
Flash Back On.....
Ibu Cia pernah berkata kepada Cia, saat Cia bertanya pada ibunya.
"Ibu mengapa rambut kakak selalu kembali seperti semula? Padahal kakak kan rajin perawatan dan sering pergi ke salon bukan" tanya Cia saat Cia masih duduk di bangku SMP.
"Nenekmu dulu pernah berkata pada ibu, rambut seseorang mewakili sifat mereka. Maka dari itu, kakakmu mempunyai sifat yang keras kepala dan iri kepada orang lain makanya jadi seperti itu dehh." ucap ibunya berusaha menghibur Cia.
"Meskipun seperti nya itu tidak benar, rambut seseorang bisa berasal dari gen ayah dan ibu mereka. Mungkin nenekmu berkata begitu supaya ibu terhibur. Dan sekarang ibu mengatakan hal itu padamu juga" ucap ibunya tersenyum sambil mengelus pipi kiri Cia.
Dan Cia hanya membalasnya dengan senyuman.
Flash Back Off...
Cia juga sangat sederhana dalam mempoles wajahnya. Ia hanya menggunakan krim bayi dan kadang ia menggunkan bedak bayi kadang juga ia menggunakan bedak biasa dan bukanya bedak mahal seperti kakaknya. Karena ia selalu berpikir, alat-alat perawatan tubuh tidak terlalu penting baginya. Baginya makanan adalah yang nomor satu, karena ia sangat suka makan.
Setelah selesai mengenakan seragam dan menata rambutnya. Ia mengambil tasnya dan mengenakan sepatu putihnya.
Cia segera turun untuk sarapan bersama keluarganya. Seperti biasanya kakaknya pura-pura bersikap baik padanya.
"Cia... Kau sudah datang. Kemari duduk lah disampingku" ucap Yvon sang kakak yang sok manis. Jika ada kedua orang tuanya di rumah, nada bicara Yvon sengaja diperhalus dan dibuat-buat seperti gadis baik baik. Namun nyatanya ia adalah gadis jahat yang selalu menindas adiknya.
"Tidak perlu, aku duduk di samping ibu saja" ucapnya dingin kepada kakanya
"Ada apa denganmu Cia? Apa kau sakit" tanya ayahnya penasaran, karena perubahan sikap Cia. Karena semua orang tau bahwa Cia adalah anak yang periang. Walaupun bersedih sekalipun ia masih bisa tertawa.
__ADS_1
"Tidakk" jawab Cia singkat dan segera memakan sarapannya yaitu roti yang diolesi dengan selai kacang serta segelas susu coklat kesukaan Cia.
Ibunya memilih diam saja, karena ia tahu masalah mengenai Cia yang ditindas kakak-kakaknya. Dan ibu Cia sangat berterima kasih kepada Bi Rina. Jika saja Bi Rina tidak memberi tahukan hal itu mungkin ibunya juga tidak akan mengetahuinya.
"Sudahlah, makan saja sarapannya, lalu lekas pergi ke sekolah" ucap ibunya kemudian.
"Ayah, apakah pak Mano akan mengantar ku dan Vyon ke kampus hari ini?" tanya Yvon ke pada ayahnya.
"Ia, kalian bertiga pergilah bersama" jawab sang ayah yang sudah selesai menyantap sarapannya.
"Emm tidak, aku akan pergi dengan Bus bersama Nia, aku pergi dulu" ucap Cia yang tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya setelah menyelesaikan sarapannya.
"Ayah... Ibu aku berangkat" ucapnya sembari mencium punggung tangan orang tuanya secara bergantian.
"Baiklah,, hati-hati dijalan nak. Semoga harimu menyenangkan" ucap ibunya yang mencium kening putrinya.
"Bi,,, aku berangkat ya" teriak Cia dari pintu depan
"Iya non hati-hati ya" ucap Bi Rina yang melambaikan tangan ke arah Cia.
"Dia sangat dekat dengan Bi Rina" ucap ayahnya yang masih melihat ke arah Cia yang berjalan ke pintu utama.
"Iya" ibunya hanya menjawab ucapan ayahnya dengan singkat
"Cihhh,, dekat dengan pembantu, apa gunanya" ucap Yvona berdecak sambil memutar bola matanya.
__ADS_1
Namun ayah dan ibunya hanya diam menyikapi sikap anaknya itu. Ibu Cia memang tidak begitu ikut campur jika mengenai anak kembar itu. Karena ia tau bahwa anak kembar itu tidak begitu menyukainya.
Sedangkan kembarannya, Vyona juga memilih untuk diam. Karena ia tau, walaupun ia menasihati kakaknya itu, sifat kakaknya itu tidak akan berubah.
-----------------(@_@)-------------------(@_@)-----------
Cia berjalan ke halte dekat rumahnya. Selama perjalanan ia terus melamun tentang perubahan sikapnya. Sebenarnya ia tidak mau bersikap dingin seperti itu kepada keluarganya. Namun, ia berencana untuk merubahnya agar tidak selalu ditindas kakaknya itu.
Cia berjalan sambil menendang batu-batu kecil yang menghalangi jalannya.
"Heiii,,,, Ciaaa, disinii kemarilah cepatt" teriak seorang gadis sambil melambaikan tangannya. Gadis itu sudah menunggu Cia dari tadi di halte bus itu.
"Niaaa, apa kau sudah lama berada disini?" tanya Cia yang menghampiri temannya itu.
"Ya cukup lama. Tapi tidak apa-apa, jika aku harus menunggumu selama setahun pun tidak apa karena itu kau" ucap Nia dengan manisnya sambil memeluk Cia dengan erat.
"Mulutmu manis sekali seperti tebu hahhahah" tawa Cia sambil melepaskan pelukan dari sahabatnya itu.
"Tidak biasanya aku mendengar ucapan manis seperti tebu, biasanya kan 'mulutmu manis seperti madu atau seperti gula' begitu kan hahaha, kau memang berbeda dan unik ya" ucapnya kepada Cia yang dibalas senyuman oleh Cia.
"Gula kan berasal dari tebu jadi kan sama saja hahah" jawab Cia kemudian yang kemudian mendapat teguran dari seorang paman di belakang mereka.
"Heii, kalian berdua jika tidak mau naik jangan meghalangi jalan. Bercandalah di tempat lain" ucap ketus paman tersebut.
Ternyata mereka tidak sadar bahwa bus yang mereka tunggu sudah sampai karena terlalu asik mengobrol tadi. Mereka pun cepat-cepat masuk ke dalam bus. Namun baru saja mereka melangkahkan kakinya di bus, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
__ADS_1
Ciaaaa..........