
"iya, adikmu kayaknya gak kemana mana nanti" kata Lenita
"emm, yaudah" jawab Livi lega
"kenapa?"
"gak ma, nanti Mirza datang"
"Mirza? Mirza belakang rumah?"
"iya"
"oh mau kesini? ada apa katanya?"
"nanti mau bicara sendiri katanya"
"oh, iya udah, nanti kalau datang suruh masuk aja, terus panggil mama"
"iya ma"
siangnya..
Aqni datang bersama suami dan keempat anaknya (dua lelaki, dua perempuan)
sejam berikutnya disusul Avni datang bersama dua anaknya (dua perempuan)
sorenya Adis izin keluar..
"Adis katanya gak ada acara keluar hari ini?" sapa Livi
"iya gak ada, ini bentar kak, kerumah bu Niken, paling gak sampek setengah jam"
"oh"
kebetulan anak Niken juga teman sekelas Adis di SMA dulu
"kenapa kak?"
"gak, tanya aja, soalnya tadi kata mama, gak ada urusan keluar"
"iya, kirain kenapa? oh ya, kata mama, nanti kak Mirza datang kerumah? ada apa?"
"mau bilang sendiri ke mama katanya"
"oh urusan sama mama, okeh deh"
"hati hati, jangan magrib balik"
bukan karna magrib nya, tapi karna takutnya Adis baliknya malah malem dan melewatkan moment Mirza melamarnya
benar saja, belum jam lima (sore) Adis sudah sampai dirumahnya lagi
malam tiba..
Mirza datang kerumah Livi tidak sendiri, bersama Vito..
__ADS_1
karna memang niat Mirza melamar Livi jadi setidaknya harus bawa keluarga sebagai saksi, jadi Mirza membawa kakaknya, sekaligus mengenalkan Vito kepada Lenita dan anak anaknya (kecuali Livi)
setelah Mirza datang,
disambut baik keluarga Livi,
dipersilahkan duduk,
Mirza mengenalkan Vito disana,
Vito mendapat sambutan baik,
barulah Mirza memulai membahas rencana ia melamar Livi
"udah, ayo makan dulu, kalian berdua gabung bersama anak, mantu, dan cucu saya" kata Lenita
"emm buk, maaf, sebelum itu, saya mau bicara dulu" kata Mirza
"oh boleh" kata Lenita yang tadi berdiri langsung duduk lagi
mulai lah menjelaskan kedatangan Mirza disana, dibantu sang kakak juga menjelaskan maksud ke-ikut serta-an kedatangan Vito
seketika membuat Lenita dan ketiga anaknya (selain Livi) terkejut
impresion Aqni "kenapa harus Livi?"
impresion Avni "apa lebihnya Livi?"
impresion Adis "kenapa bukan aku?"
yaa, jauh berbeda impresion mereka berempat namun Lenita hanya bingung menolak atau menerima
menolak apakah dengan alasan :
Mirza kan duda, empat anak, sementara Livi belum pernah menikah bahkan dekat dengan pria apalagi mengurus anak
menerima apakah dengan alasan :
Mirza kan tajir melintir, hidup Livi akan sangat membaik bahkan hidupnya juga akan menjadi baik dari yang terbaik sebelum sebelumnya
karna terlalu bingung, membuatnya jadi nge-freeze dan tidak menjawab apapun pernyataan Mirza
ketakutan Livi semakin menjadi jadi..
"buk.. saya serius pada Livi, saya tidak main main, saya rasa usia Livi juga bukan lagi untuk main main, jadi saya rasa hubungan ini biar ke jenjang serius" kata Mirza
"apa ibuk menerima? atau ibu menolak? tolong berikan kami jawaban, orang tua kami dan anak anak Mirza sudah setuju, apalagi saya yang bahkan sampai mengantarkan Mirza kesini untuk jadi saksi" kata Vito
mendengar ucapan Vito tentang Mirza ternyata memiliki empat anak, ketiga anak Lenita (selain Livi lagi tentunya) kaget bukan main
Jika Aqni, Avni dan Adis hanya taunya Mirza adalah duda (tidak memiliki anak)
tapi sebenarnya Lenita sudah tau semua jika Mirza duda dan memiliki empat anak bahkan Lenita pernah bertemu keempat anak Mirza secara kebetulan (tidak sangaja bertemu)
daaan kali ini Livi membantu Mirza, dimana sebelum sebelumnya Livi selalu diam, menerima saja apapun yang ada didepannya tanpa ikut campur
__ADS_1
"ma.. sisa restu dari mama, bukankah restu menikah harus dari kedua belah pihak? jawaban mama perjalanan dan keputusan untuk Livi dengan Mirza" kata Livi
mendengar ucapan Livi, Lenita seolah merasa jika Livi sebenarnya tau Mirza memiliki empat anak, dan Livi bisa menerima itu
"yaa.. saya sebagai orangtua, merestui jika anak saya mau, jadi keputusan pada Livi sendiri karna dia yang akan menjalani kehidupannya bersamamu, urusan restu saya kasih" kata Lenita pada Mirza dan Vito
mendengar itu betapa senangnya Mirza dan Livi, restu sudah lengkap dan mereka mulai mempersiapkan segala urusan pernikahan
sebulan sejak hari itu, hari Mirza membawa Vito melamar Livi, sejak hari itu juga Lenita terus diam dan tidak berkata apapun ketika bersama Livi
Livi tidak menyadari itu tapi Lenita tidak tau lagi harus berkata apa ktika dihadapan Livi
hingga akhirnya Lenita membuka suara dan mencoba berbicara dengan Livi empat mata (berdua saja)
situasi mendukung karna saat itu dirumah hanya ada Lenita dan Livi, Adis menginap di rumah teman karna tugas
"Livi.. mama mau bicara bisa?" tanya Lenita
"ya ma, duduk sini ma"
"soal kamu dan Mirza, kamu bener serius? Mirza itu duda, anak nya empat dan laki semua, sementara kamu gak ada pengalaman mengurus anak, dan anak laki laki itu jauh lebih aktif dari anak perempuan" kata Lenita
"iya ma, semoga Livi mampu dijadikan ibu meskipun hanya ibu sambung"
"bukan karna Mirza itu orang kaya makanya kamu berusaha bisa menerima empat anaknya?"
"justru anak anak Mirza lah yang membuat Livi yakin untuk melanjutkan ini dengan Mirza"
"mereka masih kecil kecil, kau akan sangat direpotkan"
"yaa.. memang semua anak kecil akan merepotkan, tapo itu proses, proses untuk Livi belajar sebelum Livi memiliki anak sendiri"
mendengar itu, Lenita seperti merasa keputusan sang anak menikah dengan Mirza benar benar tidak diragukan
Lenita melihat keseriusan anak nya akan menikahi Mirza, membiarkan sampai mana persiapan itu berjalan, dipersiapkan sejauh mana oleh Livi
karna dalam hatinya persiapan masih setengah jalan, bisa saja berhenti tengah jalan atau gagal
tapi ketika persiapan itu benar benar dilakukan keduanya hingga 99%, karna 1% nya hanya menunggu hari akad dalam tiga hari kedepan, bahkan kini ibu dan saudara saudara Livi juga orangtua dan kakak Mirza ada di tempat yang disewa Mirza Livi untuk akad dan pesta mereka nanti, barulah Lenita mencoba berbicara dengan Livi kedua kalinya
"Livi.." sapa Lenita masuk kamar khusus anaknya
"eh ma.. masuk mama, duduk disini" sapa Livi
"kamu yakin mau melanjutkan?" tanya Lenita
"loh ma, kenapa mama bicara gitu? apa restu mama belum bisa?"
"bukan, restu itu mama berikan pada siapapun kalau kamu sudah yakin, tapi mama hanya tanya dan meyakinkan lagi"
"yakin ma"
"hidup dengan pria yang pernah menikah dan memiliki empat anak, dan bukan cerai mati tapi cerai hidup?" tanya Lenita
"iya ma"
__ADS_1