Aku Menantu Bukan Pembantu

Aku Menantu Bukan Pembantu
Part 9


__ADS_3

Jerry tetap dengan prinsipnya, ia memulai pekerjaanya sebagai Security. Dia tak peduli lagi dengan cacian dan makian dari kedua orang tuanya, yang dia pedulikan hanya Azizah dan Rafael. Berusaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab dan mandiri. Ada sejenak pikiran Jerry untuk mengontrak dan pisah dari orang tuanya. Namun, ia menunggu sampai mendapat gaji yang pertama.


"Bun, aku berangkat kerja ya," pamit Jerry ke Azizah.


"Iya, Yah. Ini bekalnya dan hati-hati di jalan," sahut Azizah.


Jerry pun pergi dengan kendaraan roda duanya itu. Azizah menatap suaminya dengan rasa iba, tak tega melihat Jerry bekerja sebagai security. Akan tetapi, mau tak mau ia harus terima, karena kebutuhan yang semakin hari semakin banyak. Azizah tak mau, jika terus bergantung kepada mertuanya itu.


Ibu Mertua Azizah menghampiri dirinya yang masih berdiri di teras depan rumah.


"Jerry tetap jalan kerja?" tanyanya dengan tatapan sinis.


"Iya, Mah," jawab Azizah.


"Bener-bener ya tuh anak dikasih tahunya susah. Biar aja gak dapet restu orang tua, nanti juga kerjanya gak bakal lama," tuturnya kesal.


"Mamah kenapa ngomong seperti itu? Harusnya sebagai seorang Ibu, mendoakan agar anaknya sehat dan pekerjaanya dilancarkan," sahut Azizah yang tak terima dengan omongan Ibu Mertuanya.


"Loh kamu kok malah nasehati Mamah? Sadar diri dong! Yang membuat Jerry seperti itu siapa? Semua itu gara-gara kamu!" Lagi-lagi Ibu Mertuanya menyalahkan Azizah.


Azizah hanya diam tak dapat berkata apa-apa lagi. Sepertinya percuma, mau bagaimana pun Azizah selalu salah di mata mertuanya. Ia menunduk sedih menahan tangis, agar tak keluar di depan Ibu Mertuanya itu. Dia juga tahu, jika suaminya merasa sedih akan perlakuan Ibunya sendiri. Namun, nasi sudah jadi bubur, semua tak 'kan kembali seperti semula. Begitu rumit hidup yang dijalani, terkadang membuat dirinya seakan menyerah dengan keadaan.


****


Azizah sudah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah dan Rafael pun sudah tertidur. Jika sudah selesai, Azizah selalu menyempatkan diri untuk menelepon Mamahnya. Sekarang, ia lebih terbuka kepada Mamahnya itu, menceritakan semua keadaan dan perlakuan Ibu Mertuanya itu ke dirinya. Sudah terlalu lama, dia menanggung beban itu sendirian, rasanya tak sanggup lagi bila memendam batin ini.


"Kamu yang sabar aja, yang namanya rumah tangga pasti ada masalah. Entah itu petengkaran dengan suami , masalah ekonomi atau bermasalah dengan mertua, itu sudah biasa. Jika kamu menjalani rumah tangga, berarti kamu harus siap menerima konsekuensi yang ada," tutur Mamah Azizah menasehatkan anaknya.


"Iya, Mah. Zizah tahu, tapi kenapa selalu zizah yang disalahkan?" Azizah pun menangis mencurahkan segala isi hatinya lewat telepon ke Mamahnya itu.


"Mungkin dia belum bisa terima, bila anaknya menikah dengan cepat. Mamah tahu perasaan kamu, doain Mamah agar sehat selalu, biar nanti kalau sudah pensiun, kamu bisa tinggal dengan Mamah," ucapnya menenangkan Azizah.


"Iya, Mah. Maafin Azizah ya, Mah. Aku belum bisa bahagiain dan jadi anak kebangaan Mamah," ujar Azizah yang telah berulang kali meminta maaf kepada Mamahnya.

__ADS_1


"Kamu tak perlu selalu minta maaf. Mamah sudah memaafkanmu dari awal. Mau bagaimana pun, kamu anak Mamah. Semua sudah terjadi, tak usah disesali lagi," jelas Mamah Azizah.


Setelah itu Mamah Azizah mengakhiri teleponnya, karena harus melanjutkan pekerjaannya di sana. Ibu Mertua yang melihat Azizah di dalam kamar, penasaran apa saja yang dibicarakan dengan Mamahnya itu. Sebab, durasi meneleponnya cukup lama bisa sampai satu jam. Ibu Mertuanya juga melihat dia menangis, membuatnya tambah penasaran.


"Kamu kenapa menangis?" tanyanya penasaran.


"Gak apa-apa kok, Mah," jawab Azizah menunduk.


"Tadi Mamah denger, kamu lagi teleponan sama Mamah kamu?" tanyanya lagi.


"Iya, Mah," jawab singkat Azizah.


"Ngomongin apa aja? Sampai satu jam gitu. Pasti kamu ngomongin Mamah yang enggak-enggak ya? Atau jelek-jelekin Mamah?" Ibu Mertua Azizah merasa kalau dirinya sedang dibicarakan.


"Enggak kok, Mah," sanggah Azizah.


"Bohong! Pasti kamu ngomongin mertua kamu," timpalnya.


Azizah tak lagi menjawab, ia pergi meninggalkannya. Apa yang dikatakan Ibu Mertuanya itu, tak sepenuhnya salah, ada benarnya jika dirinya memang membicarakannya. Namun, Azizah tak menjelek-jelekan Ibu Mertuanya, ia hanya berbicara sesuai fakta yang ada.


****


"Bun, kita ngontrak aja yuk!" ajak Jerry.


"Ngontrak? Ayah gak salah?" tanya Azizah dengan tatapan bingung.


"Enggak, Bun. Biar kamu gak cape, kalau ngontrak, nanti kamu hanya mengurus aku dan Rafael," ujar Jerry.


"Yaudah, aku malah seneng banget, tapi kamu udah izin sama orang tua kamu?" tanya Azizah.


"Belum, Bun. Nanti aku bilang ke Mamah," jawab Jerry.


Jerry pun bergegas menghampiri Mamahnya dan meminta izin untuk mengontrak.

__ADS_1


"Mah, Jerry izin mau ngontrak ya," ucap Jerry pelan.


"Ngontrak? Emang kamu ada uang buat bayar biaya sewanya?" tanyanya.


"Ada, Mah. Jerry habis gajian," jawab Jerry.


"Kamu yakin itu cukup buat menuhi segala kebutuhan keluargamu? Mamah yakin itu gak akan cukup," cetusnya.


"Jerry yakin kok, Mah. Selalu syukuri apa yang sudah Tuhan kasih ke kita," ucap Jerry.


"Kamu tanya Papahmu dulu, pasti tidak diizinkan," tukasnya.


Tak lama Papah Jerry datang.


"Pah, Jerry bilang mau ngontrak." Ibu Mertua Azizah memberitahu niat anaknya itu ke Suaminya.


"Mau ngontrak? Kamu yakin, Jer?" tanya Papah Jerry.


"Iya, Pah," jawab Jerry.


"Papah gak setuju, jika kamu ngontrak. Ngontrak itu tidak murah, belum lagi nanti biaya kebutuhan Rafael makin besar makin banyak," jelas Papah jerry yang tak menyetujui niat anaknya itu.


"Tapi, Pah ...?" ucap Jerry yang terpotong dengan perkataan Papahnya.


"Kalau Papah bilang tidak ya tidak. Sekali kamu membangkang dan tak menurut, jangan pernah kamu memasuki rumah ini kembali," tegas Papah Jerry dengan nada tinggi.


Jerry hanya diam, mau tak mau harus menuruti Papahnya. Ia tak mau jadi anak yang terbuang dan juga memikirkan Rafael yang masih terlalu kecil. Diurungkan niatnya itu, karena dia tak mau di cap sebagai anak durhaka. Mungkin dilain waktu ada kesempatan untuk bisa tinggal berpisah dengan kedua orang tuanya.


Jerry kembali ke kamar dengan wajah lesu dan memberitahu Azizah bahwa orang tuanya tak menyetujui mereka untuk mengontrak. Azizah memaklumi itu dan sebagai seorang istri, dirinya berusaha menghibur suaminya yang sedang bersedih.


"Gak apa-apa, Yah. Tandanya mereka masih memikirkan kita. Kamu yang sabar ya, aku yakin nanti suatu saat nanti apa yang kita inginkan bisa tercapai dan kamu bisa menjadi anak kebanggaan mereka," ucap Azizah kepada suaminya.


"Iya, Bun. Maafin Ayah ya, kamu juga sabar sedikit. Tahan sebentar ya, aku janji akan berjuang lebih keras lagi untuk kebahagiaan kita nanti," ujar Jerry.

__ADS_1


Mereka saling menguatkan, karena yakin, suatu saat nanti jerih payah Azizah dan Jerry akan terbayar dengan hasil memuaskan. Tuhan selalu ada bersama mereka, itulah yang selalu ditanamkan di hatinya.


Bersambung ....


__ADS_2