Aku Menantu Bukan Pembantu

Aku Menantu Bukan Pembantu
Part 2


__ADS_3

Azizah merasakan kram di perutnya, kemudian ia mencoba untuk mengistirahatkan diri. Pekerjaan yang begitu banyak, sering mengakibatkan kontraksi terhadap kehamilannya.


"Zizah ...," panggil Ibu Mertua Azizah.


"Iya, Mah. Zizah di kamar," sahut Azizah.


"Kamu ya, malah enak-enakan duduk. Itu Diva belum kamu kasih makan siang," omelnya.


"Maaf, Mah. Perut zizah kram, makanya aku buat istirahat dulu sebentar," jelas Azizah.


"Jangan lama-lama! Kasian diva belum makan," ocehnya.


"Iya, Mah," sahut Azizah.


Azizah mencoba untuk berdiri, ia berusaha untuk menahan sakitnya. Perlahan menuruni tangga, satu per satu di laluinya dengan saksama. Namun di tengah tangga, perutnya merasakan kram kembali, kali ini begitu terasa sakit.


"Kamu, kenapa malah duduk di tangga?" tanya Ibu Mertua Azizah.


"Perut Azizah kram, Mah." Azizah merintih kesakitan.


Terlihat darah mengalir. Azizah tak mampu lagi menahan sakitnya. Ibu Mertuanya pun panik, dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat dan menelepon Jerry untuk segera datang menyusul.


Azizah mengalami kontraksi dini dan plasenta previa (plasenta melekat di bagian bawah rahim, di dekat mulut rahim, atau menutupi leher rahim sehingga jalan lahir terhalang), dan megharuskan untuk melakukan tindakan operasi secar.


Karena kehamilannya masih berusia 35 minggu, Azizah melahirkan secara prematur. Dia melahirkan seorang putra yang sehat dan tampan, namun karena prematur harus mendapatkan perawatan yang intesif di ruang nicu.


****


Azizah sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Keadaannya yang masih lemah, membutuhkan banyak istirahat.


Selama masa pemulihan, Azizah hanya fokus mengurus Rafael. Semua perkerjaan rumah sementara dilakukan oleh Ibu Mertuanya dan dibantu Jerry.


"Jer, besok ada acara arisan RT. Karena bulan kemarin Mamah yang dapat, jadi sekarang acaranya diadakan di rumah kita. Kamu bantuin Mamah ya." Ibu Mertua Azizah meminta tolong ke anaknya untuk membantu acara arisan besok.


"Iya, Mah," sahutnya.


Acara berlangsung lancar dan para ibu-ibu juga menengok rafael.


"Ganteng kaya Ayahnya," ucap Ibu RT.


"Bisa aja nih, Bu RT," sahut Ibu Mertua Azizah.


"Azizahnya kemana ya, Bu?" tanya Ibu RT.

__ADS_1


"Ada lagi di kamarnya, biasa istirahat. Maklum abis lahiran harus banyak istirahat," jawab Ibu Mertua Azizah.


"Oh gitu, Bu. Wajarlah namanya juga masa pemulihan," timpal Bu RT.


"Tapi dari hamil juga gak pernah kerja, kaya ratu di sini, semua pekerjaan rumah saya yang ngerjain. Masak juga gak bisa," ujar Ibu mertua Azizah.


Ketika mendengar itu, hati Azizah sedih. Ibu Mertuanya tak pernah menganggap pekerjaannya selama ini. Saat hamil besar pun tetap dia kerjakan.


Selama sehabis lahiran, Azizah juga berusaha untuk bantu-bantu, namun Jerry melarangnya karena kondisi Azizah masih perlu banyak istirahat.


Kehadiran Rafael membuat Ibu Mertua Azizah menjadi bahagia. Semenjak ada Rafael, Azizah diperlakukan layaknya ratu. Tak boleh melakukan ini itu dan hanya fokus untuk mengurus anaknya.


Perlakuan baik Ibu Mertua Azizah tak berlangsung lama, saat usia Rafael sudah 4 bulan dan kondisi Azizah sudah stabil, Ibunya menyuruh kembali untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, kecuali masak.


"Rafael sedang tidur kan?"


"Iya, Mah."


"Kamu nyuci baju sana! Jangan malas-malasan aja! Kemarin karena kamu abis lahiran, makanya Mamah biarkan kamu istirahat. Jangan keterusan leha-lehanya!"


"Tapi, Mah ...."


"Biaya lahiran kamu itu gak murah. Jerry belum kerja, semua biayamu itu Mamah yang nanggung. Gak ada yang gratis. Jangan dikira tinggal di sini, kamu bisa leha-leha ya, tapi kerja! Paham?"


"Iya, Mah."


Azizah juga mengurus Diva, padahal untuk mengurus Rafael aja masih dibantu Jerry, tapi Ibu Mertuanya menyerahkan Diva untuk di urus oleh Azizah dan Ibunya lepas tangan dengan hal itu.


Setelah pulang dari keliling pasar Ibu Mertua Azizah memasak. Dia juga memasak khusus untuk Azizah, untuk ibu menyusui dan juga membelikan baju-baju untuk Azizah.


Azizah bingung dengan sikap mertuanya, Ibu Mertua suka membelikan barang tanpa dia minta, namum terkadang suka memperlakukannya dirinya semena-mena.


"Ini, Mamah belikan baju untuk kamu dan Rafael." Ibu Mertua Azizah menyodorkannya berupa kantung plastik putih itu.


"Iya, Mah. Makasih ya," ujar Azizah.


Azizah tetap bersyukur, walau dia hanya dianggap pembantu, namun Ibu Mertua masih perhatian dengannya. Azizah juga masih bisa makan yang enak tanpa kekurangan. Dia berusaha tegar, demi Jerry dan Rafael.


Semenjak menikah dengan Jerry, Azizah menutup diri dari keluarga dan teman-temannya. Tak ada satu pun yang tau keberadaan Azizah. Hanya Mamah Azizah yang tau keadaan dia sebenarnya.


Azizah mencoba membuka akun sosmed yang sudah lama tidak dibuka dan mengirim pesan ke sahabatnya.


"Tari, minta nomor lu dong." Azizah pun mengirim pesan ke Tari.

__ADS_1


Tak lama Tari langsung membalas pesannya, "ini nomor gue 088xxx."


Lalu Azizah melanjutkannya lewat WA.


"Tar, maafin gue ya kalo ada salah sama lu."


"Iya, Zah. Gue juga bingung, waktu itu lu marah karena apa, soalnya tiba-tiba lu diemin gue gitu aja."


"Itu kata temen kantor, lu jelek-jelekin gue yang enggak-enggak."


"Malah lu yang di jelek-jelekin, soalnya pada aneh sama perut lu."


"Iya, gue minta maaf, sekarang gue tau mulut mereka yang racun."


"Ya udah, lupain aja udah lama ini. Kabar lu gimana?"


"Sehat, Tar. Gue juga udah lahiran, tapi lu jangan bilang siapa-siapa ya."


"Banyak yang nanyain lu sih sama gue, termasuk temen SD kita. Nanya-nanya lu gitu, katanya lu kabur dari rumah karena hamil, gue jawab aja gak tau."


"Kalau ada yang nanya, bilang aja gitu."


Tari adalah sahabat Azizah dari kecil. Selalu satu sekolah yang sama dari SD hingga SMK, kemarin pun sempat satu kantor. Azizah selalu cerita ke Tari, karena hanya dia yang dapat dipercaya.


"Maaf ya, Tar, waktu kedua orang tua lu meninggal, gue gak bisa dateng."


"Iya, gak apa-apa. Gue ngerti kok keadaan lu."


"Gue kangen sama Ayah."


"Ya udah pulang, jangan sampai ntar nyesel."


"Tapi gue belum berani, takut gak diterima di rumah itu. Gue udah berbeda sama mereka."


"Dijelasin secara perlahan, pasti Ayah lu ngerti. Jangan nyesel, kalo tiba-tiba Ayah lu kaya orang tua gue gimana?"


"Jangan kaya gitu ngomongnya, gue makin sedih."


"Gue saranin mending lu pulang aja."


"Nanti ya, Tar. Gue siapin hati dulu."


Azizah masih enggan untuk pulang ke rumah Ayahnya. Dia masih belum siap untuk segala kosekuensi yang diterima nantinya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2