Aku Menantu Bukan Pembantu

Aku Menantu Bukan Pembantu
Part 10


__ADS_3

Sudah tiga bulan Jerry bekerja sebagai security. Namun, ia mengalami kecelakaan motor saat hendak ingin pergi bekerja. Urat tangannya kejepit, yang mengharuskan Jerry istirahat total di rumah dan terpaksa untuk berhenti bekerja. Azizah sedih melihat suaminya menjadi tak berdaya seperti itu. Lagi-lagi ujian datang kembali. Rasanya memang benar, bila perkerjaan tak direstui oleh orang tua, pasti ada kendalanya dan tak berjalan lancar.


"Tuh gara-gara gak dengerin apa kata orang tua, jadi begini kan," celetuk Ibu Mertua Azizah.


Jerry dan Azizah hanya diam, tak menjawab perkataannya itu. Mereka hanya tertunduk sedih dan mencoba menerima semua kenyataan pahit ini. Mungkin ini ujian, yang diberikan-Nya agar bisa menjadi pribadi yang tegar dan kuat. Tak ada jalan pilihan lain lagi sekarang, hanya bisa melakukan perintah apa yang disuruh oleh mertua Azizah.


"Kamu yang sabar ya, Yah. Jangan patah semangat, aku yakin rezeki gak akan kemana selagi kita terus berusaha dan berdoa," ucap Azizah yang berusaha untuk menghibur suaminya.


"Iya, Bun. Makasih ya, kamu selama ini mau menemaniku saat susah maupun senang," ujar Jerry.


"Kita ini suami-istri, sudah sepantasnya saling mendukung satu sama lain." Azizah memberikan senyuman agar suaminya tak bersedih lagi.


****


Rafael kini sudah berusia tiga tahun, tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kehidupan Azizah masih tetap sama, tak ada perubahan. Jerry sudah satu tahun menganggur, suami Azizah itu belum lagi mendapat perkejaan setelah kecelakaan. Sekarang Jerry tak dapat lagi melakukan pekerjaan yang kasar, karena keterbatasan tenaga akibat kecelakaan saat itu. Begitu sulit mencari pekerjaan, dikarenakan banyak pesaing juga seleksi yang begitu ketat. Walaupun tahun ini Suaminya itu belum lolos seleksi tes CPNS, dirinya tetap menyemangati suaminya.

__ADS_1


"Tetap semangat, Yah. Tahun depan masih bisa untuk tes lagi, kita terus berusaha. Yakinlah, karena usaha tak akan mengkhianati hasil."


"Iya, Bun. Aku bersyukur punya istri sepertimu, selalu bersabar dalam kondisi apapun."


Pasangan suami-istri memang selalu menguatkan dan menghibur satu sama lain. Namanya kehidupan tak selalu berjalan mulus. Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan-lah yang berkehendak. Mereka harus tetap tegar menjalani ini semua demi kebahagiaan Rafael nanti.


Seperti hari-hari biasanya, Azizah mengerjakan semua tugasnya. Sekarang juga adik Jerry yang bungsu menjadi tanggung jawabnya. Seperti mempunyai anak dua, Azizah mengurus Rafael juga Diva. Ibu Mertuanya tak mau tahu, yang terpenting segala kebutuhan Diva sudah terpenuhi dan tugas mengurusnya diserahkan kepada dirinya. Ibu mertuanya juga tak mau sekalipun mengajak anak bungsunya untuk pergi jalan-jalan, seakan malu terhadap kekurangan anaknya itu.


Pekerjaan Ibu Mertua Azizah setiap harinya hanya berkeliling pasar, setelah itu pulang dan memasak. Jika tugas memasaknya sudah selesai, ia pun tidur hingga sore saat Papah mertua Azizah pulang. Karena dirinya merasa yang mencari uang, jadi yang berkewajiban mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk mengurus Diva adalah tugas Azizah.


"Iya, Mah," sahut Azizah.


"Pokoknya Mamah mau rumah ini rapi sebelum Mamah pulang. Karena Mamah pusing pulang kerja harus lihat rumah yang berantakan!" perintah Ibu Mertua Azizah.


"Iya, Mah." Hanya kata iya yang bisa Azizah ucapkan.

__ADS_1


"Jangan iya-iya aja, tapi pekerjaan rumah jarang ada yang beres," tukas Ibu Mertuanya.


Padahal dulu, sewaktu pertama kali Azizah ke rumah ini, ada seorang pembantu harian atau lebih tepatnya yang pulang-pergi, pembantunya itu mengerjakan semua pekerjaan rumah. Namun, entah mengapa dua bulan Azizah tinggal disitu, pembantunya diberhentikan dan semua tugas pembantunya diberikan semua kepadanya. Ia dijadikan pembantu gratis di rumah ini.


Jerry yang melihat Azizah terkadang kasihan, tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Jerry hanya bisa membantu pekerjaan istrinya. Terkadang suami Azizah itu geram melihat perlakuan Mamahnya yang semena-semena itu. Ia sekarang lebih sering melawan orang tuanya demi membela sang istri.


"Mamah keterlaluan banget sih, semua pekerjaan ditumpahkan ke Azizah. Sampai-sampai mengurus Diva pun juga." Emosi Jerry memuncak.


"Wajar dong, Mamah menyuruh-nyuruh Azizah. Dia itu menantu Mamah, sudah kewajibannya sebagai menantu membantu pekerjaan mertuanya," sahut Mamah Jerry.


"Menantu? Itu hanya sebutan saja, tapi Mamah lebih menganggapnya sebagai pembantu gratisan. Kalau untuk membantu memang sudah sepatutnya tapi bukan berarti semua pekerjaan Azizah yang mengerjakan," celetuk Jerry.


"Gratis darimananya? Mamah memenuhi segala kebutuhan kamu dan Azizah, sebagai timbal baliknya dia yang harus mengerjakannya. Lagi cuma numpang kok, ya harus tahun diri," tukasnya dan kemudian pergi meninggalkan Jerry.


Jerry begitu kesal, tapi dia tak bisa menjawab perkataan akhir Mamahnya itu. Karena memang benar, selama ini ia masih dibiayai kehidupannya oleh kedua orang tuanya. Rasanya Jerry sudah tak sabar lagi, ingin membuktikan kepada orang tuanya, bahwa ia mampu dan bisa menjadi kebanggaan mereka. Namun, apalah daya, dirinya memang belum mampu untuk saat ini.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2