Aku Menikahi Musuhku

Aku Menikahi Musuhku
Part 20


__ADS_3

Nara menunggu Alden di rumah dengan cemas. Kali ini bukan lagi bagian dari misinya tapi murni karena hatinya. Ia juga tak mengerti kenapa perasannya tak tenang membuat Nara selalu memikirkan pria itu.


Ia pun yakin jika sesuatu terjadi pada Alden. Nara terus berdoa kepada Tuhan agar Alden disematkan meskipun ia sendiri ingin melihat Alden yang kalah telak dan meninggalkan dunia. Tapi entahlah sekarang Nara merasa tak tega mengatakan itu kepada Alden.


Ia berharap jika pria itu baik-baik saja. Nara menatap ke depan pintu rumah dengan pandangan cemas. Kenapa Alden belum juga pulang.


Nara menarik napas panjang dan duduk di sofa menunggu Alden. Ia pun tak sadar jika saking lelahnya menunggu pria itu pulang hingga ia tertidur. Nara tak sadar jika dirinya saat ini tengah tertidur di ruang tamu sambil menunggu Alden.


Alden yang baru saja pulang dan tengah memarkirkan mobilnya pun lantas masuk. Ia disambut oleh beberapa bodyguard dan Alden tak peduli dengan kehadiran mereka.


Ia hanya peduli dengan Nara. Tepat ketika ia membuka pintu Alden melihat jika kekasihnya itu tengah tertidur pulas di ruang tamu.


Alden menyunggingkan senyum di wajahnya. Ternyata Nara menunggunya pulang.


Ia pun menarik rambut Nara yang jatuh menutupi wajah cantiknya. Wanita itu terjaga dan mengusap matanya lalu mendongak melihat jika Alden lah yang datang.


Cepat Nara memeluk pria itu dan menangis tanpa ia sadari.


"Hiks, kenapa Paman baru pulang?" tanya Nara dengan sedih kepada pria itu.


"Maaf sayang tapi aku benar-benar lelah saat ini. Kita ke kamar."


Alden dan Nara sudah resmi satu kamar. Semua itu atas persetujuan Nara yang sudah berpikir panjang. Tentunya malam panas selalu terjadi. Perlahan Nara mulai menerima perlakuan Alden kepadanya. Semua itu demi balas dendam.


Alden mengangkat tubuh Nara dan membawanya ke kamar. Nara tertawa digendong sambil digelitik perutnya oleh Alden.


Suara Nara yang merdu mengayun di telinga Nara. Nara menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya dan merasakan jika tubuhnya berada tak lagi melayang tapi digantikan dengan kasur empuk yang menopang tubuhnya.


"Sebentar aku akan membersihkan diri dan akan menemui mu." Nara mengangguk.


Tapi ketika Alden berbalik barulah Nara sadar jika tubuh Alden penuh dengan darah. Ini tak sedikit tapi sangat banyak. Nara terkejut dan menarik tangan Alden.


"Paman apa yang terjadi dengan mu? Kenapa baju mu penuh dengan darah?" tanya Nara sangat khawatir.


Alden pun diam dan menatap gadis kecilnya. Ia tahu jika Nara sangat khawatir kepadanya. Senyuman di wajahnya terbit seolah tak ada masalah pada dirinya.


"Hey tenanglah. Aku baik-baik saja. Aku tak perlu takut aku kenapa-kenapa. Bukan darah ku tapi ini adalah darah para polisi yang tadi sempat mendeteksi keberadaan ku. Huh, sangat menyusahkan," ucap Alden yang sangat membuat Nara terkejut.

__ADS_1


Itu artinya Alden dikepung oleh pasukan negara. Oh Tuhan pamannya ini adalah buronan negara.


"Paman? Kau!!"


"Kenapa kau takut? Jika ku tertangkap tenang saja aku tak akan menarik mu ke dalam maslaah ku. Kau jangan takut," ucapnya sebelum mengusap kepala Nara.


Nara menahan napas. Alden benar-benar membuatnya merasakan hidup penuh dengan kecemasan.


"Kenapa kau tak berhenti? Kau terus sok jagoan seolah kau hebat dan bisa lari dari mereka. Sampai kapan pun kau tak akan bisa kabur Paman. Apakah kau tak ingin menyerahkan diri?" tanya Nara kepada Alden berharap jika itu sadar dengan kejahatan yang ia perbuat.


"Maaf Nara permintaan mu kali ini gak akan aku kabulkan," ucapnya dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Nara menghela napas panjang dan menjatuhkan kepala. Ia gagal telah membawa sang paman kejalan kebaikan.


Satu hal lagi yang terlintas di pikiran Nara, jika dengan polisi saja Alden tak bsia ditaklukkan apalagi dengan Nara yang hanyalah gadis kecil menurut Alden. Tentunya tak ada apa-apanya.


"Aku lelah."


____________


Alden menatap wanita yang ada di depannya. Ia baru saja pulang sekolah dan sangat riang.


Nara perlahan jinak dengan Alden. Bahkan ia perlahan melupakan misinya di awal karena saking terlena dengan kehangatan Alden.


Alden juga peduli pada Nara. Saat ini mereka baru saja mendapatkan berita yang amat membahagiakan bagi Alden karena Nara resmi dinyatakan tengah mengandung.


Pada waktu itu Nara panik dan ingin menggugurkannya. Tapi untungnya ia sangat menyukai anak-anak dan ingin memiliki anak. Maka ia pun memutuskan tak jadi membunuh jabang bayinya.


Apalagi dua bulan lagi dia akan tamat sekolah dan Nara bebas untuk hamil dan menikah.


"Nara! Hati-hati. Kau bisa melukai anak kita."


Nara tak peduli dan terus memeluk erat Alden.


"Hehe maaf Paman."


"Kau ini sudah mau memiliki anak dari ku tapi kau terus memanggil ku dengan Om. Apakah kau tak malu?" tanya Alden sembari mencium bibir Nara.

__ADS_1


Ia memangut dengan sangat dalam membuat Nara terbuai dan ikut membalas ciuman Alden. Alden pun menarik napas panjang dan melepaskan ciuman mereka dengan tidak ikhlas.


"Yah Paman."


"Orang akan melihat kita di luar."


Nara tersipu malu. Padahal dia ingin membunuh Alden tapi malah terbuai akan pesona pria itu.


"Ishh Paman."


Tiba-tiba Alden membawanya ke ruangan tengah yang didekorasi dengan kemewahan yang luar biasa. Hari ini adalah hari ulang tahun Nara dan Alden memberikan kejutan untuk Nara.


"Ini suprise untuk si cantik!"


Nara menatap Alden dengan haru. Ia pun memeluk Alden dengan sangat erat.


"Paman kau yang melakukan semua ini?"


"Tidak juga."


"Terima kasih."


Alden pun berlutut di depan Nara dan kemudian mengeluarkan cincin untuk Nara.


"Paman ini apa?"


"Aku sedang melamar mu. Will you marry me?"


"Kau? Kau benar-benar melamar ku?"


"Hm."


Nara memeluk Alden. "YES I WILL."


Suasana hati Alden saat ini tak bisa diceritakan hanya dengan kata-kata. sebab tak akan pernah mampu mendeskripsikannya saking pria itu sangat bangga dengan jawaban Nara. Akhirnya cintanya terbalas.


___________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2