Aku Menikahi Musuhku

Aku Menikahi Musuhku
Part 22


__ADS_3

Tiba saatnya di mana hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nara dan Alden. Tentunya adalah hari paling bahagia di hidup mereka di mana pada hari ini mereka sama-sama akan mengucapkan janji suci seumur hidup.


Nara dengan diliputi kebahagiaan maju penuh percaya diri ke atas altar dengan dibimbing oleh Edgar yang menggantikan peran ayah untuk Nara.


Para hadirin yang hadir hanyalah rekan-rekan kerja Alden dan juga anak buah pria itu.


Di antara bahagianya wajah para undangan tapi ada salah satu undangan yang tetap datar dan juga tak pula membenci pernikahan ini.


Ia hanya prihatin kepada Nara yang kian terseret ke dalam gelapnya dunia hitam. Rose sudah memperingatkan Nara beberapa kali bahwa Alden tak akan pernah berubah jika Nara tak bertindak.


Akan tetapi Nara yang sudah buta dengan cinta itu tak akan pernah mau mendengarkan Rose. Ia anak yang baru saja puber dan menemukan cinta sejatinya. Sebagai sesama wanita Rose juga merasakan bahwa memang sangat berat untuk menyakiti orang yang sangat menyayangi kita apalagi itu adalah ayah dari anak yang dikandungnya.


Rose hanya bisa berdoa jika kali ini Nara bisa membawa Alden ke jalan yang benar walau itu masih menjadi hal yang mustahil.


Rose menatap ke depan dan ia melihat jika acara pemberkatan kedua pasangan pengantin itu telah selesai dan mereka resmi sudah menjadi pasangan suami istri.


Melihat wajah bahagia Nara membuat Rose merasa tak tega dengan anak itu. Nara tampak sangat ikhlas menerima hal-hal yang terjadi pada hidupnya jadi Rose memutuskan untuk tak terus memaksa Nara.


Nara memandang ke arahnya. Rose bisa melihat jika Nara tengah meyakinkan dirinya dengan tatapan itu. Rose membalas senyum Nara dengan sangat tulus.


Ini adalah akhir dari segalanya dan Rose berharap Nara bisa hidup bahagia dengan orang yang menjadi pilihannya.


Rose ikut seperti undangan yang lain yang memberikan selamat untuk pasangan pengantin tersebut. Rose menyalami Nara dan memberikan ucapan selamat kepada wanita itu.


"Selamat Nara. Kau benar-benar sudah menikah. Ku harap kau tak akan pernah menyesali keputusan mu dan rawatlah anak mu dengan baik." Alden yang berada di samping Nara tak nyaman mendengar kalimat yang diucapkan oleh Rose.


Ia menatap Rose dengan sangat tajam membuat Rose hanya bisa meneguk ludahnya dengan susah payah lalu menundukkan kepalanya dan pergi dari atas altar itu.


Nara yang merasa tak enak dengan Rose pun menatap ke arah Rose dengan pandangan sedih.

__ADS_1


"Rose," gumam Nara.


"Kenapa? Kau merasa sedih dengannya? Ataukah kau ingin memarahiku karena telah mengintimidasi dia?" tanya Alden dengan suara yang sedikit dingin.


Nara terkejut mendengar ucapan Alden tersebut. Ia pun menghelan nafas dan menggenggam tangan Alden.


"Kau tahu hari ini adalah hari bahagia kita? Apakah kau ingin terus membuat wajahmu seperti itu, Paman?"


Alden pun secara perlahan melunak mendengar suara Nara yang amat lembut.


"Baiklah. Aku tak memiliki pilihan lain. Kau benar hari ini adalah hari bahagia kita. Kita harus menikmatinya. Dan jangan lupakan malam ini," ucap Alden yang begitu seram menggoda Nara.


Nara yang tahu arah pembicaraan tersebut ke mana hanya mendengus kasar. Wanita itu pun diam. Mengingat hari ini adalah hari pernikahannya membuat Nara kembali ingat dengan orang tuanya. Selain itu memori masa kecilnya memutar bak sebuah kaset rusak yang terus menghantui pikiran Nara.


Rasa rindu akan keluarganya begitu menggebu. Mungkin Rose ada benarnya. Sementara itu pria yang telah membunuh orang tuanya tengah bersanding bersamanya di atas pelaminan. Ia bisa dikatakan pengecut sekaligus penghianat.


Nara yang begitu pusing dengan semua masalah ini pun hanya bisa pasrah dan mengikuti setiap alur yang ditunjukkan oleh Tuhan.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan," gumam Alden yang mengejutkan Nara.


___________


Nara merasakan gugup. Padahal malam-malam seperti ini sudah ia lalui hampir setiap hari. Tapi ini adalah malam pertama mereka yang berstatus sebagai suami istri.


Nara tak tahu bagaimana untuk bersikap. Sebelum kedatangan Alden ia lebih dulu untuk berdandan. Nara memandang dirinya di dalam kaca. Ia merasa jika tampilannya tersebut amatlah sempurna.


Wajah Nara senyum-senyum sambil menyentuh perutnya.


"Kau tahu ayah dan ibu telah resmi menikah. Kuharap kau akan tak merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan."

__ADS_1


Nara memejamkan mata dan kemudian ia membukanya kembali tatkala mendengar suara pintu yang bergesekan dengan lantai.


Nara memandang ke arah sumber suara dan ia terdiam membeku di tempat saat melihat Alden yang berdiri di depan pintu dengan menampilkan perutnya yang kotak-kotak.


Pria itu tampak sangat berwibawa. Nara mengakui hal itu. Di sisi lain, terdapat percikan darah di wajah Alden yang membuat Nara merasa terkejut dan merinding.


"Di malam pertama kita, kemanakah kau tadi?" tuntut Nara kepada pria tersebut.


Terdengar tarikan nafas dari Alden. Pria itu berjalan menghampirinya lalu memeluk dirinya. Alden juga menyembunyikan kepalanya di leher Nara.


Lalu ia mengecup leher Nara dengan amat brutal hingga membuat lenguhan keluar di bibir Nara.


"Kau tahu aku sangat candu dengan darah. Sebelum melakukan hubungan denganmu aku ingin membunuh seseorang."


"Alden," ucap Nara yang tak menyangka kepada pria itu. "Mau sampai kapan kau akan seperti ini?"


"Entahlah Nara. Mungkin aku tak akan bisa berhenti."


Tanpa sadar air mata Nara pun jatuh. Ia adalah wanita yang normal. Benar kata Rose jika Alden Tak segampang itu buat berubah.


"Tapi semua ini akan semakin buruk. Apakah kau tak ingin untuk menyerah dan berhenti dari kelakuan burukmu?"


"Nara. Tak ada gunanya jika kau memohon seperti itu kepadaku. Kau sudah terlambat dan dirimu juga sudah menjadi milikku. Jadi tak ada alasan buatku untuk berubah."


Nara hanya bisa memakan batin. Ia pun diam dan tak lagi peduli dengan ucapan Alden.


Sedangkan laki-laki tersebut sibuk dengan kegiatannya melahap tubuh Nara habis-habisnya.


_________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2