
Kehamilan Nara semakin hari semakin terlihat besar. Wanita itu tak bisa melakukan aktivitas banyak seperti biasanya. Selain itu Nara juga sibuk dengan kegiatan rumah tangannya menjadi istri di umurnya yang masih sangat muda hingga membuat ia sedikit kerepotan.
Alden bahkan jarang pulang. Ia tak masalah tapi terkadang sangat merindukannya. Tentang Alden yang sangat kejam, sampai sekarang pria itu bahkan tak pernah berubah dan tetap bersikap seperti dulu.
Nara sebagai wanita yang memiliki hati sering menasehati Alden. Tapi Alden malah hanya akan mendengarkan dirinya tapi tak mengerjakan apa yang ia perintahkan.
Nara hanya bisa bersabar.
Nara menghela napas panjang. Hampir seharian penuh ia menatap ke luar jendela untuk menunggu mobil suaminya datang. Tapi entah kenapa hari ini Alden benar-benar susah untuk dihubungi.
Nara merasa sangat cemas. Ia menggenggam tangannya dan menunduk. Ia tak ingin menangis hanya karena sangat khawatir kepada pria itu.
Tapi sekali lagi, hati seorang wanita tak bisa dibohongi. Tak biasanya Nara merasakan seperti ini. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan mengatakan jika Alden mendapatkan masalah.
Nara pun keluar dari dalam kamarnya. Ia berjalan mondar mandir di depan pintu sambil sesekali mengusap perut buncitnya.
Wanita itu menarik napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Itu terus ia lakukan berulang-ulang.
Rose yang sedang melintas tak sengaja melihat Nara yang sedang sibuk dengan pikirannya itu. Merasa heran, Rose lantas mendekati Nara.
"Ada apa dengan mu?"
Nara menoleh ke arah Rose dan tersenyum tipis.
Mungkin ini adalah pembicaraan mereka yang pertama kalinya setelah sekian lama dan mendapatkan teguran dari Alden di hari pernikahan mereka.
Ia benar-benar tak lagi berkomunikasi dengan Nara. Padahal Nara sering mengajaknya berbicara tapi wanita itu seakan tengah menghindar darinya.
"Rose." Ada rasa rindu yang sangat berat di nada Nara saat ia menyebut nama suster tersebut.
Rose merasakan ada desiran di perutnya saat mendengar namanya dipanggil oleh Nara.
"Ada apa dengan mu? Tampaknya kau sangat khawatir "
__ADS_1
"Entahlah Rose. Aku merasa sangat tidak enak hari ini. Seperti telah terjadi sesuatu kepada Alden. Aku benar-benar khawatir kepadanya."
Rose menghela napas panjang. Ia tak merespon kekhawatiran Nara. Perempuan itu membuang pandangannya.
"Mungkin hari ini adalah hari yang kau tunggu dari dulu, Nara. Musuh-musuh Alden sedang memburu pria itu dan mungkin saat ini Alden sudah tak lagi bernyawa. Kau tak perlu khawatir karena kami bekerja sama dan sudah mengetahui di mana titik kelemahan Alden. Maka hari ini aku berani berbicara dengan mu karena aku sudah mengetahuinya." Nara terkejut bukan main.
Jantungnya seakan hendak gugur. Wanita itu memandang marah ke arah Rose. Ada wajah tak menyangka juga di sana.
"Rose apa yang kau lakukan?" Emosi Nara hendak meledak. Sekujur tubuhnya bergetar mendengar berita itu.
Selain itu ia juga merasakan jika ada perasaan yang menusuk di dadanya. Rasanya sangat sakit. Air mata yang ditahan oleh Nara pun tak sanggup lagi bertahan di netranya hingga harus keluar dan menetes di pipi indah Nara.
"Kau benar-benar jahat Rose!!"
Nara pun pergi ke luar dan berusaha untuk mencari pengawal Alden agar bisa membawanya ke tempat pria itu.
Tapi Nara hanya bisa menatap semua itu dengan cemas sebab rumah ini sudah dikuasai oleh orang-orangnya musuh dari Alden. Bahkan ia tak sadar jika dirinya tengah disekap di dalam rumahnya sendiri.
Pikiran Nara hanya terpaku kepada pria itu. Ia begitu khawatir kepada Alden yang entah ada di mana sekarang. Melihat jika semuanya bukan orang-orangnya Alden membuat tingkat kecemasan Nara pun semakin berada di puncak.
Nara menarik napas panjang dan kemudian memejamkan matanya. Ia pun sudah pasrah karena dirinya yang tak bisa melakukan apapun kepada Alden.
_____________
Alden menatap kepada anak buahnya yang sudah banyak roboh. Pria itu tahu jika dirinya tak lagi memiliki kesempatan untuk melawan karena mereka sudah dikatakan kalah telak.
Hanya tersisa beberapa orang yang menjadi buronan. Mereka sangat licik untuk menjebak Alden. Apalagi dengan liciknya juga mereka meminta bantuan kepada pihak kepolisian.
Padahal mereka juga tak ada bedanya dengan dirinya.
Alden yang penuh akan amarah itu menatap ke arah Paulus yang tersenyum miring. Pria itu seakan tengah mengejek dirinya.
Saat ini Alden memendam dendam kepada pria itu.
__ADS_1
"Apakah kau sudah puas dengan semua ini?" tanya Alden kepada pria tersebut.
Dari bahasanya tampaknya Alden tak juga menyerah. Karena pria itu yakin dengan jumlahnya yang sedikit mampu untuk melawan mereka semua.
"Apakah kita akan melawan mereka?" tanya Monica yang sambil mengacungkan pistol di depannya.
Wanita itu sangat waspada. Tubuhnya penuh dengan darah tapi tak membuatnya gentar sama sekali.
Bahkan Monica pun jika harus melawan mereka dengan jumlah pasukannya yang sedikit ia tetap berni. Tidak ada kata takut di dalam kamus hidupnya.
"Ya kita akan melawan mereka dari pada menjadi pecundang."
"Baiklah."
Alden menembak ke arah Paulus yang kemudian menjadi keributan pada pasukan mereka. Tembakan demi tembakan terus bergema di udara hingga menyebabkan banyak nyawa melayang dan juga kerusakan parah.
Dengan lincahnya Alden menembak mereka semua hingga banyak anak buah dari Paulus yang meninggal di tempat karena tembakan dirinya.
Ia pun membidik tepat ke arah tangan kanan Paulus hingga pria itu tertembak di bahunya. Kemudian Alden mendekatinya dengan bibir yang menukik ke atas.
"Apakah kau sudah puas bekerja sama dengan dia? Mungkin hari ini adalah hari penjemputan ajal mu." Alden pun menembak pria itu yang tersungkur di lantai dengan beberapakali tembakan hingga darahnya menyembur ke wajah Alden.
Alden tertawa puas melihat tangan kanan Paulus yang meninggal di tangannya.
"Hahahaha!! Siapa yang bisa mengalahkan ku?!!"
Dor
Alden menutup mulutnya dengan rapat. Seketika itu ia merasakan jika darahnya mengalir dari kepalanya dan juga darah keluar dari bibirnya.
Alden berbalik dan ia melihat Paulus yang tengah mengacungkan pistol di depan dirinya.
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.