ALICIA Is Mine

ALICIA Is Mine
Cia 8:


__ADS_3

"Cia...direktur memanggilmu" ucap salah seorang karyawan pria yang menghampiri Cia.


Ditengah jalan, ia bertemu dengan Nia yang sedang berjalan seorang diri dengan membawa tumpukan berkas yang lumayan banyak.


"Kau akan pergi kemana?" tanya Nia berhenti karena melihat Cia


"Ke ruangan direktur. Katanya direktur memanggilku"


"Tapi setauku sekertaris nya mengatakan padaku bahwa ia akan bertemu dengan direktur perusahaan lain. Mengapa ia ingin bertemu denganmu?" tanya Nia merasa heran.


"Benarkah? Tapi sudahlah dari pada direktur menunggu ku, sudah ya aku pergi dulu daaa" jawab Cia yang kemudian pergi meninggalkan Nia seorang diri.


"Kenapa perasaanku tidak enak ya... Semoga dia baik-baik saja" ucap Nia melanjutkan pekerjaannya.


Tok....tok....tok


Ketukan pintu membuat direktur gendut itu sadar akan lamunan nya tadi.


"Masuklah" ucapnya dari dalam ruangan. Ruangan yang mengeluarkan suasana menjijikan dan membuat semua orang yang masuk ke dalamnya merasakan hawa bejat direktur gendut itu.


"Selamat siang direktur. Ada perlu apa mencari saya?" tanya Cia sopan sambil membungkuk kan badannya


"Emm..begini...kau gantikan sekertarisku hanya untuk hari ini, sekarang buatkan aku kopi" ucap direktur gendut itu sambil tersenyum genit.


"Baik direktur" jawab Cia sambil membungkuk dan langsung membalikkan badan nya menuju pintu untuk segera keluar dari ruangan terkutuk itu.


"Mengapa ia memintaku yg membuatkan kopi, aku sungguh kesall" , omel Cia dalam perjalanannya setelah selesai membuat kopi


Tok...tok..tok....


"Direktur ini kopi anda" ucap Cia berjalan memasuki ruangan dan meletakkan secangkir kopi itu di meja tempat direktur.


Namun pada saat Cia meletakkan cangkir itu, dengan cepat dan tak terpikirkan oleh Cia, direktur gendut itu menarik tangan Cia hingga Cia tidak bisa melepaskan diri. Ia mulai ketakutan, karena saat itu ruangan direktur sangat sepi dan tidak terdengar tanda-tanda seseorang akan datang.


Cia sedikit panik sebab direktur itu mendekat kearah Cia dan menarik lengannya dengan kuat sampai pergelang Cia terasa sedikit sakit.


"Direktur tolong lepaskan tangan saya, saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan" ucap nya berusaha menarik tangannya.


Namun direktur gendut ia melempar tubuh Cia dengan kasar ke arah Sofa berwarna abu-abu itu. Cia hendak segera bangun, namun direktur gendut dan genit itu segera menngkapnya.

__ADS_1


"Temani aku sebentar ya manis" jawab direktur itu tersenyum genit. Cia tidak menyangka bahwa kekuatan pria gendut ini sangat kuat, biasanya seperti yang ia lihat di film-film, pria gendut hanya terlihat besar saja tapi sama sekali tidak bertenaga


Cia panik kalang kabut saat pria gendut itu melepas dasinya dan ingin mengikat tangan Cia. Tentu saja Cia memberontak serta berteriak minta tolong


"Percuma saja kau berteriak minta tolong, tidak akan ada yang menolongmu disini karena sekarang waktunya makan siang hehehh" ucap pria itu yang bagi Cia sangat menjijikan


"Tenanglah aku akan lembut padamu" entah dari mana pria itu mendapatkan sebuah dasi lagi yang ia gunakan untuk menutup mulut Cia agar ia tidak bersuara. Cia panik dan sangat-sangat panik saat pria gendut itu terus mendekat dan berusaha untuk membuka kancing kemeja yang Cia gunakan.


Air mata Cia mengalir dari kedua matanya saat pria itu berhasil membuka kemeja Cia. Namun tiba-tiba terpikirkan oleh Cia. Cia pun menendang bagian terlarang pria itu, dan tentu saja membuat pria itu meringis kesakitan. Saat itu juga ia beranjak pergi untuk keluar dari ruangan, tapi dengan cepat pria gendut itu menarik pinggangnya dan mendorong Cia untuk duduk kembali di atas sofa.


Air mata Cia semakin derasss, saat Cia ingin menendang lagi dengan cepat pria gendut itu menangkap kaki Cia. Pria itu berusaha melucuti rok yang Cia kenakan. Dasi yang mengikat mulut Cia mulai melonggar karena ia terus berusaha untuk berteriak.


Namun tiba-tiba saja.... Suara pintu terbuka dengan kencang... Brakkkkkk...


"Siapa yang berani menganggu kese......" ucap pria gendut itu belum selesai, namun satu tendangan tepat mengenai wajahnya yang menjijikan itu. Saat pria gendut itu ingin memaki orang yang menendangnya, nyalinya menjadi ciut seketika.


"Tu...tuan muda Darren. A...apa yang membawa anda kemari" tanya Pria gendut itu gugup.


Sedangkan Cia... Ia berusaha sekuat tenaga melepaskan ikatan dasi yang ada di tangan dan juga mulutnya.


"Tuannn, tolong aku hiks..hiks...direktur cabul itu ingin melecehkan ku hiks...hik..."ucap Cia berlari ke arah Darren. Ia tidak peduli siapa itu, yang terpenting baginya sekarang adalah menyelamatkan diri.


Dengan cepat Darren menghampiri Cia dan memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Cia. Dan Cia masih berlinang air mata karena ia sangat syok dengan kejadian yang ia alami.


Tanpa sadar Cia memeluk Darren dan menangis di dalam dekapan tuan muda itu. Darren sedikit terkejut, namun ada guratan kebahagian yang terlihat diwajahnya.


"Tidak apa, sudah tenanglah jangan menangis ada aku disini. Aku akan membawamu pergi dari perusahaan sialan ini" ucap Darren yang berusaha memenangkan Cia. Ia terus mengelus-elus puncak kepala Cia. Namun karena terlalu kaget dengan hal yang baru saja terjadi, Cia pingsan di dalam dekapan Darren.


"Heiii, manis bangun, heii....... sial dia pingsan" ucap Darren yang mulai panik dan segera menggendong Cia keluar dari ruangan terkutuk itu.


Namun sebelum meninggalkan ruangan menjijikan itu,, ia menghentikan langkahnya.


"Harrol....urus pria ba**ng** itu" ucap Darren kepada sekertarisnya itu.


"Baik tuan" jawab Sekertaris tampan itu dengan cepat.


Tuan muda benar-benar sangat murka. Padahal aku sudah mengenalnya dari SMP, tapi baru kali ini aku melihat tuan muda murka hanya karena seorang gadis. Ucap Harrol dalam hati


-----------------------------------------------

__ADS_1


Harrisen Daroll......


Adalah seorang sekertaris sekaligus teman Darren sejak masuk Sekolah Menengah Pertama. Ia merupakan pria yang tampan dan juga cerdas. Walaupun tidak secerdas Darren.


Harrol setia mengikuti Darren karena dulu Darren sudah menolongnya dari geng anak-anak nakal yang membully nya dulu dan mengatakan bahwa ia tidak punya ayah.


Memang benar, ayah Harrol senang berfoya-foya dan juga bermain perempuan, maka dari itu ibunya menceraikannya dan pergi meninggalkan ayahnya yang bejat itu. Saat itu ibunya tidak bisa menunjang kehidupan Harrol apalagi membiayai sekolahnya. Sebab sebelumnya ayah Harrol lah yang membiayai sekolah putra nya itu. Ayahnya bisa dibilang orang yang lumayan kaya.


Maka dari itu Darren yang luarnya bersikap dingin, tiba-tiba saja meminta ayahnya untuk membiayai sekolah Harrol. Darisanalah Harrol menilai bahwa Darren hanya dingin di luar namun hangat di dalam.


Harrol selalu bersikap rendah hati dan ringan tangan kepada siapapun, saking ringan tangannya, banyak temannya yang suka memanfaatkannya. Namun ia tidak masalah akan hal itu. Tapi semenjak bertemu dengan Darren ia merubah sikap nya itu sebab Darren selalu mengatakan kalau dia bodoh dan sering dimanfaatkan orang lain.


Namun ia tetap bersikap rendah hati kepada siapapun dan selalu setia kepada Darren.


Dan darren pun sama ia menganggap bahwa Harrol adalah saudaranya.


Tak bisa ia pungkiri, keluarga Darren sudah banyak membantunya dalam segala hal. Ia benar-benar merasa bahagia mempunyai teman seperti Darren


-------------------------------------------------------


Sedangkann Dalam Perjalanan menuju kediaman Tuan Muda Darren.......


Cia masih tak sadarkan diri. Terlihat jelas guratan kegelisahan diwajah Darren. Ia memangku Cia selama perjalanan menuju ke rumahnya.


Sedangkan Harrol curi-curi pandang dengan hal yang dilakukan Tuan Mudanya itu. Ia merasa senang akhirnya Tuan Muda Darren sepertinya mulai memikirkan masalah asmaranya.


Sedangkan Darren terus-menerus menatap wajah Cia sembari mengelus pipi kanan Cia.


"Heiii...bangunlah manis, apa kau tidak lelah menutup matamu terus?" tanya Darren kepada Cia yang belum sadarkan diri


"Harrol percepat laju mobil" ucap Darren dengan nada memerintah, ia benar-benar khawatir kepada gadis yang ada di pangkuannya sekarang.


Cia benar-benar tak bergerak sedikitpun di pangkuan Darren, hal itulah yang membuat Darren panik kalang kabut. Di hari yang panas dan sungguh terik itu membuat kening Darren bercucuran keringat seperti orang yang baru saja lari maraton.


Ia juga tidak tau pasti, apa yang membuatnya hingga begitu peduli pada gadis yang ada di pangkuannya sekarang.


Ingat ya Like, Comment, Vote And Rate


Terima Kasih para pembaca Tercinta🤗🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2