
Tak ada informasi apapun yang Nara dapatkan mengenai Alden. Entahlah sebegitu berpengaruhnya kah Alden sampai-sampai banyak orang yang tutup mulut demi pria itu.
Nara masih sangat penasaran tentang Alden. Jawaban yang diceritakan oleh Rose sama sekali tak membantu dirinya. Itu hanyalah cerita bassic yang Nara sendiri tahu.
Nara memejamkan matanya. Dunia ini terlalu kejam untuk orang yang seperti dirinya. Tak ada tempat sama sekali bagi Nara untuk mencurahkan perasaannya. Karena semua orang yang ia sayang sudah tidak ada. Jika pun ada orang yang dekat dengannya pastilah dia adalah bawahan dari Alden. Nara membenci fakta jika ia adalah wanita lemah.
Bahkan Nara sendiri masih bergantung kepada Alden. Ia heran kepada dirinya yang terlalu bodoh dan tak bisa memikul masalah.
"Nara."
Nara terkejut mendengar suara itu. Suara khas milik Alden tentunya yang selalu hadir di tidur malamnya. Nara menatap ke arah Alden lalu setelah itu membuang wajah.
Perasaan yang penuh kecewa kepada Alden. Ia tak mungkin memaafkan pria itu dengan mudah walau Alden sudah melakukan banyak hal baik kepadanya.
"Kau belum tidur?" lanjutnya.
Nara bergumam sekilas, "hm."
Alden pun menghampiri Nara dan kemudian memeluk tubuh wanita itu. Nara terkesiap saat merasakan pelukan Alden. Ia pun membuka matanya dan melihat Alden yang tengah tersenyum ke arahnya.
Senyum yang amat mematikan bagi Nara. Ia membenci senyum itu dan sungguh sangat membencinya.
"Ada apa kau kemari? Aku tidak membutuhkan kehadiran mu."
"Apakah benar begitu sayang? Oh sayang sekali tapi aku ingin tetap melihat mu walau kau sendiri tak memberikan izin kepadaku," ucap Alden kepada Nara sambil menyusupkan kepalanya ke leher Nara.
Nara teridam karena ia merasakan geli di tengkuknya. Nara berusaha untuk menjauhkan Alden tapi ia tak memiliki akses banyak karena tubuh nya saat ini tengah di kukung oleh pria itu.
"Kau! Aku membenci mu."
"Sudah dari kemarin aku mendengarnya dan aku sangat bosan. Tidak ada kah cara lain kau memaki ku? Seperti katakan I love you?" ujar Alden yang sengaja menggoda Nara.
Sementara itu Nara sangat merah kepada Alden yang bersikap seenaknya kepada dirinya. Ia mendnegus dan lalu memejamkan mata.
Nara muak kepada Alden lebih baik caranya untuk membuat pria itu marah adalah dengan mendiamkannya.
Alden terus berbicara dan bertanya-tanya. Tapi tak ada satu pun kalimatnya yang direspon oleh Nara. Alden pun diam dan menatap wanita itu yang tampak tenang sudah tertidur.
__ADS_1
Alden tersenyum lebar dan mengelus surai indah milik Nara. Rambut yang begitu rapi dan dijaga sepenuh hati. Dulu Alden sangat menyukai rambut Nara dan Nara sengaja merawatnya untuk Alden.
"Kau tahu malam ini kau sangat cantik." Nara yang awalnya hampir larut dalam mimpi langsung membuka mata saat mendengar ucapan Alden tersebut.
Ia merasa ngeri sekaligus merinding jika Alden lah mengucapkan kata-kata tersebut di tengah malam buta seperti saat ini. Ucapannya tak murni karena terdapat kehendak lain pria itu di dalamnya.
"Kau tahu aku merasa tak enak jika kau mengatakan itu. Aku ingin tidur jangan ganggu aku. Aku sangat lelah."
Alden tentunya tak membiarkan Nara tertidur begitu saja. Ia pun menarik tubuh Nara dan lalu memejamkan dirinya di antara wanita itu.
"Kau pergilah! Aku muak."
Alden tersenyum tipis penuh dengan seringaian misterius.
"Aku ingin diri mu malam ini."
_____________
Nara membuka matanya. Sayup-sayup ia memandang ke atas yang serba putih. Ia pun menghela napas ketika sadar dirinya ada di mana.
Diam-diam ia meneteskan air mata. Kenapa lagi-lagi ia tak bisa melawan tadi malam. Bahkan Nara tak menikmatinya sama sekali, yang nyaman hanya Alden di sini.
Nara pun menghela napas panjang dan memejamkan matanya kembali. Waktu berlalu cepat dan Nara tak tahu kapan ia akan keluar dari dunia penuh kutukan.
"Nara."
Nara memandang ke arah suster Rose. Dialah yang selalu merawat Nara dalam keadaan apapun.
Nara juga melihat senyum ikhlas yang dimiliki oleh wanita itu. Ia merawat Nara dengan sepenuh hati.
"Rose."
"Kau harus makan. Kau terlalu lemah aku tak ingin sesuatu terjadi kepada mu," ucap Rose dan menghampiri Nara sembari membawa nampan yang berisi bubur di tangannya.
Ia tersenyum ke arah Nara. Senyum hangat yang sudah jarang dilihat oleh Nara.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Kau tak perlu berterima kasih karena sudah sepantasnya aku melayani mu."
"Ah ya."
Rose memandang Nara dengan wajah yang sangat prihatin. Kasihan sekali Nara. Bahkan Alden sama sekali tak memiliki hati nurani kepada wanita ini.
"Aku tahu kau sangat membencinya. Sudah aku katakan cara terbaik untuk kau membalas dia bukanlah membunuhnya tapi menyakiti dia berkali-kali hingga kau pun puas."
Nara teridam. Itukah yang harus ia lakukan agar dendamnya bisa terbalas. Nara hanya menundukkan kepala.
Nara berada di dalam keragu-raguan. Terlihat dari tadi dia hanya mengaduk buburnya.
"Kau hanya akan mengaduknya atau menyantapnya?" tanya Rose muak dan mengambil mangkuk bubur tersebut dari tangan Nara.
Kemudian ia pun memberikan suapan untuk Nara. Nara menghela napas panjang dan menyambar sendok yang disodorkan di mukanya.
"Kau tahu kau seperti anak kecil Nara." Nara tertawa pelan, "bagaimana keputusan mu? Apakah kau memenuhi keinginan ku? Jika tidak ingin aku pun tak memaksa."
Nara pun diam sesaat. Ia tampak berpikir keras. Diterima atau tidak? Jika ia menerimanya berarti ia juga harus mengorbankan dirinya. Tapi benar kata Rose cara terbaik membunuh Alden adalah dengan menyakiti hatinya.
"Baiklah. Kali ini aku akan mendengarkan mu. Memang sudah seharusnya aku melakukan itu." Nara pun dengan lantang mengatakannya.
Rose tersenyum senang dan langsung memeluk tubuh Nara. Ia mengusap punggung Nara dengan bahagia. Ini yang ia tunggu-tunggu dari Nara.
"Kau memang yang terbaik Nara. Aku yakin kau pasti bisa."
Nara mengangguk.
"Aku akan berusaha agar tak mengecewakan mu."
"Apapun hasilnya aku harap kau tak jatuh cinta balik kepadanya karena jika itu terjadi maka kau juga akan tersakiti."
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1