
maaf yahh telat up.
Astagaaa aku baru ingat kata sandi akunnya.
Dan udah lama juga nggak up disini, hiks.
...***...
Kini tibalah mereka semua di depan gerbang rumah sakit. banyak orang yang bingung atas kedatangan sebagian siswa SMA dia area rumah sakit.
"Widihh, gue baru tau kalau rumah sakitnya segede ini"kagum Jaka, namun segera digeplak oleh Raka.
"Pliss Jak, jangan malu-maluin lo disini"ujar Raka sambil melangkah dan menarik Jaka.
"Tapi emang kenyataannya sayang"
Raka bergindik ngeri mendengar panggilan itu, ishh rasanya seperti ada konspirasi di benak jantungnya.
"Jijik *****!"ketus Raka, sehingga Jaka menetralkan wajahnya. Ambar dan Rio yang melihat tingkah mereka hanya mampu diam saja.
Pasalnya, jika mereka ikutan seperti Jaka biarpun Ambar tak suka berlebihan, tapi mereka tidak mau merusak citra mereka diluar sekolah.
"Sumpah kalian malu-maluin banget"ujar Rio sambil bersedekap dada. pandangannya kini menuju ke arah anak-anak IPS2 yang sedang berjalan.
"GUYS!, KATA AMBAR RUANGAN NAURA DI KAMAR MELATI 15"teriak Rio yang membuat Ambar membelalakkan matanya. karena kamar melati 15 adalah... tunggu aja sebentar.
"Tau dari mana lo?"tanya Edwin sambil menghampiri Rio yang sedang tersenyum.
"Dari orangnya lah"jawab Rio sambil menunjuk Ambar dengan wajah tampan dosanya.
"Sabar mbar, ntar diluar rumah sakit kasi umpan ke buaya aja"-batin Ambar sambil menghela nafas.
"Bener mbar?"kini Edwin beralih bertanya pada Ambar yang terus memandang Rio dengan tatapan tajam.
"Bener kok, kesana aja masuk, jangan sampai nyesel"jawab Ambar sambil tersenyum. namun senyumnya bukan senyum biasa, tapi senyumnya nahan ketawa.
"GUYS, KITA KE KAMAR MELATI 15"teriak Edwin lantang sehingga menjadi pusat perhatian para penghuni rumah sakit.
"Ini anak, gak malu apa jadi pusat perhatian?,"guman Ambar sambil memandang aneh Edwin.
"Emang Naura dirawat disana dwin?"tanya Ara yang berjalan mendekati Edwin.
"Mungkin, kalau salah, kita keroyok Ambar"
deghh
"Kok gue yang jadi korban?"tanya Ambar, sambil mundur dua langkah.
Edwin dan Ara mulai curiga nihh. sebenarnya kemungkinan percaya sama Ambar itu sangat kecil, tapi karena kondisi tidak mendukung, jadilah mereka percaya saja.
"Udah ah, jangan dibahas. kita cepet cari kamar Naura, sebelum ini rumah sakit dijadiin bahan kejar-kejaran"ujar Aldi yang melangkah terlebih dahulu, disusul mereka yang lain.
Rio yang hendak mengikuti langkah mereka pun, kerah bajunya segera ditarik kebelakang oleh Ambar.
"Ehh, ngapain ditarik ogeb?"tanya Rio, sambil berbalik badan menatap Ambar yang menahan tawa.
"Yaudah kalau lo mau nyesel ikut mereka"ujar Ambar dan mulai tertawa, sehingga Jaka dan Raka menghampirinya sambil membawa air.
"Tolong, jika anda jin yang merasuki tubuh teman saya, mohon keluar. kasian dia masih menjomblo dan belum merasakan apa rasanya pacaran"ujar Jaka dan menyirami wajah Ambar dengan air tersebut, sehingga Ambar berhenti tertawa.
__ADS_1
"Nahh kan, jinnya udah keluar"ucap Raka sambil bertepuk tangan, layaknya anak kecil.
Ambar yang kesal dengan tingkah kedua temannya, kecuali Rio yang masih melongo, akhirnya Ambar mulai menoyor kedua kelapa ehh kepala temannya.
"Aduhh,"ringis Jaka dan Raka sambil memegang kepalanya. Rio yang melihat itu pun tertawa terbahak-bahak, namun nasibnya mungkin tak baik. Ambar juga menoyor kepala Rio.
"Rasain!"ketus Jaka dan Raka sambil tersenyum, lalu bertos ria.
"Yang bilang gue kemasukan jin itu siapa?"tanya Ambar dengan nada kesalnya.
Kasihan sihh, masa orang ganteng kerumah sakit dan karna tertawa, dikira kemasukan jin. yaa kalau jin BTS sih jangan yah.
"Lah, terus lo ketawa kenapa?"tanya Jaka sambil menggeser tubuh Rio agar dapat berhadapan dengan Ambar. namun, sayangnya sekali lagi Rio terpeleset dan jatuh.
"Jak, mau RSJ, UGD, apa langsung ke kuburan?,tanya Rio sambil berdiri dan menarik kerah belakang baju Jaka.
"Ehhh, bentar mbar.."ujar Jaka sambil berbalik badan menghadap ke arah Rio yang mukanya memerah marah, tapi terkesan kesal.
Kini Jaka berfikir dengan jari telunjuk yang ia letakkan di pelipisnya. mulai lah Jaka membuka mulut dan bicara,
"kalau gue milih RSJ, nanti para penjaga disana ga kuat ngeliat ketampanan gue dan akhirnya dilepasin. kalau gue masuk UGD, kasian jodoh gue kedepannya. kalau gue mau milih kuburan, gue belum sanggup buat mati dan menerima kenyataan bahwa gue jadi hantu yang paling tampan sedunia."
Itu jawaban panjang Jaka yang membuat Rio, Raka, dan Ambar melongo. pada detik bersamaan mereka akhirnya menoyor kepala Jaka sambil tertawa.
"Emang ada yang mau sama lo?" tanya Raka diiringi tawa yang pecah.
"Denger yah Raka, gue itu banyak yang mau, tapi gue aja yang gamau"jawab Jaka dengan santai.
"Udah-udah, kalian mau ikut gue liat pertunjukan gak?"tawar Ambar agar, sebuah perselisihan berhenti.
"Boleh, tapi apa?"jawab Jaka dan mulai bertanya, sedangkan Ambar hanya tersenyum dan mulai berjalan.
Disisi lain, kelas IPS 2 sedang menelusuri nama kamar yang tertera di masing-masing pintu rumah sakit.
"Edwin, perasaan gue gak enak loh"bisik Ara dengan memegang erat baju seragam Edwin.
"Gue juga ngerasa ada yang aneh"jawab Edwin dengan berbisik juga.
Setelah lama mencari, akhirnya kamar Melati 15 ketemu. namun, baru saja Aldi ingin membuka pintu, teriakan oleh Kanaya yang terdengar.
"Kenapa kan?"tanya Aldi sambil berbalik.
"ini kamar mayat Aldi"ujar Kanaya sambil berbalik.
Dan benar saja, mereka tidak melihat tulisan kamar mayat, hanya melihat nama kamarnya saja.
"Fiks, kita keroyok Ambar"ujar Anjani sambil berlari.
Mereka akhirnya berlari dan tanpa sadar berpapasan dengan Maura, adik dari Maura. seketika Anjani berhenti berlari dan stop secara mendadak.
Karena yang dibelakang tidak melihat itu, akhirnya mereka saling tubruk dan terjatuh.
Brukk
"Sshhh, kalian ngapain tabrak gue?"ringis Anjani, yang berada paling bawah dari tumpukan tadi.
"Diem lo an, gara-gara lo yang berhenti mendadak, pinggang seksi gue jadi remuk"ujar Ara sambil bangun dari posisi tengkurapnya.
"Tadi Maura lewat soalnya"ujar Anjani sambil menatap temannya dengan santai.
"Ngapain berhenti?, ya kejar lah"ucap Kanaya sambil berbalik arah dan mengejar Maura.
__ADS_1
Maura yang berasa ada yang mengejar pun akhirnya berlari kencang, hingga didepan kamar Naura, dia berlindung dibalik Maya.
"Kenapa mau?"tanya Maya yang melihat anaknya ketakutan.
"Tadi ada yang kejar Maya ma, terus orangnya banyak, pakai seragam SMA lagi"jawab Maura sambil terus memeluk Maya.
"Masa iya orang tawuran disini?"tanya Adi pada Maya, sedangkan Maya menggeleng.
"Ngapain tanya aku mas?, tanya aja ke mereka entar"jawab Maya cuek. memang Maya kalau setiap Adi bertanya sesuatu pasti jawabannya selalu cuek karna malam tadi you know lah. main kasar.
"Ngapain pake ngambek segala may?, kan menurut aku udah lembut"ujar Adi tanpa rasanya bersalah.
"Sutss, ada Maura kasian kupingnya gak suci gara-gara kamu"ucap Maya sambil menutup telinga Maura.
Tak lama, datanglah Ambar, Jaka, Rio dan Raka. mereka ngos-ngosan karna berlari.
"Ehh ada tamu tak diundang"ujar Maura sambil tersenyum.
"Ehhh Maura, lo kira gue jenglot apa"ketus Raka sambil memegang perutnya yang sakit, akibat terlalu capek berlari.
"Jailangkung kali, bukan jenglot"sarkas Adi sambil menabok lengan Raka.
"Ehh maaf om, biasa mulut saya suka typo"ujar Raka dengan cengiran.
"Kalian pasti mau tawuran yahh"tebak Maya yang memandang mereka menyelidik.
"Enggak kok"jawab mereka bersamaan. dibenak Ambar sudah tak enak, dibenak Rio hanya tercatat kebingungan, dibenak Raka tercatat bahwa ia lapar saat ini, dibenak Jaka tercatat wajah adik Naura yang cantik.
"Tapi katanya Maura, ada banyak anak SMA yang datang kesini"ujar Maya sambil memandang kearah belakang. yang dimana itu sudah ramai oleh anak-anak SMA.
"HALLO PRIBADEH"teriak Aldo sambil mendahului Aldi.
"Bukannya ucapin salam, ini malah halo-halo kaya di telpon"cibir Adi desamping Jaka.
"Jangan gitu om, saya selaku teman mereka berminta maaf, karena kelas saya dan Ambar serta Naura dicap sebagai kelas paling bobrok"ujar Jaka dengan santai.
"Ohh"cuma itu kalimat oleh Adi, Jaka sudah tau bahwa Adi sedang kesal untuk saat ini.
"Kalian pasti mau tawuran"tebak Maya sambil menunjuk tepat dimuka Edwin.
"Tante jangan salah paham dulu, kita kesini justru mau jenguk Naura"ujar Edwin sambil menghindari tunjukan Maya. takut-takut nanti kukunya bisa jadi pisau.
"Kenapa datangnya berbanyak gini?"tanya Maura yang membuat Kanaya menghela nafas.
"Ekhemm, begini adik kecil alias bocil. kita bakalan jenguk Naura biarpun Naura belum sadar"jawab Kanaya dengan susah payah. sementara mereka yang lain tau kalau Kanaya sedang menahan amarah.
"Ohhh, jadi mau tawuran atau jenguk?"tanya Maura lagi, dan kini ada dua opsi jawaban yang membuat Maya tersenyum.
"Tawuran/jenguk"inilah jawaban yang membuat mereka terdiam seketika.
"MAKSUDNYA JENGUK TANTE"teriak mereka sambil tersenyum.
Maya yang melihat itu hanya tersenyum, ternyata Naura banyak memiliki teman. gadis yang ceria, mudah bergaul, serta cerewet sangat mereka sayangkan mengalami koma.
"Yasudah, kalian boleh jenguk. asalkan sosial distenting"ujar Maya. mereka hanya mengangguk
Gapapa deh gak ada yang baca.
Tapi senengnya bisa ingat kata sandi akun yang ini.
Astaga, ini kesalahanku kenapa salah unistal apk.
__ADS_1