
Nara lekas masuk ke dalam rumah. Ia bisa menebak jika pria itu berpihak kepadanya tapi tetap saja Nara tak bisa mempercayai seseorang dengan begitu mudahnya. Wanita itu harus menahan ketakutan yang luar biasa hingga mengeluarkan keringat dingin.
Napas Nara tersengal-sengal keluar dari hidungnya. Dadanya turut kembang kempis.
Alden yang merasa bingung melihat Nara dalam keadaan cemas dan ketakutan lantas menghampiri wanita itu.
"Apa sesuatu terjadi?" tanyanya dengan suara yang dingin membuat Nara yang merasa sendiri di ruangan itu langsung terkejut.
Ia menatap ke arah Alden dengan mulut yang terbuka. Nara hendak menjawab tapi seketika itu pula ia menanam mulutnya. Ia lupa jika orang di depannya adalah Alden.
"Tidak apa-apa. Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun." Nara berusaha untuk tampil lebih maksimal agar dirinya tak dicurigai oleh Alden.
Secara perlahan dia sudah mendapatkan kebaikan dari Alden. Nara berharap jika kebaikan tersebut terus berlanjut hingga akhirnya ia berhasil menyakiti pria itu.
"Kau berbohong pada ku Nara!" Alden menarik pinggang Nara lalu mendekapnya dengan sangat erat. Ada tanda penuh keposesfan di sana.
"Eum... Aku... Aku mengatakan yang sebenernya," ucap Nara dengan dada yang berdetak kencang mengiringi kalimat yang ia keluarkan. Lantas bagaimana mungkin Alden bisa percaya kepadanya jika ia sendiri tak percaya dengan ucapannya.
Nara menarik napas panjang. Dalam hatinya terus menggerutu. Ia melirik Alden dengan diam-diam, apakah ekspresi pria itu menunjukkan dia sudah percaya apa belum. Nara sangat berharap jika Alden langsung percaya kepadanya.
Tapi ekspresi dari Alden memang sangat membingungkan Nara. Nara menatap pria itu harap-harap cemas sembari mengigit bibirnya.
"Baiklah. Jika aku tahu kau bohong maka kau harus mendapatkan hukuman."
Alden membawa Nara ke dalam pelukannya dan Nara sedikit bernapas lega. Alden mengusap kepala Nara dan meletakkan kepalanya di bahu Nara.
"Nara."
__ADS_1
"Hm?" Suara Alden begitu dalam seperti terdapat sesuatu yang ingin ia sampaikan terbukti dari nadanya yang sedikit cemas.
"Hari ini aku sangat lelah. Begitu banyak yang harus aku tangani."
Alden merenggangkan pelukannya pada Nara. Ia pun tersenyum lebar dan menyentuh kedua pipi Nara. Nara terkesiap dan mendongak mengikuti tuntutan dari tangan Alden.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau sangat lelah, Paman?"
"Aku rasa banyak sekali pekerjaan yang harus aku lakukan. Banyak pengganggu dan pihak aparat yang tak berguna itu terus mengejar ku. Benar-benar melelahkan. Ku harap lekas keluar dari situasi ini," ucap Alden yang menceritakan masalah yang ia hadapi di luar. "Tapi tiap kali melihat betapa cantiknya diri mu membuatku sedikit lebih bersemangat. Aku harap kau selalu menjadi penyemangat ku." Nara mengangguk. Kali ini ia benar-benar tulus merasa kasihan pada Alden.
"Paman memang pekerjaan seperti apa yang kau lakukan?"
Alden tersenyum miring. Ia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Nara. Nara merasa tubuhnya meremang dan ada aliran darah dingin saat ia merasakan hembusan napas dari Alden.
"Kau tahu pekerjaan apa? Baiklah karena keingin tahuan mu yang sangat tinggi maka aku akan mengatakannya kepada mu. Jadi aku bekerja sebagai seorang mafia besar. Kau jangan terkejut karena itu sudah menjadi bagian dari hidup ku. Aku baru saja mengeksekusi mati orang yang berkhianat kepadaku. Tidak hanya satu, makanya aku sangat kelelahan karena itu."
Nara mengerjapkan matanya. Benarkah yang dikatakan Alden? Ia pun langsung lemas dan menatap pria itu dengan tidak percaya.
"Kau...." Nara tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya karena air matanya tanpa bisa dicegah keluar hingga membuat ia pun terisak-isak. Nara berusaha untuk melawan rasa takutnya tapi melihat Alden dan mendengar segala hobi pria itu membuatnya mual dan pusing.
Alhasil Nara pun jatuh pingsan dan untungnya ada Alden yang menahan tubuh Nara.
"Sudah aku duga kau bukan sudah benar-benar menerima ku. Kau terpaksa, tapi tak apa. Walau itu terpaksa aku akan tetap menjadikan mu orang yang harus berada di samping ku selamanya." Nada yang keluar adalah nada yang penuh dengan obsesi dan juga posesif.
____________
Nara membuka matanya dan ia melihat ruangan yang serba putih. Ruangan tersebut adalah rumah sakit pribadi yang ada di rumah Alden. Belakangan ini dia selalu berada di dalam sini untuk pemulihan.
__ADS_1
Nara menarik napas panjang dan memejamkan matanya kembali. Ia masih ingat dengan entengnya Alden menceritakan pekerjannya. Nara sangat tak menyangka jika saat ini ia hidup serumah bersama seorang monster.
Apakah setelah ini dirinya yang akan mati? Benarkah? Nara akan mati dibunuh Alden. Entahlah Nwra berharap sebelum kematiannya ia ingin membalaskan dendam kedua orangtuanya.
"Alden." Nara terkejut saat melihat pria itu ternyata ada di ruangan yang sama dengannya dan tengah memperhatikan dirinya.
Nara ketakutan tapi ia berusaha untuk menahan rasa takutnya. Alden menyadari hal itu saat ia melihat Nara meneguk ludah tak nyaman.
"Kau takut pada ku, sayang? Sudah aku katakan jika kau harus kuat mental jika ingin mengetahui apa pekerjaan ku. Karena kau yang terus mendesak ku maka aku tak punya pilihan lain untuk mengatakannya, dan yeah kejadian seperti ini pun terjadi."
"Kenapa kau membunuh mereka? Kenapa kau tidak memberikan mereka harapan untuk hidup."
"Sayang, asal kau tahu aku benci pengkhianatan. Aku tak akan bisa membiarkan seorang pengkhianat hidup. Huh, kepercayaan ku jika sudah dikhianati maka aku tak akan lagi untuk percaya."
Deg
Nara jelas tengah melakukan pengkhianatan. Apakah saat Alden mengetahuinya ia akan dibunuh?
"Jika itu aku apakah kau akan membunuh ku?" tanya Nara dengan euara serak karena tak bisa membayangkan nasibnya.
Alden menatap Nara tajam. Tangannya terkepal saat mendengar pertanyaan yang tak ingin ia dengar. Alden membuang muka dan tak menjawab pertanyaan Nara.
Pria itu kemudian pergi dan hanya Nara yang tersisa di ruangan itu. Nara diam dengan segala pertanyaan-pertanyaan di benaknya.
"Jika aku harus mati maka aku sudah harus menyakiti perasaan mu."
__________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.