Aku Menantu Bukan Pembantu

Aku Menantu Bukan Pembantu
Part 3


__ADS_3

[Kak?]


[Maaf ini siapa?]


[Ini Aisyah, Kak.]


[Tau nomor kakak darimana?]


[Dari Mamah, Kak. Kapan pulang ke rumah?]


[Belum tau.]


[Ayah nanyain mulu.]


[Kakak belum tau, Syah.]


[Kakak, kabur dari rumah karena hamil 'kan? Dasar anak durhaka!]


Aisyah melantunkan dua kata yang membuat hati Azizah bergetar. Ia tidak lagi membalas pesan dan tak mau tersulut emosi dengan perkataan adiknya itu. Beban yang dirasakan, begitu berat hingga pilu. Deraian air mata pun menumpahkan segala kesedihan Azizah.


Rasa bersalah kepada Ayah dan Mamah, membuat Azizah membisu. Ia merasa menjadi anak yang gagal untuk kedua orang tuanya. Azizah hanya bisa menangis, menahan kerinduannya bersama mereka.


"Rafael, maafkan Mamah, jika menangis di depan kamu. Hati Mamah terlalu kalut," batin Azizah menderu.


Azizah mengambil gawai dan menelepon Mamahnya.


"Kenapa, Zah?" tanya Mamah Azizah.


"Mamah, kasih tau Aisyah tentang kondisi Azizah?" imbuhnya.


"Iya, Zah. Ayah menanyakan keadaanmu terus, ia khawatir akan dirimu," jelas Mamah Azizah yang telah memberitahu ke sang Ayah.


"Tapi, Mah. Semua orang rumah jadi tau, pasti mereka tak 'kan menerimaku." Azizah pun tak mampu menahan tangis.


"Maafkan Mamah, ini demi kebaikan kamu. Ayahmu tak masalah, dia hanya mau kamu pulang, Nak," pinta Mamah Azizah.


"Maaf juga, Mah. Azizah belum bisa menuruti permintaan Mamah dan Ayah. Azizah tutup dulu ya teleponnya, masih banyak kerjaan yang harus dikerjakan." Azizah mengakhiri pembicaraan di telepon dengan Mamahnya.

__ADS_1


Pedih yang dirasakan Azizah, ia hanya bisa meratapi nasib dengan tangisan. Jalan hidup yang dipilih, membuat dirinya sangat terpukul. Ia tak mengira bahwa takdirnya akan seperti ini.


"Kamu kenapa, Bun?" tanya Jerry.


"Gak apa-apa, Yah. Aku tadi cuma kelilipan debu aja. Tolong jagain Rafael sebentar ya. Aku mau nyuci piring." Azizah berusaha menutupi kesedihannya dari Jerry.


Azizah bergegas kembali mengerjakan tugasnya. Dia harus tetap tegar menjalani hidup ini, menepis segala kerinduannya.


"Kalau nyuci piring, jangan melamun!" Ibu Mertua Azizah datang dengan tatapan sinis.


"Praangg ...." Azizah tak sengaja menjatuhkan piring.


"Aduh ... kamu ini gimana? Hati-hati dong, piring cantik Mamah jadi pecah."


"Maaf, Mah. Azizah gak sengaja."


"Kamu tuh ya, gak pernah becus kalau kerja. Cepat bereskan, jangan sampai ada yang tersisa!"


"Iya, Mah."


Ketika Azizah hendak mengepel, Diva tak sengaja menyenggol ember dan menumpahkan isi airnya. Dirinya hanya menghelas nafas, karena dimarahi pun, adik Jerry itu takkan mengerti.


"Zizah ...," teriak Ibu Mertua.


"Iya, Mah," sahut Azizah.


"Kenapa Diva jadi basah begini?" omelnya.


"Tadi Diva numpahin air pel, Mah," jawab Azizah.


"Kamu, kalau menaruh ember yang benar, jangan ditengah-tengah gitu! Gimana Diva gak nyenggol?" geramnya.


"Maaf, Mah." Azizah hanya bisa mengucap kata maaf.


"Maaf terus, tapi kerja gak ada yang beres. Pusing Mamah, marahin kamu tiap hari," ocehnya lalu berlalu meninggalkan Azizah.


Azizah mengepel ulang bagian tempat yang ketumpahan air. Tak ada waktu istirahat, kesehariannya dipenuhi oleh pekerjaan rumah yang menumpuk. Tidur malam pun hanya sebentar, karena terkadang Rafael jam 4 pagi sudah bangun.

__ADS_1


"Ya, Tuhan. Sehatkanlah badanku, kuatkanlah hatiku. Agar aku mampu menjalani ini semua," do'a Azizah dalam hati.


Di mata Ibu Mertuanya, Azizah adalah seorang wanita yang rendah, karena dirinya tak mampu mempertahankan kerhomatannya. Terkadang Ibu Mertuanya malu dengan yang terjadi pada Jerry. Namun, ada rasa iba jika melihat Rafael.


Azizah hanya bisa pasrah, walau batin bergejolak. Kini semua percuma, untuk menyesalinya pun sia-sia. Dirinya harus terima segala resiko yang ada, karena tak ada pilihan lain. Ia tak mau, jika anaknya tak memiliki seorang Ayah.


Azizah menahan tangis, ia tak mau berlarut-larut dengan keadaannya. Baginya yang terpenting, Jerry selalu berusaha membantu, meringankan pekerjaannya dan saling kerja sama. Terkadang Azizah tak tega melihat Jerry, setelah pulang kuliah, suaminya tak istirahat, malah membantu dirinya.


"Kamu gak capek?"


"Enggak, Bun. Kenapa?"


"Iya gak apa-apa. Aku kasihan aja liat kamu, pulang kuliah gak istirahat, malah langsung bantu-bantu aku."


"Kuliah mah gak capek, Bun. Aku gak tega lihat kamu kerja seharian gak ada istirahat, belum repot kalau Rafael lagi rewel."


"Makasih ya, Yah. Bagiku, kamu adalah suami dan ayah yang hebat."


Aisyah kembali mengirim pesan ke Azizah.


[Kak?]


[Iya, ada apa, Syah?]


[Kenapa tadi pesanku, gak dibalas?]


[Tadi kakak banyak kerjaan, makanya tak sempat balas]


[Bilang aja, gak bisa jawab omonganku. Orang yang dibangga-banggakan dan berprestasi, ternyata bikin malu keluarga]


[Tolong jaga ucapanmu! Mungkin aku salah, tapi tak sepantasnya kamu menghakimiku]


[Pantaslah! dari dulu Mamah selalu pilih kasih, apa-apa selalu kak Azizah yang dibelikan ini itu, sedangkan Aisyah dapat barang bekas terus dari kakak. Tapi anak kesayangan Mamah malah berbuat seperti itu, kasihan Mamah]


Air mata Azizah menitik, ucapan Aisyah membuatnya makin bersedih. Di saat ia membutuhkan dukungan, Aisyah malah menyudutkannya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2