
Setiba di rumah Tari, Azizah menceritakan semua apa yang terjadi. Azizah pasrah dengan keadaannya dan Tari pun berusaha untuk menenangkannya.
"Pulang aja, Zah. Kasian Ayah lu, dia pasti kangen sama lu."
"Gue juga kangen sama Ayah, tapi gue belum berani."
"Gue yakin kok, Ayah lu pasti mau nerima keadaan lu. Apalagi kalau liat cucunya, pasti akan tersentuh."
"Nanti, Tar. Ada saatnya gue pasti pulang kok."
"Gue cuma ingetin aja, jangan sampai nyesel nantinya. Kalau tiba-tiba kaya gue gimana? Ditinggal orang tua secara berdekatan."
"Iya sih, Tar. Gue cuma masih bingung aja."
Azizah masih ragu untuk pulang. Sudah banyak yang membujuknya, tapi dia memang belum siap. Azizah pun bermalam di rumah Tari.
****
Pagi harinya, Azizah mendapat pesan dari Ibu Mertuanya.
[Zah, tolong bilang Jerry untuk pulang ke rumah.]
[Iya, Mah.]
[Memang kamu dimana?]
[Di Bekasi, Mah]
[Yaudah bilang Jerry, pokoknya hari ini pulang. Naik taxol aja pulangnya, biar cepet.]
[Iya, Mah.]
__ADS_1
Azizah pun segera memberitahu Jerry.
"Yah, kita disuruh pulang sama Mamah kamu," kata Azizah.
"Bener disuruh pulang?" tanya Jerry.
"Iya, Yah. Disuruh pulang naik taxol biar cepet."
Tak lama ada suara nada dering dari gawai Jerry dan itu adalah Mamahnya. Dalam telepon itu, Mamah Jerry, memohon kepada anaknya untuk segera pulang, dikarenakan acara wisudanya.
"Makasih, Tar. Udah bolehin gue nginep disini sama anak dan suami. Maaf kalo ngerepotin," ujar Azizah.
"Iya, Zah. Enggak ngerepotin kok, udah kaya sama siapa aja," sahut Tari.
"Gue balik ya." Azizah pun pamit dengan Tari.
Azizah, Jerry dan Rafael akhirnya pulang dengan Taxol, karena Ibu Mertuanya memohon untuk pulang. Mungkin sebagai seorang Ibu juga khawatir dengan anak sulungnya itu, walaupun pernah membuat Ibunya kecewa.
Selesai acara wisuda, sekeluarga pulang dan mengadakan acara syukuran. Semua saudara-saudara pun berkumpul. Namun, Azizah tak bisa kumpul bersama, dia ditugaskan di belakang untuk bagian mencuci piring.
"Zah, kamu cuciin piring ya. Pokoknya kalau sudah numpuk langsung cuci, biar nanti kalau ada yang datang lagi sudah bersih. Dan Rafael biar sama Mamah aja!" perintah Ibu Mertua.
"Iya, Mah," sahut Azizah.
Ketika ada acara seperti ini, memang sudah jadi tugas Azizah. Karena bukan hanya saudara-saudaranya saja yang diundang, tetangga-tetangga terdekat juga diundang.
"Azizah kemana, Ri?" tanya salah satu saudaranya.
"Ada dibelakang, biasa dia mah gak pernah mau nimbrung kalau ada acara," ujar Ibu Mertua.
"Kenapa gak mau?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Mungkin dia gak cocok ngumpul bareng kita. Udah biarin aja, dia saya suruh cuci piring juga biar gak malas-malasan terus. Kerjaannya tiap hari bangun siang terus. Capek saya lama-lama tiap hari ngomel mulu ke dia," cetus Ibu Mertua.
Azizah sudah tak heran dengan Ibu Mertuanya, pasti dia selalu berbicara tak sesuai faktanya. Azizah memang selalu bangun siang, bukan bermalas-malasan. Namun, dia mengerjakan tugas rumah di malam hari, di saat Rafael sudah tertidur. Setiap hari begitu, agar dirinya tenang melakukan pekerjaan tugas rumahnya.
Ibu Mertuanya tak pernah tau soal itu. Di jam Azizah mengerjakan tugas rumah, di saat itu Ibu Mertuanya sedang berkeliling ke pasar. Jadi seakan Azizah tak terlihat pekerjaannya di rumah.
****
Keesokkan harinya, Jerry memulai untuk mencari pekerjaan.
"Ayah berangkat ya, Bun. Doakan Ayah semoga lancar," ucapnya sambil mengecup kening Azizah.
"Iya, Yah. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu," ujar Azizah.
Azizah pun bergegas untuk memandikan Diva dan mengantarkannya ke sekolah. Semua tugas dia kerjakan sendiri, kecuali memasak itu dikerjakan oleh Ibu Mertuanya.
Ada pesan dari gawai Azizah. Itu adalah dari Mamahnya.
[Zah, besok Mamah akan berangkat ke Indonesia untuk menghadiri acara akad nikah adikmu. Bisa tolong jemput Mamah di Bandara gak?]
[Jam berapa, Mah?]
[Sekitar jam lima sore.]
[Iya bisa, Mah]
[Sebelum ke rumah Ayahmu, Mamah mau mampir sebentar ke rumah mertuamu. Mau kasih oleh-oleh untuk mereka.]
[Iya, Mah. Besok kabarin Azizah aja ya.]
Ada perasaan senang di hati Azizah, karena sudah sekian lama tak bertemu Mamahnya. Sesosok wanita tangguh dan pekerja keras itu, selalu menjadi panutan Azizah. Ia selalu berpikir ingin sekali menjadi Mamahnya itu.
__ADS_1
Bersambung ....