AMBARAWA

AMBARAWA
Naura koma?


__ADS_3

Guys, maaf sebelumnya.


Jadi aku bakal ganti cara tokoh disini.


Namanya masih sama kok.


Tapi aku pakai yang fan art.



Ini untuk Ambara.



Ini untuk Raka.



Ini untuk Jaka.


...***...


Mereka semua berkumpul diluar ruangan oprasi, mereka saling menatap satu sama lain.


Lihat Maya, dia dari dua hari yang lalu menangis tak berhenti, Maura yang ingin memasuki ruangan tapi dilarang oleh dokter, Adi yang bolak-balik tak karuan.


Sementara, Ambar beserta keluarganya tengah menatap pintu ruangan yang Naura tempati sejak kecelakaan dua hari yang lalu.


Mereka terus menatap pintu ruangan itu, hanya ada dua warna lampu disana. merah dan hijau, mereka terus melihat kearah lampu dan kearah pintu.


"Ma, kapan kak Naura sadar?"tanya Maura sambil memeluk Maya yang menangis.


"Mama juga gak tau sayang, tapi Naura berdoa yahh. semoga kak Naura cepat sembuh"jawab Maya sambil memeluk tubuh Maura.


"Di, lo bisa gak usah bolak-balik dari kemarin, mau jadi apa lo bolak-balik terus"ucap Putra dengan serius, namun tak dibalas oleh Adi.


"Udah pa, Adi lagi terpuruk, jangan biarin dia berfikir lebih keras"ujar Srita sambil menenangkan Putra.


"Ma, Ambar salah disini, kalau aja Ambar gak ngeliat kebelakang, Naura gak mungkin celaka kaya gini"lirih Ambar yang berjongkok.


"Kak Ambar jangan nyalahin diri sendiri kak, ini namanya takdir, mungkin ini ujian yang ditunjukkan buat kita"ujar Amira sambil mengelus bahu Ambar.


"UJIAN?, KAMU BILANG UJIAN!, KALAU AJA AMBAR GAK NGAJAK NAURA BUAT BERANGKAT BARENG DIA, NAURA GAK BAKAL KAYA GINI!"teriak Maya yang frustasi, sambil mengguncang tubuh Amira.


"MAYA!, JANGAN KAMU SALAHIN AMBAR, INI ITU EMANG TAKDIR, EMANG DARI DULU KAMU HOBI BANGET NYALAHIN ORANG!"teriak Srita yang tak terima putrinya dibentak.


"HEH!, HARUSNYA KAMU YANG MIKIR SRIT!, KALAU BUKAN KARNA KAMU ULAN GAK BAKAL DIKUBUR!"kini bentakan Maya tak enak didengar, Maya membawa masa lalu mereka.


Masa lalu yang dimana Ulan, yaitu mama kandung Ambar, Samara, Samira, dan Amara. Ulan meninggal karena ia mengetahui bahwa, Srita temannya mengandung anak dari Putra.


"CUKUP!, KALIAN KAYA ANAK KECIL AJA BERANTEM, MENDING KITA SAMA-SAMA DOAIN NAURA BIAR OPRASINYA LANCAR!"teriak Ambar sambil membentak kedua keluarga yang bertengkar.

__ADS_1


Yang benar saja, bukan hanya mengganggu aktivitas dirumah sakit ini, melainkan Ambar yang merasa malu karna dia juga ikut diam disana. andai saja Naura bukan siapa-siapa Ambar, ia mungkin sudah pergi sebelum mulainya pertengkaran tadi.


"KAMU GAK PERNAH KAYA TANTE AMBAR!, KAMU GAK TAU GIMANA RASANYA TERPUKUL WAKTU ANAKNYA KECELAKAAN!"teriak Maya tak terima. semua pandangan para manusia kini terfokus pada mereka, satpam yang ada disana hanya diam. mungkin batin mereka ini seru?,


Ahhh sudahlah, kita kembali lihat didalam ruangan oprasi, dokter bersama para suster sedang bekerja keras agar Naura bisa selamat. meski itu hanya 40%.


"Gue harap mereka bisa nyelametin Naura"ucap Samara dengan santai.


"Mara, bahasamu!"tegas Putra.


"Ck, papa selalu saja mikirin bahasa, kapan papa mikirin kita hah?!,"ketus Samara sambil melenggang pergi dari sana.


"Kak Samara!"panggil Amira sambil menyusul Samara ya sedang berjalan santai.


Entah kemana perginya mereka berdua, apakah Amira akan baik-baik saja bersama Samara. Dengan melihat hubungan mereka berdua yang makin hari makin memburuk, membuat Srita resah.


"Pa, susulin Amira. mama takut Amira diapa-apain sama Samara"ujar Srita sambil menggenggam tangan Putra.


Putra langsung menyusul Samara dengan anak-anak yang lain. hingga tersisa Ambar, Srita, Adi, dan Maya.


"Ck, kacau semua!. ini karna elo!...."tunjuk Ambar pada Srita sambil membentaknya, hingga Srita meneteskan air mata.


"Jangan gitu Ambar, biar gimanapun Srita udah rawat kamu sampai sebesar ini"Adi kembali membuka suara untuk menasehati Ambar.


"Ekhemm, maafin Ambar ma."


Kini Ambar memeluk Srita yang masih menangis. sementara Adi senantiasa memeluk istrinya yang tak henti-hentinya menangis. apa stok air matanya masih banyak?.


Pintu ruang operasi terbuka, dokter pun keluar dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan.


"Bagaimana dok?,"tanya Maya dengan tiba-tiba.


"Maaf sebelumnya bu Maya, saya membawa kabar baik dan kabar buruk."ujar dokter pada Maya, sehingga langkah Maya mundur dua langkah.


"Saya mau dengar berita buruknya dulu!"tegas Adi hingga mendapat tabokan dari Maya.


"Pa!, dimana-mana berita baik dulu didengar, habis itu baru berita buruknya"ujar Maya dengan wajah memerah.


Ambar yang melihat hal tersebut, hanya memutar bola matanya malas. disaat begini sempatnya mereka membuat candaan?.


"Kenapa gue harus bertemu dengan orang-orang yang selera humornya tinggi?"guman Ambar.


"Kamu bilang apa?"tanya Srita yang sudah melepas pelukannya dari Ambar.


"Ehh, gak ma"jawab Ambar sambil menggelengkan kepalanya.


Kini pandangannya sedang fokus kepada Maya dan Adi yang masih berdebat, sementara dokter yang menangani Naura hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua orang tua itu.


"Udah lah, kita denger berita buruknya dulu Maya, kalau denger berita yang baik duluan, terus baru denger berita buruk, bisa-bisa tadi kita nge-fly jadinya nge-dawn"ujar Adi yang tak mau mengalah dengan ucapan Maya.


"Iyain"nahh kan, Maya ngambek dia. Adi hanya bisa menghembuskan nafas pasrah.

__ADS_1


"Yasudah, kabar buruknya dulu"


Plakk


"Kabar baik dulu!"kini sorot pandangan Maya menajam, sehingga dokter bergindik ngeri. lebih baik dia disuntik tiga kali, dari pada berhadapan sama macan betina.


"Gini-gini, saya akan kasih tau berita baiknya dulu"ujar dokter, sehingga Maya tersenyum puas, lalu melirik sinis Adi.


"Apa dok?"tanya mereka.


"Operasinya berjalan lancar, tapi pasien koma"


Deghhh


"Itu berita buruknya?"tanya Srita pada dokter.


"Iyaa, saya permisi dulu. jika kalian menangis, tolong jangan keras-keras apalagi teriak, soalnya didekat sini ada kamar mayat. kasihan entar mayatnya gak bisa tidur dengan tenang"ujar dokter itu dengan santai lalu pergi ke ruangannya.


"INI NGGA-mphh"sebelum Maya teriak, Adi sudah membekap mulutnya.


"Suthh, jangan teriak ma, kasian arwah mayatnya nanti gak beristirahat dengan tenang"ujar Adi sehingga Maya hanya mengangguk.


Mereka akhirnya masuk keruangan Naura, dan betapa terkejutnya mereka saat masuk ke ruangan Naura.


"Demi apa wajah Naura beda banget"batin Ambar sambil memeluk Srita yang menangis, lagi.


"Pa, ini beneran Naura?"tanya Maya tak percaya sambil menutup mulutnya lalu menangis.


"Iyaa ma, kayanya"jawab Adi dengan duduk santai di sofa.


"PAPA, BUKANNYA IKUTAN NANGIS ATAU KHAWATIR ANAKNYA KOMA EHH MALAH DUDUK SANTAI KAYA GINI!"bentak Maya hingga Ambar dan Srita terkejut.


"Lohh, kok jadi papa yang dimarahin?. tapi emang bener ma, tadi kata dokter dia gak bisa memprediksi kapan Naura bakalan bangun"ujar Adi sambil menyilangkan kedua tangannya untuk melindungi diri dari Maya.


"Udah om, tante. kasian Nauranya"lerai Ambar dengan tersenyum kecut.


Kini wajah polos ala anak-anak Naura telah tergantikan menjadi wajah yang lebih dewasa.


"Cepet bangun Nau, aku pengen jailin kamu lagi"bisik Ambar lalu mengecup kening Naura tapi...


"Eitss, belum sah!. gak usah Main cium-cium segala"ujar Adi sambil mengapit kedua kepala Ambar dengan tangannya.


"Hehehe, maaf om, khilaf"ujar Ambar sambil menyengir.



Ini dia Naura dengan wajah versi baru


Like-like guys


Jangan sungkan buat komen

__ADS_1


__ADS_2