Aku Menantu Bukan Pembantu

Aku Menantu Bukan Pembantu
Part 13


__ADS_3

Terdayuh menyelimuti Azizah, seakan terkoyak dengan dahsyatnya. Deraian air mata pun membasahi pipi Azizah, begitu pilu hingga lemas tak berdaya. Sekujur tubuh terpaku, saat melihat Sang Ayah tertidur selamanya. Ia tak kuasa membendung rasa penyesalan di dada, berharap laki-laki yang dihormati, membuka matanya kembali. Tidak ada henti-hentinya, dia mengucap kata 'maaf' di depan jenazah Ayahnya. Isak tangis yang diiringin dengan bunyi sirene ambulance, hanya membuat dirinya menunduk sambil berdoa.


Jerry tak tega melihat istrinya begitu terpukul. Jerry selalu berusaha menenangkan Azizah, memberi kekuatan untuk selalu tetap tegar. Rafael juga memeluk sang Bunda, seperti tahu dengan kondisi yang dialami bundanya. Azizah menatap keduanya, ternyata ia masih memiliki orang terkasih yang peduli dengan dirinya. Dia menghapus air matanya dan berusaha tersenyum di depan mereka.


Sesampai di rumah Ayah Azizah, ia keluar dari mobil ambulance, berjalan mengikuti sang Ayah berada. Terlihat tatapan sinis dari kerabat dan tetangga atas kepulangan dirinya, yang sudah lama tak pulang. Banyak cibiran yang terdengar oleh Azizah, tapi ia hanya diam, tidak mempedulikan dengan perkataan mereka.


Sejujurnya banyak sekali hal yang aku ingin ceritakan padamu ... Ayah, bercengkrama bersama menumpahkan segala kerinduan kita. Namun, egoku telah menutup pintu hati ini, rasa takut akan engkau yang tak akan merestui pernikahanku dengan Jerry. Aku sungguh menyesali semua ini. Maafkan anakmu ini, jika tak bisa memberi kenangan indah di saat terakhirmu.


Azizah termenung, menyesali semua yang sudah terjadi. Hatinya terpukul, karena tak sempat bertemu dengan sang Ayah untuk terakhir kalinya. Sering kali Mamah Azizah, memberitahu bahwa Ayahnya meminta dirinya untuk pulang, tapi permintaan itu tak dilakukan olehnya. Bukannya tak rindu, hanya saja semua begitu rumit. Ini tak semudah yang semua orang lihat, butuh keberanian diri dan mental untuk menghadapi semuanya. Alasan ia belum mau pulang saat itu, karena takut dan belum siap dengan tanggapan Ayahnya juga keluarga besar.


Pemakaman sang Ayah akan dilaksanakan esok harinya, menunggu kedatangan Mamah Azizah. Saat malam itu dikabarkan Ayahnya meninggal, sang Mamah langsung bergegas memesan tiket untuk pulang ke Indonesia.


[Zah, Mamah sudah membeli tiket. Besok subuh), Mamah langsung berangkat ke sana.]


Mamah Azizah mengirim pesan ke gawai Azizah, memberitahu akan kepulangannya. Terkadang ia berpikir, bagaimana bisa membahagiakan Mamahnya yang sudah lansia itu. Ada rasa ingin membahagiakan, di saat masa tuanya. Namun, Mamahnya masih bekerja demi kebutuhan keluarganya.


****


"Kamu jangan kebanyakan melamun, Bun." Jerry menghampiri Azizah yang sedang duduk di depan Jenazah Ayahnya.


"Iya, Yah," jawab Azizah lesu.


"Gak baik kalau kebanyakan melamun. Rafael udah kamy kasih makan belum?" tanya Jerry.


"Ya ampun, aku hampir lupa. Yaudah aku kasih makan Rafael dulu ya, Yah." Azizah pun langsung bergegas untuk membuatkan makanan Rafael.


Lalu tak lama Aisyah menghampiri Azizah.

__ADS_1


"Duh gimana sih jadi Ibu, kasih makan anaknya aja sampai lupa," celetuk Aisyah.


"Kakak bukannya lupa, hanya saja tadi terlalu banyak melamun," sanggah Azizah.


"Ngelamunin apa? Nyesel gitu datang pas Ayah sudah meninggal? Kemarin-kemarin kemana aja? Kok baru sekarang nyeselnya." Aisyah terus menyudutkan Azizah.


Azizah tak menjawab perkataan adiknya, ia pergi meninggalkan dan segera menuju Rafael. Dia tak ingin ada masalah saat sedang berduka. Banyak juga mata yang memandang ketika Aisyah berkata seperti itu, lebih baik dirinya mengalah, daripada harus menambah masalah.


Terdengar nada dering dari gawai Mamah Azizah.


"Zah, Mamah sudah sampai Bandara. Tidak usah jemput, Mamah naik taxi aja dari sini," ucapnya melalui telepon.


"Iya, Mah. Hati-hati ya," ujar Azizah.


Beberapa jam kemudian, Mamah Azizah pun tiba. Prosesi pemakaman pun akan dilaksanakan. Azizah menatap seakan tak rela, memeluk Mamahnya bersama tangisan yang kencang. Entah berapa kali, kata 'penyesalan' itu diucap oleh dirinya, serasa hancur yang dirasakannya.


Azizah masih berdiam diri di depan pemakaman sang Ayah. Menatap papan kayu yang betuliskan nama orang terkasih, menaburkan bunga di tempat peristirahatannya yang terakhir.


"Zah, sudah yuk. Kita pulang," ajak Mamah Azizah.


"Bentar, Mah. Zizah masih rindu dengan Ayah," sahut Azizah.


"Yang sedih gak hanya kamu, tapi Mamah, kakak dan adikmu juga merasakannya. Mamah juga sangat kehilangan, tapi semua manusia pada akhirnya akan berpulang kepada-Nya. Kita ikhlaskan kepergian Ayah, jangan berlalrut dalam kesedihan. Kasihan Ayah, nanti dia menjadi berat dan tersiksa akan tangisan kita." Mamah Azizah menasehati anaknya.


"Iya, Mah," ucap Azizah.


Dengan langkah kaki yang begitu berat, Azizah pun pergi dari kediaman terakhir sang Ayah, Berusaha tegar dengan semua yang terjadi. Ia kembali ke rumah alm. Ayahnya.

__ADS_1


Sesampai rumah alm. Ayah Azizah, terlihat pandangan yang begitu risih. Azizah masih saja menjadi bahan omongan para tentangga dan Aisyah pun ikut berkerumun dengan mereka.


"Ternyata masih punya pikiran juga untuk pulang. Aku kira gak akan pulang-pulang, gak akan ingat rumah karena sudah dapat suami yang kaya," celetuk Aisyah menyidir Azizah.


Azizah hanya menatap Aisyah, ia tak sama sekali menggubrisnya. Azizah sadar bahwa memang dirinya sudah terpandang buruk di sini. Pergi dari rumah 3 tahun lamanya, membuat ia tak ada lagi tempat di rumah ayahnya sendiri. Ada rasa rindu tentang suasana rumah ketika masih kanak-kanak, begitu bahagia tak ada rasa beban dan pilu yang telah dirasakannya saat ini.


****


"Mah, Zizah pamit pulang ya," ucap Azizah.


"Iya, kamu hati-hati ya di jalan," ujar Mamah Azizah.


"Dia pulang, Mah?" timpal Aisyah.


"Iya, Syah. Kenapa?" tanya Mamah Azizah.


"Gak ikut pengajian malam dulu?" tutur Aisyah.


"Enggak, Syah," jawab Mamah Azizah.


"Oh iya, dia kan bukan bagian dari keluarga ini. Udah beda sama kita." Lagi-lagi Aisya mengucap kata yang membuat hati Azizah sakit.


Azizah langsung pergi begitu saja, terlalu pedih yang dikatakan Aisyah. Mamah Azizah berusaha memanggilnya. Namun, ia tetap berlalu menuju jalan keluar. Dia sadar bahwa dirinya saat ini memang sudah berbeda jalan denga keluarganya.


Andai waktu dapat kuulang kembali, mungkin saja ada kebahagiaan terselip dalam diriku, bukan keasaan dan keterpurukan yang pedih seperti ini.


Azizah hanya bisa meneteskan air mata, berkelut dengan pikiran yang kacau. Tak mengira hidupnya akan seperti ini, begitu perihnya jalan yang ia pilih. Berharap suatu saat nanti akan ada kebahagiaan yang menghampiri.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2