
"Mah," panggil Jerry ke Mamahnya.
"Iya, Jer. Kenapa?" tanyanya.
"Jerry mau pinnjam mobil buat pergi," jawab Jerry.
"Sendiri?" tanyanya kembali.
"Enggak, Mah. Jerry pergi sama Azizah dan Rafael juga," sahut Jerry.
"Mobilnya nanti mau Mamah pakai ke pasar. Kamu ada motor, pakai saja itu," cetusnya.
"Tapi, Mah. Kalau pakai motor kasihan Rafael masih kecil, nanti masuk angin," timpal jerry.
"Ya udah, gak usah pergi," sahutnya.
Azizah merasa kasihan dengan Jerry. Suaminya itu direndahkan dan dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Bagi Ibu Mertua, anak sulungnya itu adalah aib dalam keluarga karena sudah membuat malu.
Anak pertama laki-laki yang diharapkan bisa membanggakan, tapi harapan itu telah sirna. Azizah melihat jelas raut wajah Jerry yang sedih akan perlakuan Ibunya itu.
"Kita naik motor aja, Yah."
"Gak apa-apa nih, Bun?"
"Iya, gak apa-apa."
Dengan keterpaksaan, mereka pun pergi dengan menggunakan motor. Azizah dan Jerry, pergi ke acara pernikahan teman Jerry dan itu pertama kalinya Azizah keluar rumah, setelah sekian lama hanya di rumah saja.
Terlihat senyuman di wajah Azizah, karena kerinduan berkumpul dengan teman-teman kuliahnya terobati. Sebelum kejadian itu, Azizah dan Jerry satu kampus.
"Yah, itu bukannya Andri ya?" Azizah menunjuk ke arah luar gedung.
__ADS_1
"Iya, itu Andri. Dia di undang juga, ceweknya temenan sama pengantin perempuan," sahut Jerry.
"Oh gitu. Tapi dia datang pakai mobil Mamah kamu, tadi katanya mau dipakai ke pasar." Terlihat raut wajah Azizah yang kecewa kepada Ibu Mertuanya.
"Aku panggil dulu si Andri," tukas Jerry.
Jerry memanggil Andri yang adalah adik laki-lakinya.
"Andri."
"Iya, Bang."
"Itu lu pakai mobil Mamah?"
"Iya, Bang. Kenapa?"
"Gak apa-apa, tadi mau gue pakai tapi kata Mamah mau dipakai ke pasar sama dia."
"Oh, yaudah kalau gitu."
Jerry kembali ke tempat Azizah dan Rafael. Jerry memberitahu kepada istrinya, apa yang dikatakan Andri. Terlihat bahwa Ibunya pilih kasih. Suami Azizah itu tak boleh memakai mobil Ibunya, sedangkan adiknya diperbolehkan. Namun Azizah berusaha untuk berpikir positif.
"Udah, Yah. Gak apa-apa." Azizah mencoba untuk menghibur Jerry.
"Tapi, Bun. Aku kecewa sama sikap Mamah. Kenapa seperti itu?" ungkap hati Jerry paling dalam.
"Kita berpikir positif aja, siapa tau tadi benar mau dipakai sama Mamah tapi dia gak jadi pergi," imbuh Azizah.
"Iya, Bun," jawab Jerry.
Mereka pun pulang ke rumah dan setibanya Ibu Mertua Azizah meneriakkinya.
__ADS_1
"Zizah ...!" teriak Ibu Mertua.
"Iya, Mah. Kenapa?" tanya Azizah.
"Kamu sebelum pergi, harusnya bersihin kaca dulu yang di atas. Banyak banget debu, hidung Mamah sensitif," omelnya.
"Maaf, Mah. Niatnya sehabis kondangan baru mau Azizah bersihin, tadi takut kesorean kondangannya kasihan Rafael," sanggah Azizah.
"Ya sudah, sekarang cepat bersihkan!" perintah Ibu Mertua Azizah.
"Azizah nidurin Rafael dulu, Mah. Kasihan dari tadi belum Asih," sahut Azizah.
Ibu Mertuanya pun berjalan tak mempedulikan Azizah. Dia menidurkan Rafael terlebih dahulu, baru membersihkan kaca-kaca di atas. Seharusnya pekerjaan ini dilakukan oleh laki-laki, karena kaca-kaca itu sangat tinggi dekat plafon. Terkadang Jerry suka membantu, tapi saat suaminya kuliah, ia terpaksa mengerjakannya sendiri.
Azizah sudah mulai terbiasa dengan rutinitas ini. Kesedihannya berkurang, karena dia sudah mulai memahami sifat Ibu Mertuanya itu. Walau terkadang sikapnya selalu memerintah Azizah. Namun, Ibu Mertuanya suka membelikan segala macam kebutuhan Azizah.
Azizah juga dikuatkan oleh orang-orang sekitar. Saudara-saudara Jerry lebih memihak Azizah, karena tau sifat Ibu Mertuanya itu.
"Kamu yang sabar ya, Zah. Ibu Mertua kamu, memang seperti itu. Kalau ngomong suka nyakitin hati. Tante aja sering kok digituin sama dia," saran Tante Jerry.
"Iya, Tan. Sekarang Zizah paham kok," sahut Azizah.
"Dulu juga Ibu Mertua kamu, memandang rendah anak tante, karena sudah menghamili yang sekarang sudah menjadi menantuku. Sekarang anak dia sendiri begitu. tane rasa dia malu, karena pernah mencemoh tante." Tante Jerry menceritakan tentang bagaimana dulu Ibu Mertuanya.
"Mungkin karma dia, Tan. Jadi ketula ke dia deh, hehe," ujar Azizah.
Hanya kesabaran yang selalu Azizah terapkan. Karena ia berpikir, jika bukan karena belas kasihan Ibu mertua, dirinya tak tau akan tinggal dimana. Kata syukur selalu diucap, sebab masih banyak yang peduli dan sayang dengannya.
Mamah Azizah juga suka mengirimi uang untuk kebutuhan Azizah dan Rafael. Jadi Azizah juga tak ada kekurangan untuk kebutuhannya.
Azizah juga sedang mempersiapkan hati untuk pulang menemui Ayahnya. Masih begitu sulit untuk dirinya, karena takut, keluarga tak mau menerima keadaan Azizah.
__ADS_1
Bersambung ....