Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Mencari Fabia


__ADS_3

Berhubung tak mendapatkan petunjuk baru mengenai penyelidikan kasus kematian putri Arun dan Hima, Tegar memutuskan untuk pulang. Rehat sejenak sepertinya akan lebih baik untuk memulihkan energinya yang cukup terkuras hari ini.


Tiba di rumah, pria itu bergegas menaiki anak tangga di mana lantai dua adalah tujuan utamanya. Namun, baru saja kakinya menjejaki anak tangga ke tujuh, suara sang mama tiba-tiba menginterupsi langkahnya.


"Gar, tadi ada Eri ke sini."


Kalimat sang mama sukses menciptakan detakan heboh di dalam dada pria itu. Eri mencarinya? Sejenak, hati Tegar sempat merasa terbang ke angkasa, namun seketika ia kembali tersadar.


Tubuhnya tetap berdiri di atas anak tangga, namun lehernya berotasi ke arah sang mama.


"Sama siapa, Ma?" tanyanya.


"Sendiri, katanya dia sudah berulang kali menghubungimu, tapi tidak bisa," jawab sang ibu dengan suara khasnya yang lembut.


Tegar menggaruk-garuk kepala. "Oh, ponselku kehabisan daya. Yaudah, aku ke atas dulu, Ma." Pria itu melanjutkan langkah dengan tergesa-gesa.


"Loh, kamu gak makan dulu?" Sang mama sampai melengak karena tubuh Tegar semakin tidak terlihat.


"Masih kenyang, Ma." Tegar sedikit berteriak karena tubuhnya sudah memasuki kamar.


Tanpa berlama-lama lagi, pria itu langsung melepas baju dinasnya, lalu segera membersihkan diri.


Puas menyegarkan tubuh di bawah guyuran air, kini Tegar sudah siap dengan setelan non formalnya.


Digaetnya kontak mobil dan ponsel, lalu kembali menuruni anak tangga. Tidak sampai tiga puluh menit, pria itu sudah berada di lantai dasar.


"Loh, mau kemana lagi?" Sang mama yang kala itu sedang duduk santai sambil menikmati hangatnya teh manis di sore hari, kembali dikejutkan oleh putra semata wayangnya itu.


Langkah Tegar yang hampir saja mencapai pintu keluar, kini harus berputar ke arah sang mama. Di sebelah wanita itu juga ada sang suami yang sedang asik membawa surat kabar.


"Aku harus membantu Eri, Ma." Tegar berjongkok di hadapan sang mama yang tengah duduk di sofa.


Pak Parno yang sedari tadi asik dengan korannya, kini mulai mengalihkan perhatian pada sang putra.


"Bagaimana dengan kasus kematian anak kecil itu?" tanyanya pria dewasa itu pada Tegar.


Mendengar pertanyaan ayahnya, mau tidak mau Tegar harus meluangkan waktu sebentar untuk berbincang dengan kedua orang tuanya.


"Sebenarnya sudah hampir terungkap, tapi saksi yang kami punya, dua-duanya meninggal, Pa," ungkap perwira muda itu.


Sang ayah terdengar menghela napas. "Apa kau sudah menyelidiki kedua orang tuanya?" Pertanyaan sang ayah sukses membuat Tegar berkerut kening.


Kerutan di dahinya tampak begitu dalam, seolah sulit sekali untuk menangkap makna terselubung dari pertanyaan sang ayah.


Pak Parno tertawa kecil. "Alangkah baiknya, sebelum mencurigai orang luar, apa salahnya memeriksa orang dalam," ungkap pria yang usianya hampir separuh abad itu.


Tegar mulai paham. Dianggukkannya kepala sebagai tanggapan atas saran yang diberikan oleh ayahnya.


"Lalu, bagaimana dengan Eri?" Itu suara sang mama.


Tegar langsung menjawab, "Dia bilang putrinya diculik. Aku harus membantunya, Ma."


"Eri siapa?" Pak Parno tertarik untuk bertanya setelah mendengar percakapan istri dan anaknya.


"Erianiza, Pa. Mantan kekasihnya Tegar." Bukannya Tegar yang menjawab, melainkan sang mama.

__ADS_1


"Oh." Respon singkat itu diberikan oleh Pak Parno berbarengan dengan perubahan ekspresi wajah. Yang tadinya merasa antusias, menjadi biasa-biasa saja.


"Kalau begitu, aku pamit dulu, Ma, Pa." Tegar mencium punggung tangan kedua orang tuanya sebelum melangkahkan kaki keluar.


***


Karena tak bisa menemui Tegar, akhirnya Eri memutuskan untuk pergi ke taman bermain. Taman yang menjadi saksi di mana anaknya menjadi korban penculikan. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang melihat. Bahkan hal itu menjadi titik tersulit baginya, ketika orang lain tidak menyaksikan kejadian yang sama.


Di sinilah Erianiza sekarang. Kembali duduk di atas ayunan dengan sebelah tangan berpegangan pada rantai mainan itu. Air matanya menggelinding sedari awal kakinya menjejaki tempat tersebut. Tak bisa dipungkiri, rasa sesak selalu menghimpit rongga dadanya berkali lipat sakitnya.


Mama!


Hahaha!


Ayo, dorong lagi, Ma!


Suara Fabia yang bermain dengan suka cita kembali terngiang di benak Eri. Hingga kehadiran seorang anak kecil yang duduk tepat di ayunan sebelahnya pun tak ia sadari.


"Aaarrrrgggh!"


Erianiza terperanjat tatkala menyadari kehadiran anak itu. Anak yang sama, yang ia temui kala itu. Berwajah bulat dan berambut kribo.


"Tante kenapa menangis lagi?" tanya anak itu. Kakinya tampak bergerak mendorong ayunan.


"Ah, maaf." Eri menyeka air matanya. "Tante hanya sedang merindukan putri Tante," lanjutnya berkata jujur. Tidak seperti sebelumnya, ia memilih untuk tak menjawab.


Anak itu tampak mengerjap. Sepertinya ia sedikit kebingungan.


"Lalu, kenapa Tante tidak menemuinya?" Akhirnya bocah itu bertanya juga. Manik mata bening milik anak perempuan itu benar-benar membuat Eri kembali mengingat Fabia.


Wanita itu tak langsung menjawab. Kelopak matanya kembali memanas. Ia tak sanggup lagi untuk berkata-kata.


Bocah itu semakin kebingungan, melihat respon Eri yang malah kembali menangis sampai sesegukan.


"Tante tidak bisa bertemu dengannya karena--" Eri kembali sesegukan. Kedua matanya terpejam dalam. Sakit rasanya jika terus diceritakan. Namun, ia tak ingin membuat bocah di sampingnya ini kecewa. Namun, bagaimana caranya ia bercerita? Apakah anak ini mengerti bahasa 'penculikan'?


"Hiks ... hiks." Wanita itu berusaha menahan gemuruh badai di dalam dadanya. "Anak Tante--"


"Apa dia sudah meninggal?" terka bocah itu dengan suara imutnya. Tatapannya tak teralihkan sedikit pun dari Eri.


"Tidak, Sayang." Eri memaksakan diri untuk tersenyum.


"Apa dia diculik oleh orang jahat?" Bocah itu kembali bertanya.


Eri tampak gemas melihatnya. Ia mengangguk sebagai tanggapan.


"Aku ingin sekali membantu Tante untuk menemukan anak Tante, tapi--" Wajah anak itu berubah mendung. Kepalanya tertunduk, sementara tangannya refleks memegang perutnya.


"Aku masih sakit, Tante. Dan aku tidak bisa kemana-mana," lanjutnya seraya kembali menatap Eri.


Merasa kasihan, Eri lantas meraih tangan anak itu dan menggenggamnya. Namun, ekspresi wajah wanita itu berubah seketika tatkala merasakan suhu tangan anak itu. Dingin sekali.


Eri tak menggubris hal tersebut. Ia mengira bahwa suhu dingin itu disebabkan karena terpaan angin saja. Apalagi, cuacanya memang sedang mendung.


"Kalau masih sakit kenapa kamu bermain di luar rumah, Sayang?" Eri menatap lekat manik mata bocah itu.

__ADS_1


"Aku bosan di dalam, Tante."


Eri tersenyum mendengar jawaban itu.


"Yaudah, sekarang Tante akan menemani kamu bermain di sini."


Bocah itu tersenyum lebar mendengar penuturan Eri, lalu mereka pun bermain bersama.


Tanpa sepengetahuan Eri, dari luar pagar taman ada seseorang yang memperhatikan gerak-geriknya. Seorang penjual rujak buah. Kedua alisnya tampak bertautan. Seraya terus menunggu pembeli, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Pandangannya sesekali tertuju pada Eri, sesekali juga tertuju pada orang-orang yang berjalan kaki di pinggir jalan.


***


Tegar tampak memasang poster anak hilang di beberapa tembok ruko, tiang listrik, tiang telkom, bahkan di semua titik yang bisa dijamah oleh mata orang banyak.


"Maaf, apa Anda pernah melihat anak ini?" tanya Tegar pada seorang lelaki yang kala itu berpapasan dengannya di pinggir jalan seraya menyodorkan selembar poster dengan wajah Fabia.


Lelaki itu menggeleng.


Tegar meneruskan langkahnya.


"Apa Anda pernah melihat anak ini?" Pria itu bertanya lagi.


Orang yang berada di hadapannya kembali menggeleng.


Begitu lagi dan seterusnya. Namun, Tegar tidak mudah putus asa. Dia terus mencari dan mencari. Mengendarai mobil. Berjalan kaki. Lalu mengendarai mobil lagi. Ia terus melakukan itu.


Hingga akhirnya, ketika langit mulai temaram, mobilnya berhenti di depan pagar sebuah rumah mewah. Itu rumah Eri dan suaminya.


Tegar masih memegang kemudi, tatkala pandangannya tertuju pada kediaman super megah itu. Entah, apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Yang jelas, kali ini ia benar-benar ingin membantu. Bukan hanya karena Erianiza, tetapi memang karena sudah menjadi tugasnya.


Namun, ada satu hal yang tiba-tiba menganggu pikirannya. Sesuatu yang seharusnya dari awal ia temukan jawabannya.


"Eh, Pak!" Tegar tersentak ketika pandangannya melihat seorang pria dewasa berjalan melewati mobilnya.


Pria itu menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Tegar. "Iya, ada apa, Nak?"


Tegar pun keluar dari kendaraan roda empatnya.


"Apa Anda tinggal di sekitar sini?" tanya Tegar pada orang itu.


"Ya, itu rumah saya." Pria dewasa itu mengangguk seraya menunjuk sebuah rumah yang berdampingan dengan rumah Eri.


Tegar tampak ragu-ragu untuk bertanya, namun ia harus menemukan jawaban dari semua asumsinya.


"Apa Anda mengenal Erianiza dan suaminya?" tanya Tegar hati-hati.


"Tentu saja, Nak. Mereka adalah pasangan yang sangat baik dan juga ... harmonis," jawab pria itu sambil tersenyum ke arah rumah Eri.


DEG


Ekspresi wajah Tegar sedikit berubah, namun hal itu tak lagi menjadi masalah baginya. Selagi Eri bahagia bersama suaminya, kenapa ia harus bersusah hati?


"Lalu, tentang putri mere--"


"Putri siapa, Nak?" Pria itu langsung memangkas ucapan Tegar.

__ADS_1


"Putri Eri dan suaminya?" Tegar mulai berkerut kening.


"Mereka tidak pernah mempunyai anak," ucap pria itu yang membuat tubuh Tegar terpukul mundur menubruk badan mobil.


__ADS_2