
Setelah kepergian ayahnya, Azizah jadi sering termenung, baginya ini begitu terlalu cepat. Ia belum sempat meminta maaf kepada sang ayah, memohon ampun atas apa yang sudah dilakukannya. Karena rasa sedih itu belum hilang, dia jadi sering lupa dan salah dalam mengerjakan tugas rumah.
"Zizah ....," teriak Ibu Mertua Azizah.
"Iya, Mah," sahut Azizah.
"Kamu belum cuci pakaian Mamah yang ini?" tanyanya dengan nada yang melengking.
"Ya ampun, belum, Mah. Zizah lupa," jawab Azizah.
"Duh kamu gimana sih? Jelas-jelas kemarin Mamah udah bilang, cuci baju ini, karena hari ini mau dipakai ke acara kondangan teman Mamah. Masih muda kok udah pelupa," ketusnya sambil berlalu meninggalkan Azizah.
Azizah hanya tertunduk diam, untuk kali ini dia memang salah, karena benar-benar lupa apa yang disuruh oleh Ibu Mertuanya itu. Terlalu banyak yang dipikirkan, Azizah masih sangat terpuruk atas meninggalnya sang ayah. Hatinya bergelut dalam keputus asaan, seakan tertampar oleh ujian yang datang melanda. Terundung pilu menorehkan luka, hingga batin tersiksa. Dirinya pun merasa gamang, seperti kehilangan arah.
"Bun, kamu ngelamun lagi?" tanya Jerry.
"Enggak kok, Yah," jawab Azizah.
"Kalau enggak, kenapa diam aja?" tanyanya kembali
"Aku masih kepikiran ayah," sahut Azizah.
"Sudahlah, Bun. Ikhlaskan kepergian ayahmu, ia sudah tenang di sana. Aku yakin, ayah juga udah memaafkanmu," ucap Jerry berusaha menenangkan Azizah.
"Iya, aku tahu, tapi rasanya aku bukan anak yang berguna," tangis Azizah.
"Udah ya, Bun. Kamu harus tegar, ingat ada Rafael, aku dan juga mamah kamu," ujarnya sambil memeluk Azizah.
Tangis Azizah kembali pecah, dirinya tak kuasa membendung air mata yang terus mengalir ke pipi. Bukan hanya rasa kehilangan, rasa bersalah terus menyelimuti Azizah. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri, karena tak pernah pulang ke rumah. Bila saja, ia mendengarkan kata mamahnya waktu itu, mungkin masih bertemu dengan ayahnya dan tidak terlambat untuk meminta maaf.
Mengapa dahulu aku begitu bodoh? Hanya karena rasa takut dan keegoisanku, aku tak mau pulang.
Perasaan kalut itu terus menggerogoti hatinya, terbesit kegalauan yang tiada henti. Namun, semua itu tak dapat bisa kembali. Azizah terus menguatkan dirinya untuk tetap tegar, demi Rafael dan Jerry.
****
"Zizah ....," panggil Ibu Mertua Azizah.
"Iya, Mah," sahut Azizah.
__ADS_1
"Kamu lagi apa sih?" tanya Ibu Mertua.
"Lagi duduk aja di situ," ujar Azizah.
"Duduk? Jadi kamu sekarang cuma malas-malasan saja? Pekerjaan rumah kamu biarkan begitu saja?" Terlihat raut wajahnya begitu marah.
"Enggak, Mah. Tadi Azizah hanya ...." Belum selesai bicara Ibu Mertuanya memotong ucapan Azizah.
"Alasan saja kamu ini, sudah sana cepat kerjakan. Semua masih berantakan, pusing Mamah lihatnya," celoteh Ibu Mertua Azizah.
"Iya, Mah," ucap Azizah.
"Yasudah, Mamah mau tidur dulu." Ibu Mertuanya pun langsung pergi meninggalkan Azizah.
Azizah tertunduk lesu, rasanya ia tak semangat mengerjakan semua ini. Namun, jika tak dikerjakan pasti Ibu Mertua akan memarahinya. Karena memang sudah tugas Azizah mengerjakan pekerjaan rumah kecuali memasak.
Setelah Azizah memberi makan Rafael dan Diva, ia baru mengerjakan yang lain. Rumah yang cukup besar ini, hanya Azizah yang melakukannya seorang diri. Dari yang membersihkan, di langit-langit platfon yang tinggi, membersihkan kolam renang, menyapu dan mengepel dan sebagainya, dikerjakan Azizah. Hal itu sudah terbiasa dilakukan olehnya. Terkadang Jerry suka membantunya.
"Mau aku bantu, Bun?" Jerry menghampiri Azizah yang sedah kesulitan menjangkau langit-langit platfon.
"Gak usah, Yah. Nanti aku dimarahi Mamah kamu, kalau bantuin aku," tutur Azizah.
"Yaudah, Yah. Makasih ya, udah bantuin aku," ucap Azizah.
"Kamu tuh kaya sama siapa aja. Aku ini suamimu jadi wajar saja jika aku membantu," jelas Jerry.
"Hehe, iya, Yah," sahut Azizah.
Saat ini Jerry belum mendapatkan pekerjaan kembali, semenjak insiden kecelakaan itu. Jerry berusaha terus melamar pekerjaan, tetapi belum ada satu pun panggilan interview. Sekarang kegiatan suami Azizah itu, hanya di rumah membantu pekerjaan Azizah dan mengantar Mamahnya ke pasar.
Azizah yang melihat suaminya sedang termenung langsung menghampiri, sambil membawa makan siang untuk Jerry.
"Ini makan siangngnya udah aku siapin. Kamu kenapa? Tumben diam aja."
"Iya, Bun. Makasih ya. Aku cuma lagi mikir, kenapa belum ada panggilan interview.
"Sama-sama, Yah. Sudah tak usah terlalu dipikirkan, jika memang sudah waktunya pasti akan ada panggilan interview."
"Aku itu seorang suami dan Ayah, rasanya aku gak berguna karena belum bisa menafkahin kamu dan Rafael dengan layak."
__ADS_1
"Kamu gak boleh berbicara seperti itu. Aku tahu kamu itu suami yang bertanggung jawab. Berdoa saja, semoga suatu saat nanti kamu mendapat pekerjaan sesuai dengan ijazah sarjanamu."
"Iya, Bun."
"Ya udah, aku juga mau nyuapin makan Rafael ya," jelas Azizah.
Kehidupan mereka dipenuhi dengan lika-liku. Namun, Azizah dan Jerry tahu, bahwa ujian ini yang akan membuat mereka menjadi lebih tegar. Saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Karena terkadang perjalanan hidup tak selalu berjalan dengan apa yang kita mau.
****
[Zizah, tolong balik telepon Mama, penting!]
Setelah membaca pesan dari Mamahnya, Azizah segera menelepon Mamahnya.
"Halo, ada apa, Mah?" tanya Azizah penasaran.
"Kakakmu barusan telepon Mamah, katanya sertifikat rumah dibalik nama jadi punya Suaminya," jelas Mamah Azizah.
"Maksudnya bagaimana, Mah?" tanya Azizah, yang belum mengerti dengan perkataan Mamahnya.
"Waktu itu ketika ayahmu dirawat di rumah sakit, Mamah minta tolong kakakmu untuk membayar biaya perawatannya, karena Mamah belum gajian dan sampai sekarang belum Mamah bayar ke kakakmu, dia mengubah nama di sertifikat iu," tutur Mamah Azizah.
"Kenapa bisa begitu? Bisa-bisanya Kakak seperti ini, pasti dia dihasut suaminya, Mah. Aku tahu betul dulu Kakak tak rakus dengan harta," ujar Azizah.
"Entahlah, Zah. Walau dia bukan anak kandung Mamah, tapi dulu Mamah sekolahkan sampai kuliah Mamah yang biayain. Kenapa sekarang dia berlaku seperti ini kepada Mamah? Hanya karena belum bisa bayar utang," ucap Mamah Azizah dengan nada sedih.
"Mamah yang sabar ya. Coba nanti diomongkan baik-baik lagi." Azizah berusaha menenangkan Mamahnya.
"Sudah, Zah. Dia bilang itu bukan rumah Mamah lagi, tapi udah jadi hak milik dia. Rumah itu akan dibagi-bagi untuk menjadi rumah kontrakan dan adikmu, jika ingin tinggal di situ harus bayar sewa kontrakannya," tangis Mamah Azizah.
"Ya ampun, sampai segitunya?" Azizah terkejut, dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya itu.
"Iya, Zah. Sebenarnya rumah itu adalah hak kamu dan Aisyah, karena itu rumah Mamah yang beli, tapi kakakmu tega telah mengambil rumah kita," ucap Mamah Azizah dengan suara parau.
"Ya sudah, Mah. Semoga nanti ada jalan keluarnya, biarkan saja hak kita diambil, karena Tuhan akan selalu ada untuk menolong kita," tutur Azizah.
"Iya, Zah. Mamah kerja lagi ya," ucap Mamah Azizah.
Azizah tak habis pikir, mengapa kakaknya bisa tega melakukan hal tersebut? Padahal dulu kakaknya itu begitu baik dan penyayang. Semenjak menikah terlihat banyak perubahan sikap dari kakaknya itu.
__ADS_1
Bersambung ....