
...Apakah mungkin ini takdir?...
...~Ambara...
...***...
Pagi harinya, semua anggota keluarga berkumpul, termasuk Maura, Naura, Jaka, dan Raka. mereka memulai Sarapan dengan damai sebelum Raka yang tersedak makanan gara-gara injakan Maura.
"Uhhukk uhhuk"Raka batuk setelah Maura menginjak kakinya.
"Kenapa lo rak?,"tanya Jaka dengan santai, sambil menambahkan lauk yang habis.
"Ishh, nohh si bocil injek kaki gue"ringis Raka sambil memegang kakinya.
"Alay!"ketus Samara sehingga Samira menginjak kakinya.
"Ck, kenapa sih?!"tanya Samara dengan ketus, sambil melihat sambira myang meletakkan jari telunjuknya dibibir.
"Ngapain lo nyuruh gue diem?"tanya Samara setelah melahap Sarapannya.
"Papa lagi ada masalah kak, makanya semua diem"jawab Samira dengan berbisik.
"Masalah apa?"tanya Amira yang duduk disebelah Samara.
"Katanya, mama mau punya anak lagi"jawab Samira lagi dengan berbisik.
"APA?!!"pekik Samara, Amira, dan Amara. Amara ikut berteriak karena dia duduk disebelah Samira.
"Kalian kenapa?"tanya Putra yang melihat keempat putrinya.
"PAPA MAU PUNYA ANAK LAGI?"tanya Amara dengan berteriak.
"Amara, jaga sikap!"bentak Putra sambil berdiri, sehingga Ambara ikut berdiri, disusul Maura, Naura, Jaka, dan Raka.
"Pa, tenang dulu"ujar Srita menenangkan Putra yang dadanya naik turun. mungkin menahan marah.
"Ck, papa tinggal jawab susah amat"celetuk Samara sambil berkacak pinggang.
"Bukannya papa gak mau jawab, tapi siapa yang bilang kalau papa mau punya anak?"ujar Putra, sambil bertanya siapa yang mengatakan bahwa dia akan mempunyai anak. lagi.
"Samira"ujar Amara dan Amira barengan, kecuali Samara yang hanya menunjuk saja.
"Astaga"kaget Putra saat mengetahui bahwa, Samira yang menjadi dalang dari semua ini.
"Hehehe, maaf pa, abisnya Samira kurang kerjaan"jawab Samira sambil nyengir kuda tanpa peduli bahwa dia bersalah.
"Papa coret dari kartu keluarga, baru tau rasa!"ucap Putra dengan ketus.
"Bener tuh om, coret aja"kini Jaka yang berbicara hingga ia menjadi perhatian semua mata.
"Sebelum Samira dicoret, elo yang gue tendang duluan"ucap Ambar dengan pandangan kesal.
"Shhh, kok jadi gue?"tanya Jaka, padahal dia tau kalau dia yang salah.
"Bodo amat!"ketus mereka.
__ADS_1
"Ck, ya...maaf deh, abisnya kurang kerjaan gue"ujar Jaka yang mengikuti logat bicara Samira.
"Ngapain lo ikutin logat gue?"tanya Samira sambil menodongkan garpu.
"Santai mbak, jangan kebawa emosi"ujar Jaka sambil bersembunyi dibelakang Raka.
"Dih, dih, dih, ngapain lo sembunyi segala?, kalau takut bilang aja"tukas Raka sambil menggoyangkan badannya, agar pegangan Jaka terlepas.
"Kak Nau, dia siapa sih, kok nakalnya sama kayak Popo?"tanya Maura sambil menarik ujung baju Naura.
"Ohhh, mereka itu temannya kak Ambar"jawab Naura yang langsung mendapat anggukan antusias oleh Maura.
"Tapi kok kayak cacing kepanasan?"tanya Maura lagi, sehingga mereka menggeleng mendengan ucapan Maura ini.
"Mereka emang cacing Mau, tapi cacingnya tipe sianida. yang dimana-mana ngerusak tanaman"ujar Ambar pada Maura yang sedang membulatkan mulutnya seperti bentuk 'O'.
"Sumpah mbar, pikirannya masih cuci lo udah racuni"kata Raka dengan menuduh Ambar yang membuat Naura tertawa.
"Hahaha, Raka bisa aja, suci Raka. S-U-C-I, SUCI."setelah mengakhiri tawanya, barulah Naura membenarkan perkataan Raka.
"Ehhh, typo yah?"tanya Raka dengan wajah lucu yang dibuat-buat.
"Boleh gak, muka lo gue setrika biar datar sekalian!"ketus Jaka yang melihat tingkah Raka, yang bisa dibilang, terlalu menjijikan.
"Eleh, elo yang paling gila dari gue aja biasa kok"solot Raka hingga mendapat tabokan dari Jaka.
"Jangan nyolot juga kali"protes Jaka dengan menarik kembali tangannya.
"Mending kalian pulang, ganggu ketentraman rumah gue aja"kini Amara yang bicara.
"Ehhh, mbar mau kemana nih?"tanya Raka yang setia memegang baju Jaka yang diseret Ambar.
"Buang kalian ke tong sampah!"jawab Ambar ketus.
"Kalau mau ngusir kira-kira dong"protes Jaka dengan tampang kesal.
"Eleh, pergi atau gue gak teraktir kalian nanti?!"ancam Ambar, sehingga Jaka dan Raka terpaksa pergi.
"Hufff, emang susah punya temen gila semua"cibir Ambar sambil geleng-geleng memasuki rumahnya.
Setelah masuk kedalam rumah, Ambar berjalan menemui Naura beserta adik-adiknya untuk diantarkan kesekolah.
"Ma. Pa. kita berangkat"ujar Ambar ketus. mungking dia masih kesal dengan kedua tan biadabnya.
...***...
Diperjalanan awalnya sangat lancar dan santai, tiba-tiba entah darimana datangnya sebuat truk yang melaju dengan kecepatan tinggi, dan menabrak mobil Ambar.
"KAK AMBAR AWAS DIDEPAN ADA TRUK!!"teriak Amira kencang yang membuat Ambar terkejut dan....
Cittt
Brakkk
Mobil Ambar berhasil menghindar dari truk tadi namun, mobilnya harus terguling masuk kejurang.
__ADS_1
Ambar dapat melompat bersama Samara, Samira, Amara, Amira, dan Maura. namun tidak dengan Naura yang pintu mobilnya terkunci. akhirnya Naura ikut bersama mobilnya masuk kedalam jurang.
Setelah kejadian itu semua atmosfer berubah seketika, banyak warga yang berdatangan untuk membantu mereka. polisi dan mobil ambulance sudah datang ke TKP, disusul oleh keluarga Ambar dan Naura yang datang dengan tangisan.
Ambar bisa membuka matanya, dan yang pertama dia lihat adalah....
Mobilnya yang habis terbakar dibawah sana.
...***...
Pukul 23.17
Disaat tengah malam, Naura ditemukan, namun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Tubuhnya yang berlumuran darah, baju yang sudah sobek, hingga rambutnya yang dulunya panjang menjadi pendek.
"Pak tolong selamatkan Naura, jangan biarkan Naura kenapa-napa"ujar Maya sambil menangisi tubuh putrinya.
"Baik buk, tapi alangkah baiknya kita bawa dia kerumah sakit"ujar seorang polisi sambil memanggil para perawat untuk membawa tubuh Naura.
"Ma. Pa. kak Naura gak kenapa-napakan?"tanya Maura dengan gumanan kecil sambil menangis. Ambar yang melihat Maura menangis langsung memeluk tubuh kecilnya itu.
"Susstt, Maura jangan nangis. Naura pasti selamat, percaya sama kakak"ujar Ambar sambil menenangkan Maura.
"Hiks, kak Ambar kenapa harus kak Naura yang jadi korban?, kenapa bukan kakak?"tanya Maura sambil menangis dipundak Maura.
"Maaf Maura, kalau kamu nanya gitu kakak hanya bisa jawab, gak mau mati dulu, dosa kakak masih banyak, kasian tugas yang dikasih guru pada numpuk dan belum selesai"batin Ambar sambil mengelus rambut Maura.
"Ambar"panggil Adi, sambil memeluk istrinya yang masih menangis.
"Kenapa om?"tanya Ambar, setelah melepaskan pelukannya dari Maura.
"Bisa ceritakan kronologinya?"tanya Adi dan dibalas anggukan oleh Ambar.
"Jadi gini om, kita mau berangkat ke sekolah dan lewat jalan raya, nahh dimobil kami bercanda. tapi Ambar masih konsentrasi nyetir om. terus Ambar denger dibelakang ada Naura yang marah-marah, batin Ambar mungkin dia kesel karna adiknya Ambar..."Ambar menarik nafasnya sejenak dan melanjutkan ucapannya.
"Jadinya Ambar nengok ke arah Naura, terus tiba-tiba Amira teriak, kalau ada truk yang rimnya blong menuju kearah mobil yang Ambar bawa, terus Ambar terkejut om, sampai Ambar ngindarin pohon itu. ehhh malah nabrak pohon, udah gitu mobilnya isi guling-guling masuk jurang. Ambar berhasil lompat sama mereka kecuali Naura, mungkin pintu mobil ya Naura terkunci"setelah bercerita tentang kejadian tadi pagi, Ambar menangis sambil mengacak rambutnya.
"Kenapa kamu nangis?"tanya Maya yang tangisannya berhenti, karna melihat Ambar yang menangis.
"Nangis lah tante, masa Ambar ketawa keluar air mata"jawab Ambar sambil menghapus air matanya.
"Yaudah kita lanjut nangis" dan benar saja setelah Maya berucap seperti itu, mereka berdua melanjutkan tangisan mereka yang tertunda, namun kali ini disusul oleh Adi, Srita, Putra, Amara, Amira, Samara, Samira, dan Maura.
Dapat salam juga dari Ambar
Huhu guys, Ayus gabisa buat cerita yang sedih.
Mungkin Ayus harus berlatih lagi, supaya kalian bisa ikutan nangis.
Sampai disini dulu ya guys.
Eps.14 tunggu nanti malam.
__ADS_1