
Ada di mana saat Nara merasa lelah dengan kehidupannya. Pernah ia berpikir ingin mengakhiri semuanya dengan menyayat urat nadinya.
Tidak mudah menjalani kehidupan yang penuh dengan kehitaman. Tak ada lagi dunia yang membuat Nara bahagia.
Ia bahkan berpikir jika ia akan selamanya menjadi orang yang tak bisa melakukan apapun. Padahal jika Nara berusaha ia akan mendapatkan jalan yang dia inginkan. Tapi sayangnya jalan itu yang tidak ada.
Hidup Nara penuh dengan kegelapan. Tak ada cahaya yang bisa menuntunnya keluar dari kelamnya hidup.
Gadis yang bersurai panjang itu hanya menatap lurus ke depan padahal tak ada apapun yang bisa ia lihat selain kegelapan.
"Nara!" Seseorang masuk ke dalam ruangannya.
Tak perlu ditebak lagi sudah pasti itu adalah Alden. Seytan yang berwujud manusia. Kekejamannya sudah tidak termaafkan lagi.
Bahkan Nara sampai muak kepada pria itu. Tapi di dalam hati Nara juga masih menyimpan kenang-kenangan bersama Alden.
Ia ingin Alden seperti dulu tapi tak mungkin karena Nara sendiri akan merasakan sesuatu yang berbeda jikalau pun Alden sudah berubah.
Wanita itu menarik napas panjang dan membuang muka ketika langkah Alden semakin dekat.
"Kau belum makan juga?" Alden menatap ke piring Nara. "Kenapa kau tidak ingin menghabiskannya? Apakah kau ingin berhenti berjuang?" Alden seakan meremehkan Nara. Memang dia adalah orang yang paling berniat ingin kabur dan memakan semua pemberian Alden agar ia bisa memiliki stamina untuk melawan Alden.
Hingga pada akhirnya Nara pun sadar sejauh apapun ia berusaha jika dia hanyalah orang lemah ia tak akan bisa lepas dari belenggu Alden. Malah yang ada akan menyakitinya sendiri.
Di mana Alden hanya memberikannya makan karena memiliki niat agar ia bisa bertenaga untuk melayani pria itu. Apa yang diharapkan oleh Alden pun terkabul malah bukan keinginannya yang terpenuhi.
"Menyerah heh?"
Nara diam dan tak ingin menanggapi suara pria yang tak memiliki perasaan itu. Mungkin hati nuraninya sudah mati hingga ia pun tak merasakan rasa kasihan kepadanya.
Nara menyandarkan punggungnya di tembok. Dunia ini terlalu melelahkan. Nara lantas memutuskan memejamkan mata.
"Kau tidak ingin makan? Yakin?" Nara merasakan jika ada ujung sendok yang ingin mendobrak bibirnya.
__ADS_1
Nara menggenggam tangannya marah. Ia merasa hina diperlakukan seperti itu.
Ia pun membuka mata dan menarik sendok Alden lalu menyantap makanannya sendiri.
"Kau ingin membunuh ku, bukan? Aku memiliki caranya. Aku akan memberikan mu senjata dan juga aku akan membawa mu ke ruangan yang lebih bersih supaya kau bisa berlatih. Selain itu aku juga akan mengawasi latihan mu."
Nara merasa heran kenapa Alden ingin melakukan itu. Padahal dirinya adalah orang yang menjadi target pembunuhan tapi dengan cara suka rela mengajarkan Nara agar bisa membunuhnya.
Nara merasa jika Alden sudah gila. Bukannya senang malah Nara semakin takut. Ia merasa jika ada sesuatu yang direncakan oleh Alden. Tidak mungkin dia dengan mudah menyatakan itu dan ingin membimbingnya.
"Apa yang ingin kau lakukan? Kau kira aku semudah itu percaya dengan mu."
"Kau pikir aku bercanda? Bahkan aku tak sempat untuk bercanda dengan mu. Apa yang aku katakan semuanya serius. Aku akan membantu mu untuk membunuh ku."
Nara terkesiap mendengar suara dingin Alden. Ia merasa ketakutan dengan sikap Alden. Pria ini benar-benar seorang pisikopat.
"Aku tidak ingin membunuh mu." Tidak mungkin Alden bisa dibunuh semudah itu. Bahkan beberapa kali tembakan yang ia lepaskan kemarin juga berhasil ditahan oleh Alden dan buktinya ia masih berdiri di depannya.
"Tapi sayangnya aku ingin melihat bagaimana cara mu membunuh ku."
"Kau pikir aku tidak tahu jika kau memiliki maksud lain. Bagaimana pun aku berusaha jika kau tak bisa ditembak maka semuanya percuma saja."
"Kau ternyata sudah pintar. Tapi seperti kata ku semuanya sudah terlambat dan aku ingin melihat kau membunuh ku."
Alden mengangkat tubuh ringan Nara dan membawanya keluar. Nara terpekik kaget saat Alden dengan entengnya mengangkat tubuhnya.
"Lepaskan aku ba.jing.an!!" teriak Nara saat dibawa keluar oleh Alden dan ia pun merasa pening karena baru pertama kali melihat cahaya seluas ini setelah sekian lama.
Akibat rasa pening yang menghantamnya membuat Nara tak bisa menahan cahaya matahari lalu pingsan.
___________
Perlahan mata indah yang senantiasa terpejam pun membuka seperti bunga yang baru saja mekar.
__ADS_1
Nara memijat keningnya akibat rasa pening yang masih menggerogotinya. Selain itu Nara tampak pucat karena kekurangan pigmen akibat selalu dikurung di tempat gelap.
Ia melenguh sakit tapi perlahan Nara juga merasakan nyaman ketika ada tangan yang memijat keningnya.
"Kau tampak kelelahan sayang."
Nara diam dan menatap ke atas.
"Kenapa kau membawa ku? Apakah kau tidak mendengar penolakan ku?" tanya Nara dengan raut yang amat sedih.
"Aku tidak peduli. Sudah aku katakan semuanya yang memegang kendali adalah aku."
Nara menoleh kepada Alden. Ia tertawa sumbang.
"Kau benar-benar egois telah melakukan itu pada ku. Pernah kah kau berpikir bagaimana aku menahan semuanya dengan rasa sakit. Bahkan aku tak bisa memaafkan kau yang telah merenggut kebahagiaan ku."
"Aku akan membuat mu bahagia Nara."
Nara tertawa pelan. Tapi di nada tawa itu terselip kata-kata yang seolah tengah mengejek pria itu.
"Kau konyol sekali. Aku sangat menikmati drama ini."
Alden memandang Nara tak suka. Ia merasa jika Nara terlalu meremehkan dirinya. Padahal apa yang ia ucapkan tak pernah main-main.
"Nara kau tahu apa yang aku katakan tidak pernah aku ingkari. Aku bisa membuat mu bahagia dengan cara ku sendiri.
"Kau pikir aku akan percaya dengan bulan mu itu?" tanya Nara kepada Alden. "Bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika kau memperlakukan ku seperti binatang. Tidak ada orang yang akan bahagia jika diperlakukan seperti itu. Kau benar-benar membual! Kau pembual ulung. Dan aku membenci mu Alden!!! Kenapa aku harus bertemu dengan monster seperti mu? Kenapa!!!"
_________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1