Aku Menantu Bukan Pembantu

Aku Menantu Bukan Pembantu
Part 8


__ADS_3

Jerry tak kunjung juga mendapat kerjaan. Kemarin sudah melamar kerja, tapi hanya tahap training saja. Dikarenakan statusnya yang sudah menikah, sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Rata-rata perusahaan mencari yang masih single dan sudah berpengalaman, sedangkan Jerry belum ada pengalaman kerja.


Jerry seakan sudah menyerah, begitu sulit mencari pekerjaan di jaman sekarang. Ia juga mendaftar untuk ikut tes CPNS, tapi lagi-lagi dia gagal di seleksi pertama. Namun, Azizah selalu menyemangati Suaminya itu, bahwa tahun depan Jerry bisa kembali mendaftar tes CPNS kembali.


"Belum dapat kerjaan juga, Jer?" tanya Ibu Mertua Azizah.


"Belum, Mah," jawab Jerry.


"Gara-gara Azizah ini, kamu jadi susah dapat kerjaan," sindirnya ke Azizah.


"Ini bukan salah Azizah, Mah. Memang belum rezeki Jerry aja," timpal Jerry.


"Tapi gara-gara dia, masa depan kamu jadi ancur dan rusak. Kalau kamu gak menikah dengannya, Mamah yakin kamu udah sukses," ujar Ibu Mertua Azizah.


"Udahlah, gak usah nyalahin Azizah terus. Jerry juga salah, Mamah gak harus menyudutkan itu," tukas Jerry.


Azizah pun menangis mendengar perkataan Ibu Mertuanya itu. Ia seakan merasa bersalah kepada Jerry, karena dirinya adalah penyebab Jerry selalu ditolak oleh perusahaan. Alasan Jerry ditolak karena statusnya yang sudah menikah. Azizah menangis tersendu-sendu hingga memukul-mukul tubuhnya sendiri.


Azizah menatap Rafael yang sedang asyik bermain. Wajah polosnya, membuat Azizah juga merasa bersalah. Karena, ia belum mampu jadi Ibu yang baik untuk Rafael. Dia selalu menangis di depan Rafael, harusnya sebagai seorang Ibu, dirinya tak boleh memperlihatkan kesedihannya kepada anak. Namun, apalah daya, hanya ketika bersama Rafael dan di kamar, ia bisa mencurahkan segala kerisauan di hati.


"Kamu kenapa, Bu? Kok matamu sembab?" tanya Jerry kebingungan.


"Aku sedih aja, Yah. Gara-gara aku, Ayah jadi susah dapat kerjaan," tangis Azizah.


"Ihh ... kamu ngomong apa sih, Bun? Memang belum rezeki Ayah aja," cetus Jerry.

__ADS_1


"Tapi bener apa kata Mamahmu, kalau kamu enggak menikah denganku, pasti kamu udah dapat kerja dan sukses," tutur Azizah yang terus menyalahkan dirinya.


"Kamu gak usah dengerin omongan Mamah. Kamu tau sendiri mulut Mamah aku gimana," ucap Jerry.


"Selama ini perusahaan carinya yang single. Bunda rela kok jadi janda, asalkan Ayah bisa dapet kerja. Huu ... huu," isak tangis Azizah pun pecah.


"Hush! Kamu ngomongnya ngelantur aja. Aku gak mau itu terjadi. Apa pun segala permasalahannya, aku tetap bersamamu juga Rafael," jelas Jerry yang berusaha untuk menenangkan Azizah.


Jerry pun ikut bersedih melihat Azizah. Ia tak tega melihat Istrinya itu menyalahkan dirinya sendiri. Padahal bukan salahnya, tapi Jerry juga salah dalam hal ini. Tekadnya pun kuat, dia akan berusaha mencari kerja untuk nafkah keluarganya.


****


Keesokannya Jerry sudah lelah melamar di perusahaan yang sesuai dengan gelarnya sebagai Sarjana Ekonomi. Jerry melihat sebuah lowongan kerja sebagai Security di Bank. Ia pun mencoba melangkahkan kakinya ke sana. Tak berharap banyak untuk diterima, lantaran belum adanya pengalaman kerja sebagai Security. Namun, tak terduga, dia diterima di sana.


"Kamu gak apa-apa jadi Security?" tanya Azizah.


"Gak apa-apa, Bun. Kerja apa aja yang penting halal," tutur Jerry.


Tiba-tiba Ibu Mertua Azizah datang.


"Kamu kerja sebagai Security?" tanyanya dengan nada tinggi.


"Iya, Mah," jawab Jerry.


"Apa-apaan kamu itu, bikin Malu keluarga kita aja. Mahal-mahal biayain kamu kuliah jadi Sarjana, tapi kerjanya malah jadi Security." Ibu Mertua Azizah dengan pekerjaan yang dipilih Jerry.

__ADS_1


"Tapi, Mah, ini hanya sementara saja. Jerry jadikan batu loncatan agar ada pengalaman kerja," jelas Jerry.


"Tetep Mamah gak setuju. Kamu ya sebagai anak pertama, bukannya bikin bangga, selalu saja bikin malu Mamah," ketusnya.


"Ada apa sih, Mah?" timpal Papah Jerry, yang baru saja pulang kerja.


"Itu, Pah. Jerry udah dikuliahin sampai Sarjana, kerjanya malah jadi Security," sahut Ibu Mertua Azizah.


"Benar, apa yang dikatakan Mamahmu?" tanya Papah mertua Azizah ke Jerry.


"Iya, Pah," jawab Jerry tertunduk.


"Memang gak ada kerjaan yang lain selain Security? Udah kuliah telat, lulus bareng sama Andri, terus sekarang kerja jadi Security. Lihat Andri, lulus kuliah dia diterima kerja di Bank ternama." Papah Jerry menbandingkan Jerry dengan adiknya.


Jerry hanya diam dan tertunduk, tak tahu harus menjawab apa. Ia pasrah dengan caci makian dari kedua orang tuanya. Semenjak Jerry melakukan kesalahan, dia selalu direndahkan oleh Mamah dan Papahnya, selalu dibanding-bandingkan dengan Andri. Apa yang dilakukannya pasti selalu salah.


Azizah yang melihatnya begitu sedih, hatinya seperti teriris ketika suami dicaci maki oleh mertuanya itu. Begitu pilu yang dirasa, seperti tak ada habisnya ujian ini. Lika-liku yang dijalaninya semakin berat. Apalagi Rafael yang sudah tumbuh besar, membutuhkan biaya yang lebih banyak lagi. Walaupun kebutuhan Azizah dicukupi oleh mertua dan Mamahnya. Namun, Azizah merasa tak enak, karena terus bergantung kepada mereka. Apalagi Mertua Azizah, selalu ada timbal balik jika Azizah meminta sesuatu.


Berumah tangga tanpa persiapan memanglah tidak mudah. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Rasanya sangat sulit untuk menjalani semuanya. Akan tetapi, Azizah selalu berusaha kuat dan tegar, memberi semangat dan dukungan juga untuk Jerry. Ia berdoa, kelak suatu saat nanti, kehidupannya bisa menjadi lebih baik lagi daripada yang sekarang.


Bersambung ....


Mohon dukungannya 😊🙏


Bantu vote, like dan komentar juga ya 🤗

__ADS_1


__ADS_2