
"oh ya, disini selain toko, ada tempat tempat apa aja ya? kayak resto, warung makan, atau apa gitu?" tanya Mirza
Livi menjelaskan beberapa tempat disana yang jadi tempat untuk ngobrol, nongkrong, makan, santai, toko toko dan agen agen, dan lainnya
"nanti kalau ada kesempatan deh, saya antar ke tempat tempat disekitar sini" kata Livi
diingat ya, disini Livi yang menawarkan mengantarkan Mirza mengenal lingkungan, bukan Mirza yang meminta
"memang ada apa saja?" tanya Mirza lagi
"cafe ada, tempat nongkrong gitu juga aja, lokasi estetik gitu ada, toko sembako terlengkap, wahana bermain dan banyak lah lainnya"
"waah boleh itu, lain kali bener diantar kan?"
"iya dong"
"yaudah deh makasih ya, saya jadi malu gegara ini ketukar haha" kata Mirza
"ah santai mah"
lalu siapa Mirza?
Mirza yang memiliki nama lengkap Mirza Pradipa Reza, adalah pria yang membeli rumah tepat dibelakang rumah Livi (yang tadi author jelaskan)
rumah nya tidak jelek, cukup besar memang, hanya saja tidak ada akses mobil yang bisa keluar masuk
Mirza terbilang cukup tua, jika dibandingkan dengan Livi
Mirza setahun dibawa Aqni, kakak pertama Livi.
jadi sekitar berjarak 10 tahun lebih tua dari Livi, perbandingannya.
terlepas itu, Mirza terbilang sangat kaya, tajir melintir, kalau sekarang istilahnya ya Sultan, bak tujuh turunan pun hartanya tidak akan habis
itu sedikit tentang Mirza, untuk beberapa hal detail terkait Mirza nanti akan dijelaskan seiring dengan cerita ini yaa..
masih dihari itu, waktu yang berbeda yaitu malamnya..
Lenita dan Adis tidak tau jika rumah itu dijual dan sudah laku, Lenita baru tau sore tadi ketika ngobrol dengan salah satu tetangga yang juga temannya sekolah dulu
Lenita langsung membahasnya ketika mereka akan makan malam, Lenita baru membicarakan dengan kedua anaknya tentang rumah belakang yang dijual
"rumah belakang ternyata dijual ya?" kata Lenita
"gak tau ma, memang dijual?" tanya Adis
"iya, dijual, mama lupa bilang juga, dijual itu sudah lama"
"mama tau kapan?"
"tadi sore, ketemu bu Niken"
"waah berapa ya harganya? kan gede, mahal itu"
"iya lah, sepadan sama uang dan barang kan"
ibunya dan adiknya mengobrol tentang rumah belakang, Livi hanya terdiam, karna ia tau jika rumah itu dijual dan bahkan sudah laku
__ADS_1
yaa.. meskipun Livi baru tau tadi pagi
tapi Livi melihat gelagat ibunya saja baru tau juga kalau dijual, dan gak tau kalau sudah lakunya
kalau ia angkat bicara yang ada dia akan disalah salahkan lagi, yang gak bilang dari awal lah, yang gak kreatif lah, intinya Livi malas angkat bicara karna paham dirinya akan serba salah dimata Lenita
"kakak gak tau memang? kan kakak sering dirumah?" tanya Adis
"iya Livi, kau diam saja?" tanya Lenita
"eh iya ma, aku dengar kok"
"soal apa kita bahas?" tanya Lenita lagi
"soal rumah belakang kan? dijual sudah lama kan? itu kata mama"
"iya, terus kenapa bengong?"
"gak ada, lagi dengerin gak bengong, kan mama bicara masak mau dipotong"
"adaaa aja kau jawabannya kalau bicara sama orang tua"
"iya ma maaf"
"lain kali gak boleh jawab gitu"
dalam hati Livi "salah lagi, salah mulu, salah terus, apa apa salah "
"kakak gak tau memang?" tanya Adis
"baru tau ini, mama bilang kan" kata Livi
"yaudah ayo makan" kata Lenita
yaa.. Livi memang selalu terkesan salah dimata Lenita, Lenita selalu tidak satu pikiran, selalu ada saja yang membuat beda pendapat dengan Livi
bahkan ketika Livi benar pun, Lenita akan tetap berbeda pendapat
Lenita memang selalu seperti itu, meski sebenarnya ia setuju dengan sesuatu hal yang sama dengan Livi namun ia selalu akan menyangkal nya dan memilih untuk menyalahkan Livi dalam apapun
jadi Livi terkesan apapun dikerjakan nya ya salah
sekali lagi, karna sabarnya Livi dalam hidupnya, ia tidak memberatkan dan tidak memikirkan ucapan Lenita, Livi mengingat jika bahkan diapakan juga Lenita adalah ibu yang harus dia hormati
dua minggu kemudian...
tiba saatnya dimana Livi kembali sendiri dirumahnya
Mirza malah kembali datang untuk menagih janji Livi ketika awal ketemu mereka
"Livi.." panggilnya didepan rumah Livi
Livi tidak tau jika itu Mirza, ia kira tamu biasa, karna ketika tau itu Mirza, bisa saja Livi menghindar dan tidak menemuinya agar tidak ditagih janjinya sendiri
tapi karna tidak tau jadi Livi jalan dan ketika melihat itu Mirza, Livi kaget
"loh kamu?" sapa Livi
__ADS_1
"eh hehe iya, kamu lagi apa? sibuk?"
"emm, ehh.. ini.. baru selesai bersihkan rumah, oh ya, duduk dulu"
Livi mempersilahkan Mirza duduk di kursi yang ada diluar rumahnya
"gak sibuk?" tanya Mirza
"emm ada apa ya?" tanya balik Livi
"aku mau nagih"
"nagih?" tanya Livi kebingungan
"iya lah"
"memang siapa yang ada hutang sama kamu?"
"kamu"
"aku? eh tunggu, hutang apa? berapa?"
Mirza mengingatkan lagi janji yang Livi ucapkan sendiri padanya tentang niatnya yang akan mengajak jalan jalan mengenalkan wilayah wilayah sekitar rumah itu
mendengar itu Livi kaget, ternyata Mirza masih mengingatnya, padahal saat itu ia mengatakannya hanya untuk basa basi saja
tidak mungkin ia mengantarkan Mirza juga kok keliling wilayah itu, apa kata tetangga nya? bagaimana sikap ibunya?
"kok diam? kamu gak bisa?" tanya Mirza
"iya nih"
"oh, ya gakpapa kalau gak bisa"
"aku lagi ada kerjaan"
"iya udah gakpapa, tapi lain waktu bisa kali ya?" tanya Mirza
Livi kembali diam..
sebenarnya ia bisa mengantarkan Mirza kemana pun Mirza mau, asal tidak untuk keliling wilayah rumah itu tapi Livi akhirnya mengatakan jika ia saat itu ya hanya basa basi, bukan serius akan mengantarkannya
"aku minta maaf ya, jadi gak enak, kupikir juga waktu itu kan cuma basa basi, eh taunya kamu beneran nagih" kata Livi
"astaga, kamu jadi hanya basa basi itu?" tanya Mirza kaget
"haha iya, aduh maaf maaf"
"astaga Livi ya.. bisa bisanya"
"maaf, jangan marah, maaf deh"
"hemm, terus berarti kamu gak akan gitu antar aku keliling?"
Livi mengatakan dengan kepolosannya jika ia tidak akan pernah mengantarkan Mirza keliling sekitar rumahnya, dengan alasan yang sebenar benarnya dia katakan disana ya karna ia memang saat itu menawari karna basa basi saja
mendengar itu, Mirza bukan marah, malah tertawa sambil mengusap beberapa kali dadanya
__ADS_1
sudah tidak bisa lagi Mirza berkata kata tentang apa yang ia alami hari itu dari apa yang Livi jelaskan