
Brakkk.....
Terdengar suara pintu yang dibuka dengan keras oleh seorang gadis dengan ekspresi wajah panik serta irama nafas yang tidak stabil.
"Cia...kau baik-baik saja? apa ada yang terluka? apa yang ia lakukan padamu, apa dia menyentuhmu?" pertanyaan Nia membuat Cia ingin menangis lagi.
Dan karena tak tahan mengingat kejadian di kantor itu, Cia pun menangis lagi di pelukan Nia.
"Hikss...kau tau? Aku sangat takut tadi" ucap Cia yang menangis di dalam pelukan Nia. "Untung saja Tuan Muda Darren datang, jika tidak, aku tidak yakin apa yang akan terjadi padaku" ucap Cia melepas pelukannya serta menyeka air mata yang mengalir dari kedua mata indahnya itu.
"Sekertaris tuan Darren menceritakan semua hal yang terjadi padamu, kau tau aku sangat terkejut, ingin rasanya ku lempar dan ku tenggelamkan direktur cabul itu ke laut" ucap Nia dengan wajah menahan amarah. Harrol, sekertaris Darren menceritakan kepada Nia, bagaimana peristiwa buruk itu terjadi kepada Cia
"Cia...kita harus mengundurkan diri secepatnya dari perusahaan cabul itu" ucap Nia dengan sangat serius sambil memegang kedua bahu Cia. Ia tidak ingin sahabatnya itu mengalami hal buruk untuk yang kedua kalinya.
Dengan mengundurkan diri dari perusahaan itu sudah cukup untuk membuat mereka berdua aman dan juga lebih tenang.
"Tapi.....sampai sekarang kita belum mendapatkan perusahaan pengganti untuk kita bekerja" jawab Cia yang sedikit lesu. Tentu saja ia ingin segera mengundurkan diri dari OX group, namun dimana ia dan Nia akan bekerja setelah itu.
"Tapi tidak apa Nia, asalkan kita bersama, kita pasti bisa" ucap Cia dengan senyum manisnya sambil menggenggam kedua tangan Nia.
Cia terus mencoba untuk tersenyum, ia tidak ingin membuat sahabat kesayangannya itu merasa khawatir.
"Baiklah kita akan selalu bersama selama-lamanyaaaa" jawab Nia mencubit kedua pipi Cia.
"Ehemm...." tiba-tiba saja seorang pria telah berdiri di dekat pintu dengan gaya cool nya. Hal itu membuat Nia dan Cia bertanya-tanya. Sejak kapan pria tampan dan menawan itu berdiri di sana.
Dengan segera Cia dan Nia memperbaiki posisi mereka.
__ADS_1
Namun dengan cepat Nia mengingat suatu hal dan segera berdiri.
"Maafkan aku tuan muda, karena masuk ke dalam rumahmu tanpa seijin darimu" ucap Nia tiba-tiba dengan membungkuk kan badannya. Cia begitu terkejut dengan sikap Nia.
Namun ia yakin, Nia melakukan hal itu dengan tidak sengaja, ia melakukan hal itu pasti karena terlalu khawatir pada nya.
"Emm tuan muda Darren..bisakah kau memaafkan temanku, aku tau dia tidak sengaja melakukan hal itu" ucap Cia memberanikan diri membela Nia yang sedari tadi mendapat tatap datar dari Darren.
"Baiklah...lupakan saja" ucap Darren yang membuat Cia dan Nia saling memandang satu sama lain.
"Nona..bisakah kau keluar sebentar? Aku ingin berbicara pada temanmu" ucap Darren dengan nada memerintah kepada Nia
"Ba....baik tuan" jawab Nia sedikit takut, namun ia segera keluar dari kamar mewah tersebut. Namun ia menyempatkan waktu untuk berbalik badan dan mengedipkan sebelah matanya kepada Cia. Cia hanya diam dan bingung dengan sikap Nia dan ia hanya membalasnya dengan senyuman manis khasnya.
Dan sekarang giliran Cia yang merasa takut. Entah kenapa ia merasa seperti akan diterkam oleh pria yang berada di depannya itu.
"Ti...tidak... Siapa yang takut padamu" jawab cia memalingkan wajahnya.
Pria ini apakah bisa membaca pikiran seseorang, kenapa ia selalu tau apa yang ku pikirkan. Lihat gayanya itu, entah kenapa ku kesal melihatnya. Ucap Cia dalam hati
"Aku mendengar pembicaraanmu dengan temanmu tadi" ucap Darren memulai percakapan dengan Cia
"Kau tau... Tidak baik mencuri dengar pembicaraan orang seperti itu" jawab Cia yang masih belum bisa menatap mata lawan bicaranya.
"Aku juga tidak sengaja mendengarnya... Jadi kau butuh pekerjaan bukan" tanya Darren yang membuat Cia menatap Darren seketika.
"Iya... Aku dan Nia berencana mengundurkan diri dari perusahaan itu. Tapi aku tidak tau dimana aku dan Nia aka..."
__ADS_1
"Bekerjalah di perusahaan ku" jawab Darren cepat dengan ekspresi datarnya.
"Apa? Di perusahaan mu?" tanya Cia kaget. Ia tak mengira Darren akan menawarkannya bekerja di perusahaannya sendiri. Ia mengira mungkin dengan menjelaskan kepada Darren ia akan membantunya mencari lowongan pekerjaan. Namun tak disangka Darren mengatakannya to the point kepada Cia.
"Ya..bekerja denganku" ucap Darren yang masih menatap Cia dengan lekat. Entah gadis di hadapannya itu akan setuju dengan tawarannya atau tidak.
"Maaf......tapi aku menolak" ucap Cia sambil tersenyum dengan ramah
"Kenapa?" tanya Darren singkat. Darren tak menyangka bahwa akan ada hari dimana seseorang menolak bekerja di perusahaannya. Sejauh ini, perusahaan yang berada di bawah pimpinan Darren adalah perusahaan dengan karyawan-karyawan dengan pangkat yang tinggi-tinggi atau bisa dibilang mayoritas karyawannya memiliki gelar pada namanya.
Dan semua orang di kota tau bahwa sangat sulit untuk masuk dan bekerja di Carlosta Group.
"Entahlah.....aku merasa terbebani jika aku menerima tawaranmu" ucap Cia kemudian.
"Kau sudah menolongku untuk yang kedua kalinya, dan sekarang kau membantuku lagi. Aku tak ingin mempunyai hutang kepada orang lain. Tolong mengertilah dan terima kasih banyak Tuan Muda Darren" ucap Cia menjelaskan alasannya kepada Darren.
"Apa kau tetap tidak ingin bekerja denganku walaupun aku memberimu gaji tinggi?" ucap Darren kemudian. Sebenarnya ia berusaha keras agar Cia mau menerima tawarannya.
"Ehmmm.... Tidak terima kasih" jawab Cia menggeleng kan kepalanya dengan senyuman yang masih terukir di wajah mungilnya.
"Dan juga....aku akan pulang sebentar lagi Tuan.. Terima kasih banyak" ucap Cia yang mulai berdiri dari ranjang empuk itu.
"Baiklah...kau bersihkan lah dirimu dulu dan ganti pakaianmu" ucap Darren membalikan badannya pergi. Ada guratan kekecewaan yang terpancar di wajah Darren, namun ia berusaha untuk menutupinya sebaik mungkin.
"Iya" jawab Cia singkat
Satu-satunya gadis yang menolak tawaran dariku. Dan itu sangat menarik. Walaupun kau menolak, aku memiliki banyak cara agar kau menyetujui penawaranku. Apa kau berpikir kau dapat lari dari ku Cia? Itu tidak mungkin dan tidak akan bisa. Ucap Darren dalam hati sambil meninggalkan kamar.
__ADS_1