Aku Menikahi Musuhku

Aku Menikahi Musuhku
Part 11


__ADS_3

Nara dikurung di dalam ruangan yang gelap tanpa adanya sinar matahari. Alden benar-benar sadis memperlakukan Nara.


Nara bagaikan seorang tahanan. Tidak ada lagi yang menarik di hidupnya. Dikhianati dan dijatuhkan sedalam-dalamnya membuat kepercayaan Nara terhadap dunia ini perlahan pudar.


Tak ada keadilan yang bisa membuatnya yakin jika hidup di dunia sebuah anugerah. Jika Nara sudah tersesat terlalu jauh maka ia berharap ada seseorang yang menyadarkannya.


Kondisi Nara sangat memperihatinkan. Keadaan batinnya terguncang tapi yang membuat orang-orang terkagum adalah, Nara tampak berusaha untuk melawan kondisinya walau tak akan semudah itu melewati semua yang sudah terjadi padanya.


Nara bersandar di tembok dan menatap ke depan dengan pandangan kosong. Perlahan air matanya jatuh dan senyum pun tak ada lagi di wajah yang dulunya sangat ceria.


Di depannya ada makanan yang sudah habis dilahap. Nara berharap ada celah keluar dan ia membutuhkan tenaga agar bisa keluar dari tempat ini.


Sementara Alden memberi makannya agar Nara bisa kuat melayani nafsunya. Terbukti dari pria itu yang hampir datang setiap saat minta dilayani.


Nara membenci kecantikannya dan tubuhnya. Ia ingin menyakiti diri sendiri bahkan pernah Nara memecahkan piring lalu menggoreskan bekas pecahan itu ke pipinya agar ia terlihat jelek dan tak lagi disukai oleh Alden.


Tapi apa yang dilakukan oleh Alden? Ia bahkan sama sekali tak peduli. Dan mulai saat itu Nara berpikir jika apa yang ia lakukan akan merugikan dirinya sendiri.


"Nara."


Pintu ruangan yang gelap gulita itu pun terbuka dan Nara bisa melihat cahaya setelah sekian lama. Ia hanya diam dan membiarkan Alden masuk.


"Bagaimana?"


"Aku tidak takut dan tak akan setuju dengan keinginan mu! Jika aku tak bisa membunuh mu maka aku harus bunuh diri karena kegagalan ku."


"Apakah kau yakin melakukan itu Nara?"


Nara tertawa tipis dan menatap Alden dengan mata sembabnya. Ia seolah meremehkan pria itu.


"Kau pikir aku akan takut? Apapun yang kau lakukan agar aku bisa membunuh mu, aku tak akan pernah menakutinya."


"Ku rupanya sangat terobsesi untuk membunuh ku," ucap Alden sembari bertepuk tangan.


Ia menghampiri Nara dan mencengkram dagu Nara. Nara meringis merasakan sakitnya.

__ADS_1


"Kau sangat cantik Nara."


"Kau gila!"


"Gila karena kecantikan mu." Alden merasa puas dengan ucapannya.


Ia memperhatikan wajah Nara dengan seksama. Mata indah Nara juga tak luput dari pengamatannya. Alden juga melihat dengan jelas jika ada kemarahan di sana.


"Kau!! Aku akan membunuh mu."


"Aku siap mati di tangan mu sayang," ucap Alden sembari memberikan smirk mematikannya. "Aku senang bermain dengan mu."


Alden menyambar bibir Nara secepatnya. Nara berusaha untuk melawan dan mendorong tubuh Alden.


Plakk


Nara menatap Alden dengan napas memburu. Tangannya terkepal dan napasnya tersengal-sengal karena terbawa emosi. Alden menyentuh wajahnya dan lalu memejamkan mata.


"Cukup sakit."


Alden tertawa gelak. Tawanya begitu mengerikan bak orang yang sudah gila karena obsesi.


"Nara! Nara! Bunuh saja aku, bunuh!! Aku siap mati di tangan mu, itu pun jika kau bisa membunuh ku." Hal yang tak disangka-sangka adalah Alden menyerahkan pistol miliknya pada Nara. "Bunuh aku sesuai dengan keinginan mu agar kau puas."


Nara menatap pistol yang berada di genggamannya. Ia terdiam dengan pandangan ragu-ragu.


Nara mengangkat pistol itu dengan tangan gemetar ke hadapan Alden. Ia memejamkan mata dan mengingat semua kenangannya bersama Alden yang mereka habiskan beberapa tahun belakangan ini.


Air matanya mengalir karena mengingat itu. Apakah ia tega membunuh Alden? Tapi kembali lagi dendamnya yang menggebu-gebu dan sebuah bisikan di telinganya agar ia menembak pistol itu kepada pria tersebut.


Nara berada di tengah-tengah rasa bingung dan juga cemas. yakinkah dirinya melakukan hal tersebut? Tapi memori kebersamaannya dengan Alden juga terus berputar di kepalanya seolah ingin menghentikan Nara.


"Kenapa? Kau tidak bisa melakukannya?" Alden meremehkan Nara. Ia tahu Nara memiliki hati yang sangat lembut dan tak akan mudah untuk membunuh dirinya.


Alden meraih pistol tersebut dan membimbing Nara untuk menarik pelatuknya.

__ADS_1


"Aku akan membantu mu," ujar Alden yang berniat membantu Nara untuk membunuhnya.


Nara tak menghiraukan Alden. Dengan yakin Nara menarik napas panjang dan tanpa diduga oleh pria itu Nara menembak Alden beberapa kali. Timah panas itu menyentuh tubuh Alden hingga Nara merasakan ada cairan panas yang menetes di atas kakinya.


Cairan itu terus menitik ke kakinya bahkan menjadi genangan. Nara hanya diam sesaat dan masih syok dengan apa yang ia lakukan. Ia menatap Alden yang hanya diam setelah ditembak.


Nara masih menyimpan perasaan simpati kepada Alden. Bagaimana pun ia dan Alden memiliki kenangan yang sangat banyak.


Nara menangis dan langsung memeluk tubuh Alden.


"Maafkan aku. Tapi kau memang harus mati. Karena aku sudah merasa puas maka aku juga akan ikut mati bersama mu." Nara bersiap untuk menembakkan pistol yang ada di tangannya kepada tubuhnya.


Ketika Nara hendak menarik pelatuk pistol itu, namun dengan sangat tiba-tiba Alden mengambil pistolnya.


"Waktu habis." Nara terdiam. "Sayang, kau terbukti sangat peduli pada ku. Bagaimana mungkin aku bisa mati jika kau saja menembaknya dengan ragu-ragu. Aku tak akan mati semudah itu. Tembakan seperti ini adalah makanan ku sehari-hari. Bahkan aku pernah lebih dari ini dan apa yang aku rasakan tak ada apa-apanya."


Alden tertawa kencang. Nara tak habis pikir. Apakah dia tadi kena menembak Alden? Tapi tadi dengan sangat jelas ia merasakan panasnya darah dan itu artinya Alden benar-benar tertembak. Atau ini hanyalah khayalannya?


Alden memejamkan matanya lalu memeluk Nara.


"Tunggulah aku sebentar sayang. Aku akan kembali untuk mu. Bersiap-siaplah sebelum kau melayani ku. Ah, sebentar aku harus membersihkan luka kecil ini."


Terkejut? Tentu saja, bahkan ia masih dalam keadaan kaget sampai saat ini. Sekuat itu kah Alden? Lantas harus seperti apa dia membunuh Alden jika pria tersebut tak mempan dengan senjata?


Nara diam dan memikirkan cara. Mendengar suara tembakan dan darah yang terasa jelas di tubuhnya malah menambah trauma Nara.


Ia meringkuk di dalam kegelapan ruangan tersebut dan mendekap tubuhnya sendiri.


"Aku merindukan kalian. Tuhan monster seperti apa yang saat ini aku hadapi? Kenapa dia benar-benar sudah kuat? Mampukah aku membunuhnya?"


_________


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

__ADS_1


__ADS_2