AMBARAWA

AMBARAWA
Dia Satria Putra Ambarawa


__ADS_3

Naura sekarang sudah pulang ke rumahnya. dia melihat adiknya yang sedang menonton televisi. lebih tepatnya dia menonton serial Doraemon.


Ya kan tahu sendirikan. Doraemon itu kucing, yang memiliki kantong ajaib yang bisa nampung sesuatu.


Andai saja Naura memiliki kantong ajaib itu, dia pasti sudah menampung Ambar dalamnya. sangat disayangkan dia jatuh di pesona Ambar astaga.


"Kak Naura udah pulang?,"tanya Maura pada Naura sambil menghampiri kakaknya yang baru pulang kuliah.


"Udah kok"jawab Naura. sok cuek padahal sih pengen bercanda sama adiknya.


"Kakak sama Kak Ambar?"tanya Maura lagi sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Ambar, dan benar saja si laki-laki berwajah dewa Yunani itu ada di belakang Naura.


Melihat perubahan dari raut wajah Maura, Naura membalik badannya. dia terkejut melihat Ambar yang ada di hadapannya sekarang.


"Astaga"latah Naura, sambil memegang jantungnya eh salah dadanya.


"Hehehe terkejut ya?"canda Ambar, sambil melihat ekspresi wajah Naura yang sangat menggemaskan jika terkejut.


Andai saja itu boneka, sudah pasti Ambar akan menerkamnya, dan membawanya keliling dunia.


"Nggak kok biasa aja"jawab Naura sambil cemberut. sedangkan Maura hanya menatap tajam kearah Naura yang cuek dengan Ambar.


"Kakak nggak boleh cuek sama Kak Ambar, kak Ambar kan baik, ganteng, banyak duit".


Kalimat terakhir itu yang membuat Naura menyentil dahi adik kecilnya itu.


"Dasar. kecil-kecil udah jadi mata duitan"cibir Naura sambil menggeleng melihat tingkah adiknya.


"Nau, aku pamit ya udah sore kasihan keluarga aku udah nunggu di rumah"ucap Ambar sambil menatap Naura dan Maura secara bergantian.


"Oh yaudah deh, kalau ke Ambar mau pulang. hati-hati"ucap Naura sambil tersenyum.


...***...


Setelah dari rumah Naura tadi, Ambar menuju ke rumahnya yaitu rumah Putra, ayahnya di mana ia dan saudarinya tinggal disana bersama ayah ibunya.


Tinggal di rumah besar memang kadang membuat Ambar bingung, seperti Ambar yang cuek-cuek bebek kayak dia pernah nyasar di dalam rumahnya sendiri.


Contohnya dia mencari kamarnya, tapi dia ketemu malah kamar mandi.


astaga Ambar itu sangat ceroboh.


Ambar mulai menghela nafas ketika ingatannya dan Laura kembali terulang,kenangan pahit dan manis mereka lalui bersama, susah, senang, dan sedih mereka alami bersama .


Sangat disayangkan 2 tahun berhubungan malah dibuat seperti ini, dan jika Ambar tahu kalau keluarganya lah penyebab kematian Laura apakah dia akan tinggal diam?.


Mungkin kalian harus menunggu chapter selanjutnya untuk hal ini.


"Ambar pulang"ucap Ambar sambil membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


"Eh kak Ambar udah pulang"ucap Samira dari arah dapur menghampiri kakaknya.


"Udah. makanya kakak berdiri disini"jawab Ambar dengan tatapan datar selalu melenggang pergi begitu saja memasuki kamarnya


"Sepertinya kata Amira memang benar, coba aja kita nggak ikutan dalam masalah ini mungkin yang kena masalah cuma Mama dan papa bukan kita"guman Samira sambil menatap nanar punggung kakaknya


Cklekk


Suara pintu terbuka menggema di kamar Ambar sang empu mulai menatap sebuah foto yang dipajang di dinding siapa lagi kalau bukan Laura namun entah kenapa tangannya mulai terulur untuk mengambil foto itu dan menaruh foto Naura di sana entah apa yang sedang ada di pikiran Ambar


Ting


Notifikasi yang berasal dari handphone Ambar. yang lebih tepatnya dari WhatsApp. yaitu grup mereka bertiga, yaitu Raka dan Jaka. disana terlihat Raka yang typing entah pesan apa yang akan dia kirim.


Begitu lama menunggu, akhirnya pesan Raka terkirim juga. saat Ambar melihat pesan itu, ia langsung menyiratkan wajah kesal.


Cogan inhilerr


Raka:guys" ada berita penting yang harus gue sampai'in


Jaka:apaan?


Raka: gue bakal nembak Naura loh besok


Ambarawa: gue santet atau gue bunuh?


(read by 2**)


Kadang bobrok,kadang usil, di kandangnya nakal, dan kadang ia juga dingin, seperti ini kadang juga ngeselin pakai banget.


Seharusnya dari dulu Ambar sekalian nggak punya teman. kalau punya teman dekat kaya mereka, yang bela-belain datang pagi cuma biar nunggu Ambar dan nyariin parkiran biar dikasih uang jajan.


Udah kayak nggak punya orang tua aja mereka. padahal mereka itu anak pengusaha yang kaya raya juga sama seperti Ambar.


Tapi ya mau bagaimana lagi, kalau takdir memang memberikan mereka sebagai sahabat, Ambar sih bersyukur aja, tapi asalkan ****** mereka itu dikurangin jangan sampai lupa sama jati diri.


Kaya dulu, gimana sih ekspresi kalian jika kalian itu digangguin pas makan?.


Sama seperti Ambar yang hampir kesedak bakso. jika Jaka yang tidak sengaja mendorong meja tempat Amar makan.


Sungguh sahabat laknat mereka, ingin sekali Ambar makan mereka atau dibuatkan sesajen. tapi menurutnya mereka itu sahabatan limited edition.


Tapi jika sekali ini saja dia mengganggu Ambar. maka sudah pasti Ambar pasti akan melemparkan mereka berdua ke Antartika, bila perlu mereka akan melempar gambar akan melempar mereka ke planet Pluto sekalian.


"Dosa apa aku Tuhan dapat sahabat seperti mereka?"ujar gambar sambil mengacak rambutnya frustasi atas tingkah laku sahabatnya.


Karena saking kesalnya, Ambar memutuskan untuk tidur tanpa mandi terlebih dahulu, biarlah badannya sangat bau.


Jorok

__ADS_1


Tapi ganteng gimana dong?


Ambar aku jatuh cinta padamu!!!


*Gubrakk*


Baru saja akan masuk ke dunia mimpi, Ambar sudah terbangun akibat suara tubrukan dari bawah.


Ambar sudah jelas siapa pelakunya, yang tak lain adalah Samira adiknya yang lola itu pasti membuat masalah lagi dengan Samara.


Dengan secepat kilat lebih cepat dari BoBoiBoy halilintar, Ambar berlari menghampiri kedua adiknya yang terlihat memasang wajah kesal.


"Ada apa nih?"tanya Ambar, sambil memandang kedua wajah adiknya yang sama-sama merah.


"Lihat Kak, dia yang duluan bikin makanan aku gosong"adu Samara sambil melihat Samira yang hanya menggeleng kaku.


"Ck, cuma itu?"tanya Ambar pada Samara, dengan tatapan yang bisa dibilang sedikit kesal.


"Hmmm."


Sebelum Ambar berkata lagi, ia terlebih dahulu melihat mama dan papanya berkemas-kemas. sepertinya mereka akan pergi jauh kali ini.


"Kemana?"mulailah sifat bunglon nya.


"Mama sama Papa mau ke London satu minggu aja. Ambar, kamu jaga adik adik kamu ya"ucap Srita sambil memegang tangan Ambar, namun segera ditepis.


Keluarlah sifat asli dari Satria Putra Ambarawa. sifat yang dingin, keras, seperti bunglon, beda tempat beda sifat.


Jika di kampus dia seperti biasa suka senyum-senyum,mudah bercanda, maka di rumahnya itu adalah lain halnya. dia terkesan dingin dan cuek.


"Sopan dikit Ambar. dia itu Mama kamu"bedak Putra pada putranya ini.


"Cuma mama tirikan. nggak lebih".


Jlebb


Jika seorang Satria Putra Ambarawa berbicara pedas. maka itu pasti akan menusuk ke hati orang yang dia cibir.


Sama seperti dulu, dia menolak mentah-mentah seorang kakak kelasnya saat di SMA, sampai kakak kelasnya itu bunuh diri.


Sungguh disayangkan. mungkin tidak keras menurut Ambar. ya cuma bilang kalau dia murahan,suka jalan sama laki-laki yang beda, hanya bisa ngomong sayang ke laki-laki,mungkin gak pernah dapat kasih sayang orang tua.


Sungguh keterlaluan.


"Kak"peringat Samara dan Samira barengan, lalu mereka kembali melirik sinis.


"Emang bener kan. dia cuma mama tiri kita dan cuma kalian bertiga adik kakak, sedangkan Amira itu anak dari perempuan ****** yang membuat ibu kita itu mati"ucap Ambar sambil melenggang pergi, lalu menutup pintu dengan kencang.


Brakk

__ADS_1


Sekali lagi, dia Satria Putra Ambarawa si pemilik sikap bunglon yang membuat semua orang yang kenal dengannya harus hati-hati jika dia sedang bad mood.


__ADS_2