
lalu apa pekerjaan Adis?
Adis tidak bekerja dan Lenita dan tidak dipermasalahkan jika tidak bekerja, bahkan Lenita sering memberikan uang jatah untuk Adis
Lenita mempermudah kehidupan Adis karna Adis anak bungsu sekaligus anak kesayangannya
dari sini membuat Adis berpikir, untuk apa lagi ia kerja?
itu alasan mengapa Adis tidak pernah mau bekerja
karna ibunya yang selalu menyukupi kebutuhan Adis tanpa mengenalkan sebuah perjuangan sebelum mendapatkan sesuatu hal.
ini adalah contoh yang benar benar salah dan akan menyusahkan Adis di masa yang akan datang ketika nantinya Lenita sudah tidak bersama nya karna namanya usia kan tidak ada yang tau
sementara pada Livi, selalu memberikan perjuangan, mengenalkan bahwa dunia itu sulit dan keras untuk dipijaki, tapi masih juga sering merendahkan Livi.
tapi dari sini Livi bisa belajar kalau memang dunia bukan satu satunya tempat ternyaman untuk ia singgahi, masih harus banyak perjuangan dan pengobanan untuk menjalani semua meski terkadang tidak sesuai yang kita harapkan
padahal Livi tidak bekerjapun bisa mengerjakan pekerjaan rumah, semua pekerjaan rumah di handle oleh Livi, semua tanpa terkecuali, pekerjaan apapun itu
harusnya Lenita lebih sadar lagi bahwa Livi membantunya lebih dari apa yang ketiga anaknya bantu untuknya, karna sebenarnya untuk orangtua dengan usia yang tidak lagi muda itu, jauh lebih membutuhkan perhatian kecil dibandingkan keuangan besar
hari ketika Livi sedang dirumah sendirian..
Adis hangout bersama teman temannya,
Lenita pergi kumpulan keluarga..
Lenita tidak mengajak anak, biasanya yang dia ajak ya Adis, karna Adis ada kegiatan sendiri, jadi Lenita berangkat sendiri
Lenita tidak akan mengajak Livi, karna baginya membawa Livi itu membuatnya malu saja, membawa Livi ke acara akan selalu ada saja orang yang menanyakan tentang Livi dan pekerjaan atau perihal jodoh
jadi Livi dirumah..
ia tengah menyapu halaman rumahnya..
tak lama seseorang menyapanya..
"permisi.." sapa seorang pria
"iyaa?" sapa balik Livi
"saya boleh tanya dimana toko yang menjual gula, beras, kopi, gitu gitu ya?" tanya pria itu pada Livi
"oh disini, sebelah kiri rumah saya, ini toko, ngecer bukan agen"
"oh, iya, saya memang butuh beli untuk konsumsi sendiri sih"
"oh, iya disitu, mau diantar?"
"eh tidak usah, sepertinya repot juga kan masih nyapu"
"hehe gakpapa"
__ADS_1
pria itu lantas berjalan ke toko dan membeli beberapa yang ia butuhkan..
setelah selesai dari toko sebelah rumah Livi, pria itu pun berjalan lagi melewati Livi yang masih tengah menyapu
"permisi" sapa pria itu lagi
"oh iya, silahkan" jawab Livi dengan ramah dan tersenyum
"terimakasih, sudah dikasih tau disitu tadi toko nya"
"eh, iya iya, santai"
"lagi nyapu ya? kok siang?"
"baru sempat siang, tadi beberes dalam rumah dulu"
"oh, eh ini juga bukan kotoran dari area rumah kamu kan? daun daun gini biasanya dari pohon, disini gak ada pohon"
"ada, itu di sebelah, didepan toko sebelah kan ada pohon, lagian kan kalau tidak dibersihkan, yang kotor rumah saya"
"hehe iya bener"
Livi merasa asing dengan pria itu, dan baru ini pertama kali bertemu, padahal Livi adalah warga tetap disana jadi ia akan tau mana mana saja warga asing atau warga baru dan warga lama
"oh iya, kamu siapa ya? kok saya baru lihat kamu?" tanya Livi
Mirza menjelaskan dirinya memang baru disana, baru membeli rumah yang ada dibelakang rumah Livi
dan Livi baru tau jika ternyata rumah itu dijual, karna ia taunya rumah itu difungsikan kok oleh tetangganya yang asli pemiliknya, tapi ternyata dijual dan sudah laku bahkan
"oh itu rumahnya dijual?" tanya Livi
"iya, saya yang beli, jadi saya mau tinggali, meski gak jadi rumah utama tapi kan sudah dibeli, harus ditempati dan didatangi beberapa kali gitu, biar gak mubazir" kata Mirza
"emm, iya iya, bener"
rumah yang dimaksud Mirza adalah rumah yang tepat dibelakang rumah Livi
akses masuk rumah itu ada dua, gang biasa yang hanya masuk motor saja dan jalan setapak yang ada disamping rumah Livi
Itu pun jalan masuk dari samping rumah Livi hanya bisa dengan jalan kaki, motor pun tidak akan bisa lewat, sepeda saja juga tidak akan bisa lewat disitu
yaa.. rumah itu lewat samping rumah Livi dan rumah itu tepat dibelakang rumah Livi
tidak bergandengan sih, masih ada setapak jalan lagi diantara rumah bagian belakang Livi dengan rumah yang barusaja dibeli Mirza itu
tapi rumah Livi tidak ada pintu belakang, jadi keluar masuk hanya lewat satu pintu utama yaitu pintu depan.
mereka mengobrol kecil disana untuk saling perkenalan sebagai tetangga baru, hanya sekedar bertukar nama saja
mereka pun bubar dan Mirza balik kerumahnya
sampai dirumahnya..
__ADS_1
Mirza hanya diam dan memikirkan Livi..
Mirza mencari ide untuk bisa balik ke toko itu dan melihat Livi lalu mengobrol sedikit lebih jauh lagi
dan pas sekali, seolah alam mendukung, ternyata barang yang Mirza bawa bukan barang yang ia beli
Mirza tadi membeli sekilo minyak goreng, sekilo beras, sekilo gula dan serenteng susu saset, tapi yang ada dikantong plastik nya berisi parfum ruangan, roti gandum, kopi bubuk dan deterjen
jadi jelas itu membuatnya harus balik, ia bergegas dengan semangat mengembalikan barang itu, berharap bertemu Livi
di waktu bersamaan, ternyata Sudar, pemilik toko yang disebelah rumah Livi juga membawa kantong plastik untuk ia bawa ke rumah belakang
"pak, kemana?" sapa Livi
"ini Liv, balikin barang, salah bawa orangnya"
"balikin barang?"
"iya, kantong plastik ini punya orang baru yang rumahnya dibelakang rumahmu itu, ketuker sama kantong pelangganku yang lain" jelas Sudar
"eh"
pucuk dicinta ulam tiba..
Mirza juga kembali dan menyapa Sudar..
"pak Sudar, ketuker.." kata Mirza
"eh Mirza, iya, kamu ini malah bawa ini"
"haha iya, kurang fokus"
"waduh mikir apa aja dah, ini dah"
"maaf ya pak"
"saya juga minta maaf, jadi kamu bolak balik"
"hehe iya pak gakpapa"
Sudar kembali ke tokonya..
dan keinginan Mirza ketemu lagi dengan Livi pun terwujud..
"mikirin apa sih kok sampai ketuker, hehe lucu" kata Livi
"andai dia tau, ketuker karna mikir dia juga, kenalan tadi" jawabnya dalam hati
"begitulah, kalau gak ada dipikiran kan berarti gak ada masalah, hidup juga banyak masalah kan hehe" kata Mirza
"haha sangat betul" jawab Livi
mulai lah Mirza berbasa basi sebagai tanda perkenalan pertama, biar tidak kaku saja kedepannya nanti
__ADS_1