Alva Livi Asila

Alva Livi Asila
Hubungan Intens


__ADS_3

"kamu kenapa malah ketawa? kenapa mengusap dada? prihatin ya sama jawabanku?" tanya Livi


mendengar itu semakin lah Mirza ketawa dan malah memegangi perutnya


"kamu ini apa sih? kenapa?" tanya Livi sedikit keras


"aku tadi ketawa karna melihatmu yang jujur, sedangkan mengusap dada karna kamu terlalu berlebihan jujurnya, dan makin keras ketawa barusan sampai sakit perutku karna kamu begitu polos"


"seriussss, soal jalan jalan itu lupain ya, aku cuma basa basi beneran" kata Livi


Mirza mengiyakan pernyataan Livi dan mengganti semua nya dengan satu hal


"okeh deh, aku gak akan lagi nagih buat jalan jalan sekitar sini, aku terima maaf kamu juga, tapi ada nih satu saratnya"


"apa itu?"


"kasih aku nomor kamu, biar aku bisa ngubungi kamu ketika aku butuh butuh sesuatu atau apa"


"oh iya bisa bisa kalau itu, bentar aku ambil hapeku"


Livi mengambil hapenya dan kembali ke luar rumahnya


"ini" kata Livi menyodorkan hapenya


"nomornya aja Livi, saya gak minta hapenya haha" kata Mirza tertawa lagi


"iya ini pegang dah, cari sendiri, aku mau ambilkan kamu minum, bentar pegang aja" kata Livi


Livi kembali masuk..


membiarkan hapenya di pegang oleh Mirza, Mirza melihat Livi berjalan masuk malah menggeleng gelengkan kepalanya, ia heran bagaimana ada gadis sepolos dan sepercaya itu


bagaimana kalau ia bawa kabur hapenya? kan bisa saja? apalagi Mirza orang asing, andai Mirza orang jahat pasti sudah lenyap hape ini


tapi inilah yang membuat sosok Mirza tertarik kepada Livi, bukan untuk berniat buruk dan tidak ilfeel sama sekali


Mirza membuka hape Livi yang bisa ia buka tanpa kunci sandi,


ia mengetikkan nomornya dan menyimpannya di kontak hape itu,


lalu menelfon nomornya pakai hape itu biar nomor Livi masuk dihapenya.


tak lama Livi datang dengan segelas air jeruk dingin dan sebungkus camilan cookies coklat


"ini kubuatkan yang seger seger, kan siang siang lagi panas" kata Livi


"waduh makasih, kok kamu bawa satu? buat aku aja? kamu gak?"


"gak, kamu saja"


sebagai tamu, Mirza menghargai yang Livi bawakan, meskipun Mirza sebenarnya tidak mau memakan camilan dan meminum minuman dingin apalagi rasa rasa, tapi karna menghargai jadi ia menikmatinya saja


"em iya, kamu disini sama siapa saja?" tanya Mirza


"ibu sama adik perempuan"


"oh bertiga ya?"

__ADS_1


"iya, disini bertiga, tapi masih ada dua kakak perempuan sih, cuma sudah pada nikah dan rumah sendiri sendiri"


"oh, kamu anak ke berapa?"


"tiga"


"oh, loh ayah atau bapak?"


"sudah cerai sama ibu, lama, waktu aku masih tiga tahun, adikku baru baru lahir"


"emm, oh ya? aduh maaf ya.."


"haha iya santai"


"boleh saya tau cerai karna apa?"


"aku saja gak tau, mama gak pernah bilang juga, mama selalu menerapkan tentang perceraian itu terjadi ya karna tidak cocok aja, jadi kepikirannya aku sama saudara ku lainnya karna tidak cocok saja"


"emm, bener ibu kamu, gak semua harus diceritain kok"


"iyaa"


mereka mengobrol sedikit tentang keluarga Livi, Livi juga bertanya tentang keluarga Mirza bagaimana


"kalau boleh aku tau juga, orang tua kamu?" tanya Livi


"oh ada, lengkap sih, syukurlah ayah ibuku masih ada"


"oh, bagus lah, saudara?"


"aku punya kakak laki laki"


"oh, enak hanya berdua, pasti dekat banget"


"ya begitu lah, deket kebangetan memang"


"iya, kan cuma berdua aja kalian"


setelah mengobrol banyak tentang keluarga masing masing, Mirza yang ada kerjaan jadi pamit dan pulang sementara Livi melanjutkan urusan rumahnya


hari hari pun berlalu...


Mirza Livi mulai dekat dengan bantuan hape, mulai dari pesan chat, voice note, telfon bahkan sesekali video calling


banyak yang mereka sharing bersama tentang pribadi, baik pengalaman, masa lalu, pekerjaan bahkan membahas tentang sikap dan sifat masing masing dari mereka


mereka merasa sama sama cocok dalam berkomunikasi, saling klop ketika membahas sebuah masalah, meskipun umur mereka terpaut cukup jauh


itu karna Mirza yang selalu berpikir seperti anak muda sekarang sementara Livi yang dewasa melebihi umurnya


dan semua terjadi atas masalah yang mereka alami masing masing, sehingga menarik diri mereka untuk terbiasa dalam situasi


singkat cerita..


mereka akhirnya bisa untuk jalan berdua, pertemuan juga tidak sengaja ketika mereka ada di minimarket dekat rumah mereka


"Livi? kok disini?" sapa Mirza

__ADS_1


"lah kak Mirza, kok disini juga? dari mana?"


"aku dari rumah papa ku, mau kerumah belakang kamu, istirahat aja sih, kalau kamu?"


"aku juga mau balik kerumah"


"dari mana?"


"nyari kerjaan, susah banget kerjaan sekarang ya"


"eh iya, duduk diluar situ yuk, ngobrol bentar, nikmati minuman"


"iya boleh"


mereka duduk berdua di kursi yang disediakan minimarket disana


Livi menjelaskan ia tengah nyari kerjaan, dan Mirza hanya mendengarkan saja


sebenarnya Mirza bisa saja mencarikan pekerjaan apapun itu untuk Livi, tapi Mirza memilih diam untuk mendengarkan Livi cerita masalahnya dalam mencari pekerjaan


hari hari pun berlalu..


kedekatan mereka semakin jauh, karna Mirza merasa cocok begitu juga dengan Livi yang nyaman


banyak hal yang tidak bisa didapatkan Livi dari cowok lain seperti perhatiannya dan romantisnya tapi ada pada Mirza


begitu pun Mirza yang baru menemukan wanita seperti Livi dengan kepolosannya..


disituasi kedekatan mereka berdua, Mirza yang sudah mulai jadi warga di sekitar rumah Livi mulai banyak yang kenal


situasi ini di manfaatkan Mirza untuk diam diam mencari tau tentang sebenarnya Livi dari para warga sekitar


ia memang sudah yakin dengan hubungan kedekatannya, tapi bukan berarti ia tidak percaya juga kepada Livi, ia hanya ingin tau bagaimana background keluarganya dimata masyarakat sekitarnya


ketika itu Mirza pergi ke toko Sudar untuk membeli yang ia butuhkan, memang ia berharap ketika lewat rumah Livi, ia bertemu dengan Livi, tapi kalau tidak bertemu pun tak masalah karna niatnya ke toko Sudar bukan hanya untuk beli beli saja tapi juga mengorek tentang keluarga Livi


ketika Mirza lewat rumah Livi, terlihat rumahnya sepi..


sampai ditoko Sudar..


"pak.. beli" sapa Mirza


"lah Mirza ya?" sapa Sudar


"iya pak, ini pak saya beli gula dong, setengah boleh kah?"


"boleh boleh, apa lagi?"


"sudah lah"


selesai Sudar melayani dan Mirza membayar, Mirza mulai bertanya tanya


"eh iya, kok rumah sebelah sepi ya? biasanya saya kelihatan Livi, lagi nyapu, lagi bersih bersih gitu"


"iya tadi saya lihat memang Livi keluar sama adiknya, gak tau kemana, ibuknya mungkin ada disitu"


"oh.."

__ADS_1


"kenapa?"


"cuma tanya, biasanya saya ngelihat Livi dirumah"


__ADS_2