
"Kau benar-benar kejam melakukan itu kepada mu. Dia akan semakin membenci mu. Apakah kau sudah gila?" tanya Monica kepada Alden.
Ia bahkan sampai menepuk meja kerja Alden tanpa rasa takut sama sekali pada atasannya itu. Ia tak habis pikir kepada Alden yang bisa melakukan hal yang mengerikan kepada Nara.
Monica adalah seorang wanita dan ia paham apa yang dirasakan oleh Nara. Wajar dia sangat marah besar. Dikurung di tempat yang tak memiliki cahaya lalu diancam serta diperkosa beberapa kali, mungkin jika itu adalah Monica tak akan sekuat Nara mentalnya.
Sudah lama ia akan mengakhiri hidupnya mengingat hidup hanya menjadi budak nafsu dan tak memiliki kesempatan untuk bernapas bebas.
"Kau!" geram Alden melihat keberanian Monica. "Aku tahu apa yang aku lakukan salah di matanya tapi aku memiliki cara ku sendiri. Aku hanya menunggu dia hamil anak ku."
Monica ternganga mendengar jawaban Alden. Oh Tuhan benarkah seorang manusia di depannya ini?
"Kau ingin menghamili dia? Dia akan semakin membenci mu. Kau bodoh karena dia pasti akan terkena gangguan mental, kelakuan mu saja membuat dia setres apalagi dihamili oleh mu."
Monica menggelengkan kepalanya. Ia lalu menerbitkan senyum yang diliputi amarah lalu kemudian menjauh dari Alden.
"Alden! Kau benar-benar gila," umpatnya. Hanya Monica yang memiliki nyali seperti itu.
"Aku tahu tapi menurut ku apa yang aku lakukan adalah benar. Jadi kau jangan sok berkomentar."
Monica merasa panas mendengar jawaban Alden. Ia ingin melawan balik pria itu tapi Edgar menahan tangannya.
"Kau ingin mencari mati? Kau pikir kau yang hanya merasakan sakit? Ingat kau masih memiliki teman yang ingin kau ada di sini!" ujar Edgar yang berusaha menahan Monica. Ia tak ingin Monica sahabatnya tersangkut masalah ini. Apalagi Edgar tahu sendiri bagaimana kejamnya seorang Alden.
"Aku tidak bisa diam. Rasanya aku ingin menghajar Alden."
"Jangan sok berani kau ingin melakukan itu, kau pikir kau siapa?"
"Apa maksudmu? Kau meremehkan ku. Apakah aku harus diam saja selamanya? Kau sama saja gila. Aku tidak terima yah!"
"Monic, bukan seperti itu. Hey MONIC!!" teriak Edgar melihat Monica yang tampak menjauh dan sangat membenci dirinya.
Alden diam menatap ke arah jendela. Ia tutup telinga mendengar pertengkaran kedua orang yang ada di sampingnya.
Saat ini hanya yang dipikirkan oleh Alden adalah Nara. Kenapa wanita itu menjadi candu bagi Alden? Bahkan ia tak peduli sebenci apapun Nara kepadanya asalkan Nara tetap di sisinya.
__ADS_1
Alden menarik napas panjang. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan kemudian melewati dua pasangan yang tengah bertengkar itu.
Monica dan Edgar terdiam melihat sang atasan yang tampak muram bahkan tak peduli padanya. Ia pun saling tatap.
"Ada apa dengannya? Apa yang ingin dia lakukan lagi? Apakah kurang puas menyakiti hati seorang wanita?"
"Sudah aku katakan tutup mulut mu itu. Kenapa kau selalu tak bisa paham dengan kata-kata orang?" tanya Edgar lalu juga pergi dan hanya Monica di sana.
Edgar mengajar Alden. Ia pun berjalan di sisi atasannya tersebut.
"Apakah semua yang aku lakukan salah?"
"Aku kurang tahu karena aku bukanlah seorang wanita. Mungkin bagi Monica yang juga sesama wanita merasakan jika ini salah. Kau tidak perlu peduli dengan kata-katanya. Dia memang sedikit aneh."
Alden menarik napas dalam. Ia menatap Edgar sekilas.
"Dia marah kepada ku bahkan tak ingin makan. Aku juga menawarkan latihan untuk membunuh ku."
Edgar menatap Alden dengan tatapan tak percaya. Apa benar yang dikatakan oleh atasannya tersebut? Kenapa Alden bisa melakukan hal konyol itu.
"Aku tidak takut dengan semua ini. Bahkan nyawa pun aku relakan jika Nara memintanya."
"Ck, aku tidak tahu apakah yang kau katakan ini benar atau tidak. Ku rasa hanya orang bodoh yang bisa merelakan nyawa."
Alden menatap Edgar sekilas.
"Kau tidak meringankan pikiran ku. Lebih baik aku membunuh saja ketimbang mendengar ocehan mu."
Alden berjalan ke ruang eksekusi sambil mengeluarkan pistolnya. Tampak sekali jika laki-laki tersebut sangat haus akan darah.
__________
Alden menatap orang yang ada di depannya. Tatapannya begitu kelam juga terdapat kemarahan saat melihat orang yang sangat dicintainya berada di dalam buth up dalam keadaan bersimbah darah. Bahkan Alden tak bisa membedakan mana darah dan air.
Ia pun mendekati tempat pemandian itu lalu memandang Nara dengan matanya yang berkaca-kaca. Tangannya terkepal penuh dengan amarah. Matanya memerah menunjukkan jika tak ada ketenangan di dalam sana.
__ADS_1
Alden menarik napas panjang dan kemudian menyentuh tubuh Nara dengan bergetar.
Ia pun mengangkat tubuh Nara yang tak berdaya tersebut. Air mata yang berusaha ditahan oleh Alden pun seketika jatuh. Ia merasa sakit melihat Nara yang dalam kondisi lemah dan tak berdaya.
"Dokter!! Suster!!" teriak Nara kepada dokter sekaligus suster pribadinya tersebut.
Ia merasa panas dingin melihat mereka yang menurut Nara sangat lelet.
"Ada apa?"
Plak
Alden menampar dokter dan suster itu seketika. Mereka terkejut sekaligus kaget melihat Nara yang hampir sekarat.
"Apa yang terjadi?"
"Apakah yang kau lihat di depan mu belum jelas?!!" teriak Alden marah. "Kemana kalian? Kenapa ini bisa terjadi?!! Kalian benar-benar konyol. Jika ada apa-apa dengan dia maka nyawa kalian yang menjadi taruhannya."
Alden pun mengeluarkan pistolnya. Mereka terkejut dan lekas menangani Nara. Sementara itu Alden duduk sembari mengawasi mereka.
Sebringas apapun seseorang namun jika orang yang dicintainya disakiti ia akan marah dan akan berniat ingin membunuh orang lain yang tak bisa menyelamatkan orang yang dicintainya.
Nara dipasangkan semua alat medis ke tubuhnya. Macam-macam dilakukan untuk menyelamatkan Nara. Sementara itu ia suster juga menjahit luka yang menganga di bagian perut Nara.
Alden mengepalkan tangannya. Ia merasa gagal karena tak bisa menjaga Nara. Semua itu ia ungkapkan penuh akan amarahnya dan ia bahkan memukul dinding dengan cukup keras.
Napas pria itu tersengal-sengal dan memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya yang tak terkendali. Sementara itu para suster dan juga dokter yang berada di dalam sana melihat kengerian pada Alden pun terdiam dan ketakutan.
Mereka berusaha melakukan yang terbaik agar bisa selamat dari ancaman Alden. Nasib yang malang karena harus menjadi dokter dan suster pribadi Alden. Karena mereka tak ada pilihan lain untuk menolak.
___________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1