Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Fabia Ergarda


__ADS_3

DEG


Penjual rujak itu tampak tertegun sesaat, lalu mengerjap kembali saat suara Tegar menyadarkannya.


"Tidak, Pak. Saya sedang tidak berjualan pada hari itu." Tukang rujak itu mendadak merasa gugup.


Tegar menangkap nada keraguan di sana. Perwira muda itu yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh lelaki itu. Namun, dia tidak ingin memaksakan kehendak. Suatu hari, takdir pasti akan membawa tukang rujak itu kepadanya, jika memang asumsinya benar.


"Baik, ini uangnya, Bang." Tegar bangkit dari kursi kayu itu, setelah meletakkan uang seratus ribu di atas meja.


Ia mulai mengayun tungkai hendak menuju mobil, namun ....


"Pak, kembaliannya." Tukang rujak buah itu berjalan tergopoh ke arah Tegar untuk menyerahkan uang kembalian.


Tegar merotasikan leher.


"Tidak usah, ambil saja kembaliannya." Ia lantas tersenyum, setelah tukang rujak itu mengucapkan kata terima kasih.


Baru saja tangan perwira muda itu hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ia mendengar gelak tawa dari seorang wanita yang sangat familiar di telinganya.


Eri?


Tegar mengedar pandang, begitu juga dengan si tukang rujak buah.


GREP


Tatapan Tegar terkunci ketika wajah ceria Erianiza mengisi ruang pandangnya. Rasanya lega sekali bisa melihat wanita itu dalam suasana bahagia seperti itu. Tapi, senyuman Tegar menyurut tatkala mendengar suara si tukang buah.


"Wanita itu memang suka bermain di sana, Pak. Entah, apa yang membuatnya selalu tertawa sendiri."


Si Tukang Rujak Buah yang bernama Joni itu berkata sambil menggelengkan kepala pelan. Pandangannya mengikuti sorot mata Tegar.


Tentu saja, Tegar paham maksud Joni. Pastilah lelaki itu tidak menyangka jika pada zaman sekarang, ada seorang wanita cantik yang mungkin dia anggap setengah waras.


Tegar menghela napas dalam. Tidak bisa menyalahkan Joni begitu saja. Situasinya memang relevan, jadi mana mungkin ia membantah. Selaras dengan hal tersebut pangkal alisnya berkerut seraya menyipitkan kedua mata ke arah Joni.


"Dia teman saya," aku Tegar yang membuat Joni tidak enak hati.

__ADS_1


Pastilah polisi muda di depannya itu bisa memahami apa maksud dari ucapannya tadi.


Mereka kembali menatap ke arah Eri yang kembali terdengar tertawa lepas seraya mendorong ayunan yang tampak kosong.


Apakah seburuk itu kondisinya? Tapi, bukankah Argan bilang dia tidak gila?


Tegar membatin sedih. Ingin rasanya ia menghampiri Erianiza saat itu juga, namun dirinya belum mempunyai informasi apa pun tentang keberadaan Fabia.


"Apa dia selalu mengunjungi tempat ini?" tanya Tegar yang sudah menghadapkan tubuhnya pada Joni.


Joni mengangguk. "Dia selalu berada di atas ayunan itu ketika sore hari," kata Joni memberikan penjelasan tambahan.


"Dia sedang mengalami kepelikan hidup, jadi tolong dimaklumi," pinta Tegar pada Joni sebelum dirinya memasuki mobil dan pergi meninggalkan area taman.


***


Di sebuah dermaga milik sebuah perusahaan ekspor-impor. Tampak dua orang lelaki bertubuh besar, berotot kekar, dan berwajah sangar baru saja keluar dari dalam mobil. Salah satu dari mereka menggendong bocah kecil berumur kurang lebih tujuh tahun. Keduanya berjalan menuju tepian dermaga yang terdapat sebuah kapal besi pengangkut barang. Kapal berwarna putih dan ukurannya cukup besar.


Di puncak teratas kapal itu berdiri seorang pria tampan. Mengenakan celana jeans dan baju kaos oblong putih lengkap dengan kacamata hitamnya. Rambutnya yang agak panjang disisir rapi ke belakang.


Ia masih berkacak pinggang ketika pandangannya mengarah pada dua lelaki bertubuh besar yang langkahnya hampir memasuki pintu kapal.


"Lepaskan Bia!" erang seorang bocah yang ada di dalam gendongan lelaki bertubuh besar itu. Bocah yang tak lain adalah Fabia Ergarda. Putri semata wayang dari Erianiza.


"Jangan banyak bergerak bocah tengik!" hardik lelaki itu seraya mengencangkan gendongannya karena Fabia selalu saja berontak.


Tentu saja, Fabia ingin segera bebas. Dalam dua pekan ini, ia selalu dibawa ke tempat-tempat berbeda di mana ia pun tidak mengetahui lokasinya. Jangankan untuk mengenali lokasi suatu tempat, ditanya tentang alamat rumahnya pun bocah itu tidak tahu.


Dua lelaki itu terus mengayun langkah lebarnya, hingga tak berapa lama, mereka telah tiba di puncak kapal.


"Bos."


Keduanya tampak membungkuk hormat ke arah pria tampan berkaca mata tersebut.


Pria yang bernama Deigo Rumania itu tersenyum seringai seraya membalik badan.


DEG

__ADS_1


Fabia yang tentu saja mengenali wajah pria itu langsung mengubah ekspresinya. Dari mendung menjadi berbinar.


"Om Diego!" serunya seraya menggoyang-goyangkan tubuh untuk diturunkan.


Diego mengangguk ke arah dua orang kepercayaannya, setelah memahami tatapan dari salah satunya yang seolah meminta persetujuan.


"Om!" Fabia berlari berhamburan ke dalam gendongan Diego.


Tentu saja, pria itu menyambut tubuh mungil Fabia dengan senyuman lebar.


"Om, Bia kangen sama mama. Bia mau ketemu mama," rengek bocah itu sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Diego.


"Iya, kita akan segera menemui mamamu, tapi sebelum itu Bia harus ikut Om dulu," rayu Diego dengan nada lembut.


Fabia mengangguk antusias mendengar ucapan pamannya itu.


Ya, Diego Rumania adalah saudara tiri dari Erianiza. Entah, apa alasan dibalik penculikan Fabia yang telah ia lakukan, semua masih menjadi misteri. Karena selama ini, hubungan keduanya tampak baik-baik saja.


"Sekarang, Bia boleh main di sana dulu. Om sudah menyiapkan banyak mainan untukmu," ucap Diego seraya menunjuk sebuah ruangan.


Fabia mengangguk, lalu turun dari gendongan pria itu. Langkah kecilnya terayun cepat menuju sebuah ruangan yang terdapat di lantai atas kapal tersebut.


"Apa perjalanan kalian aman?" tanya Diego kepada dua lelaki kekar di depannya setelah memastikan Fabia sudah memasuki ruangan dan menutup kembali pintunya.


"Aman, Bos." Keduanya menjawab serempak.


"Bagus. Tapi, kalian harus awasi terus Tukang Rujak Buah itu, jika dia berani buka mulut maka ...." Diego menggerakkan ibu jarinya melewati leher. Bahasa isyarat agar kedua pria itu menghabisi nyawa Joni jika ia melanggar kesepakatan.


Ya, Joni si Tukang Rujak Buah adalah saksi kunci dari penculikan terhadap Fabia. Joni menyaksikan dengan jelas kejadian tersebut karena memang setiap hari ia selalu mangkal di sana. Dia hanya berpura-pura tidak melihat. Ia tahu bahwa apa yang sudah disaksikannya hanya akan membuat dirinya masuk ke dalam lingkaran masalah besar. Oleh karena itu, ia memilih untuk pergi membawa dagangannya meninggalkan taman, sebelum Eri tiba di sana setelah membeli minuman.


Alasan kenapa Joni harus berbohong pada Tegar, tentu saja untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan orang-orang yang mengancamnya. Orang-orang Diego sempat melihat bahwa Joni tampak melongo di luar pagar taman ketika mereka beraksi. Maka hari-hari berikutnya, mereka terus menemui Joni dan mengancam pria itu dengan ancaman yang sukses membuat tubuh Joni gemetaran hingga ke tulang-tulang.


"Siap," jawab keduanya seraya mengangguk mantap.


"Sekarang kalian boleh pergi." Diego mengibaskan tangannya, membuat dua orang lelaki itu pergi dari sana.


Sepeninggalan mereka, Diego langsung memerintahkan nahkoda kapal, untuk memulai perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2