
Dalam kondisi yang sangat kritis, Alden berusaha untuk melarikan diri dari kejaran musuh. Usai tertembak peluru panas yang terbuat dari bahan emas yang sakitnya berkali-kali lipat membuat Alden tak bisa menahan sakitnya tertembak seperti biasanya.
Pria itu terus berlari dan melompati tembok yang menjulang tinggi. Ia tak menyangka jika dirinya akan kalah seperti ini.
Sialan, Alden tak bisa menerima semua kekalahan yang telah ia dapatkan. Alden akan memastikan jika dirinya akan bisa melawan mereka semua dan membunuh mereka dengan tangannya sendiri.
Alden menarik napas panjang dan bersembunyi di balik pohon besar. Napas pria itu tersengal-sengal. Ia berusaha untuk mendapatkan oksigen lebih banyak lagi untuk mengumpulkan tenaganya yang habis terkuras karena terus berlari.
Alden memejamkan matanya ketika ia mendengar suara derap langkah kaki yang cukup cepat dan tengah mengejarnya. Ia berusaha untuk bersembunyi di balik semak-semak itu agar tak ketahuan oleh mereka.
Tampaknya rombongan Paulus dan juga pasukan polisi menyadari jika mereka telah kehilangan jejak mereka hingga membuat mereka pun harus berpencar mencari Alden. Mereka pun berhenti tepat di depan pohon besar yang menjadi tempat persembunyiannya.
Alden mengepalkan tangannya. Darah senantiasa terus bercucuran dari bekas tembakan. Pria itu hampir kehilangan kesadarannya jika tak ada suara dentuman keras.
Ia pun melirik sedikit ke arah sumber suara dan Alden hanya bisa mendengus kasar saat melihat kantornya dibom dan diluluh lantakan.
Banyak berkas-berkas penting di sana. Ia pun tak tahu apakah yang lainnya selamat atau tidak. Tapi sungguh Alden penasaran dengan mereka. Baru kali ini ia mengkhawatirkan anak buahnya secara berlebihan.
"Sialan, aku harus membunuh kalian."
Alden menunggu mereka beranjak dari sana. Usai mendengar suara dentuman itu sebagian dari mereka kompak untuk pergi ke tempat sumber kejadian sementara itu sebagiannya lagi akan mengejar Alden.
Hingga mereka yang sudah pergi pun membuat Alden tenang. Ia bersandar pada batang kayu lalu menarik napasnya dengan bebas.
Pria itu memejamkan matanya dan menyentuh bagian tempat lukanya. Ia pun menghela napas panjang karena merasa jika saat ini ia benar-benar tak memilik banyak cara untuk menang bahkan tak ada peluang sama sekali.
Alden perlahan berdiri dan berjalan dengan tubuh yang sempoyongan. Ia pun mencari jalan yang berbeda dari mereka serta menelpon beberapa bantuan agar bisa membantunya.
Tak lama bantuan tersebut datang dan Alden lekas masuk ke mobil anak buahnya yang tersisa tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan di luar? Apakah masih belum stabil."
"Gawat Tuan. Rumah pribadi Anda sedang dikepung dan saat ini Nyonya ada di rumah."
Tangan Alden terkepal. Ia sangat marah saat tahu jika Nara ada di dalam sana tapi sedang disekap oleh mereka.
"Mereka tidak melakukan apapun terhadap Nara, bukan?" Alden harap jika Nara akan baik-baik di sana dan tak terluka sedikitpun karena Alden tak bisa menjenguk Nara.
"Aku harus memulihkan diri ku sebentar sebelum aku akan ke sana. Aku harus menyelamatkan Nara."
Alden menarik napas panjang. Ia yakin saat ini Nara pasti sedang dipengaruhi untuk memberontak kepadanya. Andai Nara tahu apa penyebab utama Alden membunuh orangtuanya. Bukan semata-mata karena harta walaupun juga itu salah satunya.
"Menurut mu apa yang aku lakukan kepada Nara apakah salah? Aku hanya ingin membalas dendam kepada Regan dan Janny. Mereka sudah tega membuat orangtua ku menderita hingga membuat ku yatim piatu. Aku dibutakan dendam sama seperti Nara terhadap ku saat tahu jika pembunuh orang tuanya karena aku. Orang tua Nara sudah banyak melakukan kejahatan. Ia akan melakukan apapun agar bisnis mereka berkembang. Mereka telah banyak menggusur milik orang-orang tak berpunya dan melawan mereka dengan uang. Bagaimana mungkin aku bisa tidak menyimpan dendam kepadanya."
Alden menarik napas panjang. Air matanya pun turun. Ia bersandar pada kursi mobil tersebut seraya menatap keluar jendela.
Ia teringat akan masa lalu bersama keluarganya yang sangat harmonis. Entah kapan lagi hal itu akan ia alami. Sekarang ia sudah memiliki istri dan keluarga. Istrinya adalah anak dari orang yang membuatnya menderita. Alden juga tak menyangka jika ia bisa jatuh pada pesonanya Nara.
Alden menarik napas panjang dan memejamkan mata.
_________
Alden berusaha untuk menyusup ke dalam kamar Nara. Dengan nyali yang sangat kuat ia berani mendatangi rumahnya yang sudah dikepung dan penuh dengan penjagaan.
Alden sama sekali tak takut dan pria itu sangat lincah saat melompat ke jendela demi jendela hingga ia sampai ke tempat di mana Nara dikurung.
Harapannya untuk bertemu dengan Nara pun semakin besar. Wajah Nara lah yang menguatkannya untuk berani nekat seperti saat ini. Alden menatap ke jendela di mana tempat Nara disekap.
Pria itu melihat jika ada bayangan Nara di sana. Senyumnya pun terbit dan rasa rindu yang sangat dalam kepada istri kecilnya perlahan sudah terbalaskan.
__ADS_1
Alden mengendap-endap menghampiri jendela tersebut dan membukanya. Kemudian pria itu masuk dan melihat jika Nara sedang termenung.
Ia pun menghampiri Nara sementara itu Nara belum juga sadar jika ada Alden.
Wanita itu tengah menangis sambil memegang perutnya. Selain itu ia tampak sangat frustasi dan Alden pun tak tega mendengar suara isakkannya yang memilukan hati.
Alden menarik napas panjang dan kemudian memeluk tubuh kecil Nara dengan erat.
Nara terkejut dan hampir berteriak. Ia mengira jika orang tersebut adalah orang lain. Tapi untungnya Alden dengan cepat membekap mulut Nara.
"Hey ini aku."
Nara berhenti memberontak tatkala ia merasa sangat mengenali suara itu. Ia pun berbalik dan melihat jika orang tersebut adalah Alden.
Nara bahagia lalu memeluk tubuh pria itu.
"Hiks, kau ada di sini. Kau benar-benar tak terluka, bukan?" tanya Nara dengan suara gemetar.
"Tentu saja tidak."
Tapi ada yang sangat mengganjal di hati Nara saat ini. Ia kemudian membisikkan sesuatu kepada Alden.
"Kau tahu sekarang ini kau sedang dijebak. Mereka sengaja menggunakan aku supaya kau datang ke sini. Maafkan aku, karena aku diancam dan aku tak ingin anak ku mati. Sekali lagi maafkan aku." Air mata Nara pun jatuh.
Alden menegang setelah mendengar bisikan Nara. Ia pun mendongak dan menatap ke depan jika benar saat ini seluruh senjata mengarah kepada dirinya.
_______
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.