasa gundah yang datang, mebuatnya begitu bingung. Azizah ingin sekali menemui Ayahnya dan meminta maaf. Namun, keadaan yang tak memungkinkan yang harus menunda sampai kepulangannya ke sana. Tetesan air matanya tak mampu terbendung lagi, Azizah hanya bisa menangis, mengingat dirinya yang belum bisa membahagiakan ayahnya itu.
__ADS_1
Bersambung ....