
Sesuai dengan hukum yang ada, Alden memang harus dihukum karena kejahatannya. Pria itu sudah terlampau banyak melakukan kejahatan meskipun ada niat baik dan penuh dendam di balik semua itu.
Tapi semua yang ia lakukan memang tak bisa dielakkan lagi. Pria itu bersalah dan sudah sepantasnya ia mendapatkan hukuman yang setimpal karena kejahatannya.
Saat ia berhasil diringkus, Alden langsung dijebloskan ke penjara. Bahkan ia sulit sekali untuk mendapatkan pembelaan. Karena seluruh masyarakat yang pernah dirugikan olehnya berdiri di depan pintu gerbang untuk menyuarakan perasaan mereka yang ingin Alden dihukum seberat-beratnya.
Nara pun tak bisa menampik saat sidang kasus pembunuhan orang tuanya, ia juga ikut sedih. Meski memang Alden lah yang benar karena ingin membela keluarganya, tapi dengan cara menghancurkan keluarga orang.
Nara setiap malam hanya bisa merenung di tepi jendela. Wanita itu sangat menyedihkan dengan dirinya yang terus memikirkan Alden.
Wanita itu juga tak pantas membela Alden karena Alden memang harus masuk ke dalam penjara dan juga mendapatkan hukuman dari segala perbuatannya.
Sidang baru saja selesai dan Alden ditetapkan hukuman 8 tahun penjara dengan denda yang lumayan banyak.
Dari denda tersebut lah Alden dapat menangguhkan tahanannya yang bisa saja ia akan dihukum mati.
Nara menarik napas panjang. Wanita itu lantas memejamkan matanya. Malam kali ini terasa hampa bagi dirinya. Tak ada hal yang lebih menarik karena Nara mengalami cemas yang berlebih.
Sementara itu ia sudah melahirkan dua Minggu yang lalu, dan kondisi kesehatan Nara benar-benar sangat memburuk.
Suara tangisan bayi membuat Nara kontan terkejut. Wanita itu lantas berlari ke keranjang bayi dan melihat jika bayinya tengah menangis hendak meminta susu.
Nara merasa tak sampai hati. Ia pun memberikan ASI nya untuk sang anak yang sangat tampan bernama Jhone.
Tatapan Nara tak bisa lepas dari Jhone yang menurutnya anaknya itu sangat mirip dengan Alden.
Hanya melihat dengan wajah Jhone ia bisa sedikit mengobati rindunya kepada sang suami.
"Aku merindukan mu, ku harap kau akan lebih baik setelah ini," ucap Nara lalu menarik napas panjang dan memejamkan matanya.
___________
Nara menatap ke para aparat negara yang sedang menghubungkan monitor ke monitor yang ada di ruangan penjara.
Karena status Alden adalah penjahat kelas atas lantas membuat dirinya tak bisa ditemui dengan mudah. Layar monitor tersebut pun perlahan memperhatikan Alden yang ada di seberang sana.
Air mata Nara seketika tumpah melihat pria itu. Ia mengepalkan tangannya dan berharap Alden bisa merasakan rindu yang juga sama dirasakannya.
"Nara," ucap Alden menatap wanita itu dengan sangat tidak percaya. Pun sama dengan Nara yang menatap Alden sangat tidak percaya bahwa kini suaminya berada di dalam penjara.
"Ini anak kita," ucap Nara yang kemudian mengambil Jhone dari baby sitter nya.
Alden pun melihat dengan sangat jelas sang buah hati yang cukup tampan. Ia harus menunggu 8 tahun agar bisa dapat menyentuh sang buah hati.
__ADS_1
"Dia laki-laki?"
Nara mengangguk. "Ya dia laki-laki dan sangat mirip dengan mu."
"Dia memang sangat mirip dengan ku. Nak tunggu aku, aku akan datang kepada kalian." Saat Alden menyebutkan kata-kata tersebut tak terasa air mata Nara pun tumpah.
Wanita itu menangis kencang karena saking tak menyangkanya bahwa ia hanya bisa berkomunikasi dengan sang suami melalui layar monitor dengan waktu yang sangat terbatas.
Dan benar saja waktu pun berjalan dengan sangat cepat. Dan waktu Nara untuk berkomunikasi dengan Alden telah berakhir. Hingga mengharuskan wanita itu pun merelakan sang suami di depan matanya.
"Jaga dirimu baik-baik di sana. Sebentar lagi kita akan berpisah. Kuharap kau dapat menjaga anak kita. Aku pasti akan datang kepada kalian. Jangan pernah berpikir untuk selingkuh dariku," ancam Alden kepada Nara. Kata-kata tersebut sekaligus kalimat terakhir yang akan diucapkan oleh Alden.
"Tentu. Dan jaga dirimu juga baik-baik. Aku akan menunggu mu kapan pun itu," jawab Nara sembari menitikkan air matanya.
Kemudian layar monitor pun berubah hitam. Tak ada lagi wajah Alden di sana. Hal itu pun menyentuh sampai ke hati Nara.
Nara memandang anaknya yang berada dalam gendongannya. Dia tersenyum lebar lalu mengusap ubun-ubun sang anak.
"Kau akan menjadi anak kebanggaan kami. Kuharap kau tak akan pernah marah dengan ayahmu sendiri."
__________
8 Tahun kemudian
Kebutuhan Jhone pun semakin meningkat. Terlebih lagi harta mereka sudah habis terkuras saat menangguhkan hukuman sang ayah.
Sampai saat ini Jhone tidak tahu ayahnya di mana. Walau kadang banyak teman-temannya yang membully karena ayahnya berada di dalam penjara dan merupakan penjahat.
Tapi Jhone tetap bangga dengan sang ayah. Ia belum pernah melihat sang ayah di dalam penjara, karena Nara tak ingin melakukan itu.
Nara pun menghela nafas panjang. Ia mengusap pelipisnya yang mengeluarkan peluh. Semakin hari kebutuhan semakin meningkat. Sementara itu mencari uang sangatlah sulit.
Nara harus bekerja keras agar bisa membiayai keluarganya. Wanita itu bahkan sampai banting tulang untuk membiayai sekolah Jhone.
Nara lantas meletakkan makanan yang telah Ia buat ke atas meja. Ia pun memanggil Jhone yang masih asyik bermain game online di kamarnya.
"Jhone!!"
"Siap Mom!"
Setelah itu keluarlah sang anak dari dalam kamar. Jhone berjalan gontai menuju ke arah meja makan.
Untungnya anak itu sangat pengertian dengan kondisi keluarganya. Ia tak pernah sama sekali ke atas dengan masakan Nara yang tergolong sangat sederhana.
__ADS_1
"Masakan mu cukup lezat."
"Tentu saja," jawab Nara dan mengusap kepala Jhone.
Mereka pun makan dengan hikmat dan tak menyadari jika ada orang yang tengah memperhatikan keluarga itu sambil tersenyum lebar.
Ia pun menghampiri Nara dan Jhone. Senyumnya mereka lalu menyebut nama anak pria yang ada di depannya.
"Kau Jhone?"
Nara pun berhenti makan. Ia sangat terkejut saat mendengar suara itu. Perlahan, Nara mengangkat pandangannya. Dan benar saja jika saat ini ia melihat orang yang telah ditunggunya beberapa tahun.
Mata Nara berkaca-kaca.
"Kau siapa?" tanya Jhone heran.
"Aku ayah mu."
"Papa?" Jhone pun menatap ke arah ibunya, "apa benar itu Mom?"
"Yeah thats your Papa," jawab Nara.
Nara yang tak kuasa menahan rindu berlari bersama Jhone memeluk tubuh Alden.
"Kau sudah bebas?"
"Iya. Apakah kau lupa dengan hari kebebasan ku?"
Alden pun mengecup puncak kepala Nara. Ia menatap ke arah sang anak lalu menggendongnya.
"Sudah sangat lama aku menantikan diri mu. Dan akhirnya aku bisa memeluk mu."
"Papa! Jhone rindu dengan Papa."
"Aku pun begitu." Alden menciumi seluruh wajah Jhone hingga anak itu pun tertawa gelak.
Nara yang melihat keharmonisan keluarganya kembali pun ikut mengembangkan senyum. Ia memeluk tubuh Aldara.
"Aku masih sama seperti dulu. Semoga apa yang terjadi pada mu dapat menjadikan pembelajaran buat mu."
________
END
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA