
Ciaa... Tunggu..
Teriak pemuda itu sambil berlari ke arah bus yang ditumpangi Cia dan Nia. Dan akhirnya pemuda itu berhasil masuk ke dalam bus sebelum pintu bus itu tertutup.
"Kak Ar,, ada apa?" tanya Cia penasaran kenapa pria itu sampai terburu-buru begitu.
"Huftt,,,, huftt tunggu.... Tunggu dulu, biarkan aku bernafas" ucap pria itu sambil berdiri tegak untuk mengatur nafasnya. Keringat sampai membasahi keningnya.
"ini aku lupa mengembalikan novelmu yang ku pinjam" ucap pria itu sambil merogoh-rogoh isi tas nya dan memberikan sebuah buku kepada Cia.
"Aaaaa...iya aku lupa. Terima kasih kak" ucap Cia sambil tersenyum manis kepada pria itu
"Harusnya aku yang bilang terima kasih karena kau sudah mau meminjamkannya padaku" pria itu kembali berkata sambil mengelus puncak kepala Cia dengan lembut.
"ehhmmm" suara Nia memecahkan suasana. Gadis itu merasa ia dianggap seperti patung oleh kedua orang di hadapannya ini.
"Sudah selesai??" ucap nya lagi. "Kak bukankah harusnya kau pergi ke kampus sekarang?" tanya Nia, sebab situasi sekarang terasa sangat canggung.
"Ohh ehh iya, aku ada jadwal kuliah sebentar lagi. Lagipula kampus ku dan sekolah kalian satu arah" ucap pria itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya berusaha menghilangkan rasa gerah yang ia alami karena berlari tadi.
"kak Arr mengambil jurusan apa di kampus" tnya Cia kemudian yang membuat pria itu tersenyum manis
"Bukankah saat kelulusan ku di SMA kita aku sudah mengatakannnya padamu?" tanya nya lagi masih dengan ekspresi tersenyum manis kearah Cia
"Ohh benarkah aku lupa, maafkan aku. Kalau begitu Aku tidak akan bertanya lagi" Cia merasa canggung jika harus bertemu dengan Kak Ar yang merupakan kakak kelasnya
"Hihhihi, kau ini tidak berubah ya, masih tetap menggemaskan. Aku mengambil jurusan kesehatan dan intinya aku akan menjadi dokter. Ingatt itu jangan lupa lagi hehhe. Doakan semoga aku berhasil ya" ucap pria itu lagi dan mengelus puncak kepala Cia lagi. Sebenarnya Cia tidak suka jika kepalanya dielus oleh laki-laki, ia merasa risih dengan hal itu.
"Iya kita berdua akan mendoakan mu. Ngomong-ngomong menjauhlah sedikit dari sahabat ku tersayang. Mengapa kakak dekat-dekat dengannya?" ucap Nia tiba-tiba dan kedua bola matanya terus menatap pria itu dari atas kepala sampai ujung kaki. Memperlihatkan bahwa ia tak suka jika ada laki-laki yang mendekati temannya walaupun itu kakak kelas mereka sendiri.
"Nia... Nia kau tetap saja galak begitu ya, baiklah aku akan menjauh" akhirnya pria itu menjauh beberapa langkah dari Cia
"Sebentar lagi aku sampai kalau begitu aku duluan ya, kalian hati-hati dan rajin-rajinlah belajar" senyum manis pria itu yang membuat penumpang di bus menatap kearahnya. Pria itu tampan dan memiliki poster tubuh yang tinggi serta kulitnya yang bersih.
"Baiklah kak Arr, kau juga hati-hati dan semangat belajar ya" ucap Cia sambil tersenyum manis dan mengacungkan jempol kanannya ke arah pria itu.
Sebenarnya ia tidak bisa bersikap ramah kepada pria namun ia berusaha untuk ramah, walaupun begitu tetap saja di sekolah ia terkenal dingin dengan semua pria.
__ADS_1
----------------------------------------------------
Aaron Bladen adalah siswa laki-laki yang merupakan siswa alumni di SMA tempat Cia sekolah. Biasanya ia dipanggil "Ar" oleh teman-temnnya dan juga adik kelasnya. Dan Ar merupakan kakak kelas Cia sekaligus mantan ketua Osis. Ar merupakan siswa yang pintar dan juga tampan. Maka dari itu, tak sedikit perempuan di sekolah memanggilnya dengan "pangeran sekolah cerdas dan berbakat". Keluarganya merupakan keluarga yang sederhana. Sebenarnya alasan Cia bersikap ramah karena kak Ar pernah menembaknya tepat pada hari ulang tahun Cia. Namun Cia menolak dan berkata bahwa ia ingin fokus dalam pelajarannya. Dan sebaiknya menjadi teman saja daripada kekasih.
Sebenarnya Cia merasa tidak enak dengan kak Ar tapi, kak Ar tetap mendekati Cia? karena Cia juga tidak menjauhinya. Ya begitulah kisah Cia dan kakak kelasnya itu yang kisahnya sudah terkenal di sekolah.
"Heii, kak Ar itu tampan dan juga pintar. Selain itu juga ia bersikap lembut padamu bukan. Tapi ya mau bagaimana lagi, kau kan selalu menolaknya. Aku jadi merasa kasihan pada kak Ar" ucap Nia yang berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Entah lah, aku memang menyukainya" ucap Cia sedikit melamun
"Apa?" Nia kaget dengan ucapan Cia
"Ehh bukan seperti yang kau pikirkan. Maksudku aku menyukai sifatnya yang lembut. Dan jujur saja ia merupakan pria yang tampan dan juga cerdas, pasti banyak yang ingin menjadi kekasihnya bukan" ucap Cia melirik ke arah temannya itu
"Tentu saja banyak yang ingin menjadi kekasihnya. Apa kau tidak tau? Dulu aku sering melihat para gadis berkumpul di depan kelas kak Ar dan membawa macam-macam. Ada yang membawakan makan siang. Inilah itulah. Aku sampai lelah melihatnya" ucap Nia menjelaskan sambil memutar kedua bola matanya
"Ya aku tau itu, tapi tetap saja aku tidak ingin berpacaran dulu" ucapnya yang terus memandang ke luar jendela
"Apapun keputusan mu aku akan selalu mendukungmu, dan aku akan selalu bersama mu selamanyaaaa" ucap Nia yang mencubit kedua pipi Cia hingga sedikit memerah. Kemudiam mereka berdua tertawa bersama.
Jam istirahat tiba.....
"Ciaa tungguu" panggil seorang pria berjalan ke arahnya
"Iya. Maaf sebelumnya, siapa kau dan mengapa kau tau namaku?" tanya Cia kepada pria itu
"Emm teman ku yang memberitahuku. Bisakah aku bicara dengamu sebentar?" tanya pria itu sedikit gelagapan
"Jika ingin bicara disini saja, aku tidak ada waktu. Aku lapar dan ingin makan" ucap Cia tegas kepada pria itu.
"Cia, maukah kau menjadi kekasihku?" tanya pria itu dengan ekspresi nya yang begitu percaya diri. Memang lumayan tampan tapi tetap saja Cia tidak suka
"Apa? Tapi mengapa?" tanyanya lagi yang membuat pria itu tersenyum. Entah itu senyuman yang mengarah ke hal positif atau negatif. Cia tidak tau itu.
"Kau bertanya mengapa? Tentu saja karena kau cantik dan juga pintar. Tentu saja kau tidak akan menolakku bukan" jawab nya dengan sedikit mengerasakan volume suaranya.
Pria ini percaya diri sekali. Aku membenci pria seperti ini. Dari sekian banyaknya yang ingin menjadikan ku kekasih mereka. Hampir semua mengatakan tentang paras saja. Apakah siswa disini tidak ada yang mengutamakan sifat dan prilaku daripada paras? . Cia berucap dalam hati.
__ADS_1
Siapa dia lancang sekali. Apa dia tidak tau sahabat ku tersayang ini sudah menolak banyak pria, jangankan di lingkungan sekolah di luar sekolah pun ada. Ucap Nia dalam hati.
"Aku menolak. Jika kau bertanya kenapa, jawabannya sudah pasti karena aku malas mengurus hal seperti itu. Aku hanya ingin fokus dalam pendidikanku. Dan,,, permisi aku lapar." ucap Cia yang kemudian pergi meninggalkan pria itu yang sedang menunjukan ekspresi kesal nya pada Cia yang sudah berjalan menjauh darinya.
"Heii gadis sombong awass saja kau nanti" ucapnya dengan suara lantang dan membuat para siswa berpaling ke arahnya
Tapi Cia tidak mempedulikan hal itu, ia dan Nia tetap mengantri untuk mendapatkan makan siang yang dari tadi mereka tunggu.
Cia selalu berpikir, jika ia memiliki seorang kekasih tentu saja itu akan membuatnya sibuk dan ia juga berpikir jika memiliki kekasih kita harus memiliki penghasilan. Bagaimana tidak, bagaimana jika kekasih nya berulang tahun tentu ia harus merayakannya dan memberinya hadiah bukan, sedangkan Cia jarang membelikan ibunya hadiah saat ulang tahun.
Namun tidak di hari ibu, Cia pasti memberikan sesuatu kepada ibunya. Bagaimana mungkin ia akan membelikan kekasihnya hadiah jika ibunya saja jarang. Ibunyalah prioritas utamanya.
Cia memang jarang meminta bekal berupa uang kepada orang tuanya, dan jika diberikan pun ia akan menabung lebih banyak daripada belanja walaupun ia suka makan tapi ia tahan, agar ia punya tabungan dimasa depan. Begitulah pikiran dari gadis itu.
Setelah mendapatkan nampan yang berisi menu makan siang, mereka berdua segera mencari tempat duduk. Banyak siswa yang menawarkan tempat untuk Cia tapi ia menolak. Ia tau Nia sahabatnya pasti akan melarangnya, karena sebagaian besar dari mereka selalu berpura-pura baik dihadapan Cia karena Cia anak yang pintar dan cantik. Tentu saja banyak pria yang mengejarnya.
"Aku sungguh kesal melihat pria tadi yang datang secara tiba-tiba dan memintamu menjadi kekasihnya. Dia pikir siapa dia, aku sudah muak melihat pria sombong seperti itu." ucap Nia yang terlihat sangat kesal. Walaupun bukan dia yang mengalami insiden itu, melainkan Cia namun tetap saja dia merasa risih karena sahabatnya yang mengalaminya.
"Sudahlah, biarkan saja dan nikmati makananmu" ucap Cia yang tiba-tiba memasukkan sepotong daging ke dalam mulut Nia.
"Hau hauu, hria hitu meruhakan hanak kelas sebelah (Kau tau, pria itu merupakan anak kelas sebelah) " ucap Nia yang tidak jelas karena berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Heii telan dulu baru berbicara. Kau ini tidak bisa merubah kebiasaan burukmu ya?" Cia kembali menceramahi sahabatnya itu. Nia dari dulu memang seperti itu sering berbicara saat sedang makan. Dan Nia memang orangnya sedikit ceroboh.
"Hiya (iya). Uhuk... Uhukkk... Uhukk" Nia pun batuk karena makan sambil berbicara
"Sudah kubilang kan jangan berbicara. Ini ambil dan cepat minum" ucap Cia yang kemudian menyodorkan segelas air kepada Nia.
"Haaaa... lega. Terima kasih sayangkuuuu" ucap Nia yang tersenyum lebar ke arah Cia.
"Ini ambillah, aku dan Bi Rina yang membuatnya. Cepat makan" ucap Cia yang tiba-tiba memberikan sebagian keentang gorengnya kepada Nia
"Cia, kau serius? Bukankah kau sangat menyukai kentang goreng. Mengapa kau membaginya padaku?" ucap Nia yang bingung. Tidak biasanya Cia membagi kentang gorengnya. Bukan maksudnya Cia adalah orang yang pelit, tapi memang jika itu kentang goreng Cia jarang membaginya dengan Nia dan Nia juga paham dengan hal itu. Bagaimana tidak mereka sudah bersama sejak kecil, tentu saja sama-sama mengetahui kesukaan masing-masing.
"Ia aku serius jadi cepatlah ambil dan ayo makan bersama-sama" Cia yang menyodorkan kota bekal nya ke arah Nia dan mulai menuangkan saus tomat dan saus cabai di kotak makannya.
Nia tampak ragu saat akan mengambil kentang goreng itu, bagaimana tidak, ia takut Cia akan mengamuk seperti dulu.
__ADS_1