
Sementara di kediaman Tuan Muda Darren..
"Ughhh.. Kepala ku sakit sekali" ucap Cia yang baru saja bangun dari pingsan nya yang bisa dibilang lumayan lama. Pengelihatan nya masih kabur dan kepalanya sedikit sakit. Cia terus melihat sekeliling, untuk memastikan dimana ia tengah berada. Dan Cia merasa tak asing dengan kamar tempat ia berada.
"Owhh iya aku ingat... Pria di toilet itu lah yang menyelamatkanku lagi. Aku harus berterima kasih padanya nanti" omel Cia seorang diri. Namun, tiba-tiba ia tersadar, bahwa pakaian yang ia kenakan berubah, namun ia tidak tahu siapa yang telah menggantinya.
"Bajuku..??" Cia kaget dan ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Kaget karena bajunya sudah terganti dan takut jika yang mengganti bajunya adalah pria mesum di toilet itu. Cia tampak berpikir keras.
"Bagaimana jika benar pria itu yang menggantikan pakaianku" Ucap cia sambil menggigit ibu jarinya. "Astagaa betapa malunya akuuu" ucap Cia dengan nada yang sedikit tinggi.
"Malu? Kepada siapa?" tanya seoarang pria tiba-tiba yang membuat Cia menoleh ke arah sumber suara.
Karena asik mengomel sendiri, Cia tak sadar bahwa sikapnya dan ocehannya tadi telah terekam oleh pria yang beridiri di dekat jendala kamar itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Cia takut dengan memalingkan pandangan matanya.
"Kau bertanya padaku?" jawab Pria itu kembali bertanya kepada Cia.
Pria ini kenapa menyebalkan sekali, siapa lagi jika bukan dia, bukankah hanya ada kita berdua disini. Ucap Cia dalam hati.
Tunggu dulu..apa ada orang selain aku dan pria ini disini?. Ucap cia dalam hati sambil melihat sekeliling dengan teliti.
"Tidak ada siapa-siapa disini. Hanya ada kau dan aku dan satu hal lagi ini rumahku, aku bisa berada dimana saja" ucap pria itu yang dapat menebak pemikiran Cia bahwa tidak ada orang di dalam kamar itu selain mereka berdua.
Cia pun berusaha untuk bangun dari atas ranjang mewah itu. "Aww" pekik Cia yang membuat pria itu menghampiri Cia dengan wajah paniknya.
"Kau baik-baik saja, istirahatlah, aku akan mengambilkan bubur untukmu" ucap pria itu dengan nada lembutnya. Ia membantu Cia untuk kembali duduk di atas ranjang empuk itu.
"Tunggu dulu...." ucap Cia tiba-tiba dengan tangan nya yang tiba-tiba menarik kemeja Darren. Darren sedikit terkejut dengan perlakuan Cia. Pasalnya wanita itu tidak senang jika ada pria yang menyentuhnya sedikitpun. Tanpa Darren sadari, ia merasa sangat bahagia dan hatinya di penuhi dengan bunga-bunga hanya karena hal kecil seperti itu.
"Ada apa?" tanya Darren dengan nada lembutnya. Namun Cia tak melontarkan sepatah kata pun dari mulutnya itu. "Katakan saja tidak apa-apa" ucap Darren kembali sambil tersenyum manis ke arah Cia.
"Emmm..itu..terima kasih banyak, karena sudah menolong ku dua kali" jawab Cia dengan malu-malu dan memalingkan wajahnya. Dan hal itu membuat Darren gemas dengan sikap Cia yang malu-malu hanya untuk berterima kasih padanya.
__ADS_1
Dalam hati Darren ingin sekali tertawa, sebab hanya berterima kasih saja gadis di hadapannya ini begitu serius dan malu-malu.
"Itu saja?" tanya Darren kepada Cia yang membuat Cia langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Darren.
"Sebenarnya....ada hall lain yang ingin ku katakan padamu.." ucap Cia ragu-ragu dengan kedua jari telunjuknya saling bertemu dan mengetuk-ngetuk.
"Apa itu?" tanya Darren penasaran, ia ingin tau apa yang ingin dikatakan oleh gadis manis di hadapannya itu
"Emmm....aku minta maaf karena aku sudah memaki-maki mu saat pertama kali kita bertemu di toilet, aku bersikap seperti itu karena saat itu aku berpikir kau pria mesum dan juga aku minta maaf saat itu aku pergi dari rumahmu dan hanya meninggalkan sebuah surat, padahal kau sudah menolongku" jelas Cia panjang lebar dengan eskpresi seriusnya.
Darren terus menatap wajah Cia dengan lekat. Ia bener-benar gemas melihat ekspresi Cia. Ingin rasanya ia mencubit kedua pipi Cia itu, namun ia tahan karena takut Cia akan menghindarinya nanti.
"Baiklah...aku memaafkan mu manis" jawab Darren sambil mengusap puncak kepala Cia.
"Terima kasih banyak tuan" jawab Cia dengan ekspresi senangnya.
"Tuan..?" ucap Darren yang membuat Cia heran. Tentu saja ia memanggilnya dengan sebutan tuan, sebab Cia tak tau nama dari pria tampan yang sudah dua kali menolongnya.
"Darren" ucap Darren singkat namun tetap dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Owhhh baiklah...namaku Alicia, kau bisa memanggilku Cia" ucap Cia tersenyum lebar dan menjulurkan tangan kanan nya ingin melakukan salam perkenalan. Namun suasana menjadi hening saat Darren tidak membalas salam tangan dari Cia. Cia pun merasa canggung dan segera menarik tangannya kembali
Namun sebelum itu Darren dengan cepat menarik kembali tangan Cia dan membuat jarak diantara wajah mereka sangat dekat. Tentu saja hal itu membuat Cia kaget, setelah ia perhatikan lebih dalam lagi ternyata pria dihadapannya ini benar-benar tampan, kulit wajahnya bersih dan sangat mulus, hidung mancung dan bulu mata yang panjang serta sorot mata tajam dan menawan.
Tanpa sadar Cia terpesona sesaat dengan Darren. Jantung Cia berdegup kencang seperti selsai berolahraga.
"Ingat manis... panggil aku Darren" ucap Darren yang menyadarkan lamunan Cia yang sedari tadi memandangi wajah Darren dengan lekat.
"Baiklah Darren" ucap Cia sambil tersenyum manis.
Namun Cia tersadar bahwa Nia tak ada bersamanya. Ia segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja kecil di samping ranjang. Entah siapa yang meletakkan nya disana.
"Temanmu sedang dalam perjalanan kemari. Kau tidak perlu khawatir" ucap Darren yang mengetahui apa yang akan Cia lakukan. "Aku sudah menyuruh Harrol untuk menjemputnya" ucap Darren kembali. Mendengar hal itu, membuat hati Cia merasa sangat lega dan mengusap dadanya pelan.
__ADS_1
"Terima kasih" jawab Cia.
"Baiklah jika ada sesuatu yang kau inginkan panggil saja aku" ucap Darren yang hendak meninggalkan kamar mewah itu.
"Tunggu dulu...." ucap Cia tiba-tiba namun dengan ekspresi yang aneh
"Apa?" jawab Darren singkat, namun ia heran mengapa ekspresi Cia berubah seketika, bukan ekspresi senang maupun sedih.
"Apa kau yang mengganti pakaianku?" tanya Cia sangat ingin tahu.
"Ia aku yang mengganti pakaianmu" ucap Darren cepat dengan kedua tangan yang melipat di depan dada. Darren mengukir senyum kemenangannya.
Mata Cia terbelalak seketika. Ia kaget bercampur malu dan juga emosi, ia ingin marah namun tidak bisa. Sebab Darren lah yang telah menolongnya, namun ia berpikir sikap Darren itu sangat lancang. Apa jika ada wanita lain yang ditolong olehnya dengan kondisi seperti Cia, akankah ia juga melakukan hal yang sama. Pikir Cia.
"Kenapa kau melakukannya? Apa benar kau yang menggantikan pakaianku?" ucap Cia dengan kepala yang tertunduk. Dan tiba-tiba saja, cairan bening mengalir dari kedua mata Cia. Darren sangat keget dan segera menghampiri Cia
"Heii....heii...manis aku bercanda... Bukan aku yang menggantikan pakaianmu sungguh.." ucap Darren menjelaskan, entah mengapa Ia takut melihat Cia menangis.
"Lalu siapa?" tanya Cia yang masih sesungukan
"Bi Salma yang menggantikannya" jawab Darren dengan perasaan bersalah. "sudah jangan menangis lagi" ucap Darren.
Namun tiba-tiba Cia tertawa dengan suara yang cukup keras. Hal itu membuat Darren heran dan berpikir bahwa Cia telah menjebaknya.
"Akhirnya aku tau siapa yang mengganti pakaianku....hahahha...kau terjebak" tawa Cia kemudian.
Sial aku terjebak karena aku tak tega melihatnya menangis tadi. Ucap Darren dalam hati. Darren pun segera menjauh dari Cia. Sedikit ada rasa kesal namun juga senang akan hal itu. Kesal karena telah dibohongi dan senang karena melihat Cia tertawa. Ia juga gemas dengan Cia dan ingin sekali mencium gadis itu.
"Heii...kau marah? Ayolah aku hanya bercanda hahahahha" ucap Cia kemudian.
"Kau sangat cocok berperan sebagai aktris dan mendapat piala oscar" ucap Darren kepada Cia. Cia hanya tersenyum menanggapi ucapan Darren.
"Hufttt...sudahlah, kau istirahat saja" ucap Darren yang tidak tahan untuk mencium Cia dan ia memilih untuk pergi ke ruang kerjanya.
__ADS_1