
Nara menitikkan air matanya saat Alden dibawa oleh mereka. Nara hanya bisa menatap Alden tapi ia tak bisa menggapainya.
Kemudian Alden pun dibawa dari kamar dan dimasukkan ke dalam tempat introgasi miliknya. Mungkin pada saat itu Paulus akan berkhianat dari kepolisian dan main hukum sendiri untuk membunuh Alden.
Setelah Alden dibawa keluar, seketika itu juga Nara histeris dan menangis keras. Ia merasa takut jika akan terjadi sesuatu kepada Alden.
Rose yang bekerja untuk menenangkan Nara dengan cepat menghampiri wanita itu. Ia memeluk tubuh Nara. Tentu saja Nara tak sudi jika dipeluk oleh Rose.
Ia menjauhkan tubuh Rose dari tubuhnya. Bahkan Nara melayangkan tatapan horor kepada wanita itu.
"Kau pergi dari sini! Aku tak ingin kau ada di sini," ucap Nara dengan penuh menggebu-gebu.
Rose menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya. Ia pun memejamkan matanya karena tak tega dengan Nara. Apalagi wanita itu tengah hamil dan tentunya tak boleh mengalami stres.
"Kau tahu kau saat ini sedang hamil. Pikirkan bagaimana kehamilan mu. Apakah kau ingin terjadi sesuatu kepada anak mu?" tanya Rose kepada Nara.
Nara yang mendengar hal itu tentunya terbawa emosi. Bagaimana tidak, wanita itu sok perhatian kepadanya akan tetapi malah menyakiti dirinya dari belakang.
"Kau adalah wanita yang benar-benar sangat memalukan. Kau sok perhatian kepadaku tapi apakah kau tahu, jika di sini akulah yang terluka. Kau benar-benar tega telah membuat ayah dari anakku terancam nyawanya. Kau benar-benar munafik Rose."
__ADS_1
Nara pun memejamkan matanya. Ia menghela nafas panjang lalu kemudian duduk untuk bertenang. Tapi tetap saja ia tak akan bisa merasa tenang sedikitpun. Karena saat ini otaknya penuh dengan nama Alden.
___________
Di dalam ruang interogasi, Alden pun didudukan di kursi besi yang tersambung dengan listrik hingga bisa membuatnya tesentrum.
"Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau sudah berhenti menjadi orang emas kepolisian?"
"Aku hanya memanfaatkan dia. Buat apa aku peduli dengannya. Karena aku hanya membutuhkan mereka untuk menangkap mu."
Paulus sangat merasa senang karena rencananya berhasil untuk menjebak Alden.
Alden pun hanya bisa pasrah dan ia tahu jika saat ini dirinya sudah dikatakan kalah dari pria itu dan bahkan menjadi lelucon mereka untuk menertawakan dirinya.
"Tentu saja tidak. Bahkan kau mati pun aku belum puas. Aku akan puas saat mendengar teriakan suara kesakitan mu."
"Apakah kau yakin bisa melawan ku?" remeh Alden kepada Paulus.
"Kau sekarang sudah terikat di depan ku."
__ADS_1
Alden pun tersenyum miring. Mereka terlalu meremehkan dirinya hingga mereka tak sadar jika saat ini bahaya pun sedang mengancam mereka.
Tiba-tiba ruangan itu mengeluarkan bunyi letusan yang sangat kuat hingga membuat isi di dalam ruangan itu hancur lebur.
Bahkan kursi yang diduduki oleh Alden pun terlempar beberapa meter. Pasukan rahasia yang dibawanya dengan siap menyelamatkan Alden.
Alden dilepaskan dari kursi tempat orang-orang diintrogasi tersebut. Kedatangannya ke sini salah satu dari bagian rencananya untuk melawan balik Paulus.
Dan tanpa sadar mereka terkecoh dengan cara yang ia lakukan. Awalnya dia memang berpura-pura pasrah dan tampak lemah, tapi kali ini pria itu tampil dengan sangat memukau dan bahkan berani melakukan tembakan dan serangan bertubi-tubi ke arah lawan.
Rose yang datang ke tempat itu pun saat mendengar suara letusan bersama Nara yang penasaran tercekat melihat jika api menggebuk di ruangan tersebut.
Mata Nara membulat. Tapi ia semakin terkejut saat mendengar tembakan di depannya. Nara menutup mulutnya saat melihat Rose yang jatuh dengan berlumuran darah.
Ia menatap ke depan dan matanya juga terbuka spontan saat tahu jika orang yang melakukan itu adalah Alden.
"Alden."
_________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.