Ampun, Ma!

Ampun, Ma!
Rachia Arunika


__ADS_3

Sesaat Erianiza tertegun mendengar penuturan Tuti. Ia yakin wanita di depannya ini tidak mungkin berbohong. Walaupun, Eri baru mengenalnya, namun kemurnian dan keluguan gadis desa sangat melekat pada wajah Tuti.


"Begini saja, aku akan membantumu agar bisa berkumpul kembali dengan keluargamu. Tapi, sebelum itu kau juga harus membantuku sekali saja, tolong temui Rara." Erianiza meminta dengan tatapan memohon.


Tuti yang merasa sangat bahagia karena masih ada orang baik di kota ini yang mau menolongnya, maka ia pun menganggukkan kepala.


"Terima kasih," ucap Erianiza seraya tersenyum. "Sebentar, ya." Eri langsung merogoh tas selempang yang tersampir di bahu, lalu mengambil ponselnya.


Dia ingin melakukan sebuah panggilan dan nomor Tegar adalah tujuannya.


Kenapa harus Tegar?


Tentu saja, dalam kasus ini Argan tidak mungkin mau turun tangan. Apalagi wanita di depannya ini berkaitan langsung dengan Rara, bocah yang di temuinya di taman bermain. Sudah jelas bahwa Eri tidak mungkin menceritakan semuanya kepada Argan. Jika iya, maka bisa dipastikan bahwa hubungan keduanya akan kembali dingin.


Jadi, sudah jelas hanya Tegarlah yang bisa menolongnya kali ini.


"Eri?"


Suara Tegar terdengar di balik sambungan.


"Halo, Tegar. Apa kamu sedang sibuk? Aku benar-benar butuh bantuan. Ini menyangkut tentang keselamatan nyawa seseorang." Erianiza langsung mengutarakan tujuannya menghubungi perwira muda itu.


Tegar yang kala itu sedang berada di pusat perbelanjaan yang sama, kini harus menjauhi lawan bicaranya agar bisa mendengarkan lebih jelas pengaduan dari Eri.


"Ada apa?" tanya Tegar setelah berhasil menjauh dari temannya.


"Aku sedang berada di pusat perbelanjaan, lalu tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sedang lari dari kejaran orang-orang yang menyekapnya. Aku ingin menolongnya, tapi aku bingung, harus membawanya kemana? Aku tidak mungkin menghubungi suamiku, karena aku yakin dia pasti tidak mau berurusan dengan hal seperti ini."


Tatapan Eri dan Tuti saling beradu. Tuti tampak tegang di tempatnya karena tidak tahu siapa sebenarnya yang sedang berbicara dengan wanita di depannya itu.


"Aku juga sedang berada di pusat perbelanjaan, katakan di mana posisimu saat ini!" Tegar langsung merespon baik pengaduan Eri.


Wanita itu langsung tersenyum bahagia.


"Aku dan dia sedang bersembunyi di toilet wanita, dekat Fresh Market," jawab Eri kemudian.


Tegar tampak mengedar pandang, mencari Fresh Market yang Eri maksud.


"Oke, aku akan menemuimu di depan toilet. Tunggulah sebentar," tutur Tegar setelah pandangannya menemukan posisi market yang dimaksud Erianiza.

__ADS_1


Pria itu langsung mematikan sambungan telepon, lalu kembali menemui temannya yang masih duduk anteng di kursi kafe.


"Aku harus pergi," pamit Tegar pada temannya yang tak lain adalah Prima.


"Ei, kopimu belum habis, Gar." Prima tampak keheranan karena Tegar langsung melanting keluar kafe yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu tanpa memedulikan pekikannya.


"Pasti urusan wanita," gumam Prima setengah mencibir. Ia tidak tahu saja bahwa wanita yang akan diurusi oleh Tegar adalah wanita yang sudah bersuami. Bisa dibayangkan seperti apa respon Prima saat mengetahuinya? Ah, sudahlah tidak perlu dibahas.


Tegar kembali menghubungi nomor Eri ketika tubuh jangkungnya sudah berdiri di depan toilet khusus wanita.


"Kau dimana?" tanya Eri dengan nada berbisik, namun Tegar yang berada di luar toilet pun masih bisa mendengarnya.


"Keluarlah!"


Setelah mendengar instruksi dari Tegar, Erianiza dan Tuti pun keluar dari dalam toilet.


"Ini dia, orang yang kuceritakan tadi," ucap wanita itu pada Tegar, ketika melihat pria itu masih berdiri menatap mereka berdua tanpa ekspresi.


"Di mana alamatmu?" Tegar bertanya pada Tuti.


Namun, wanita itu tampak ragu untuk mengatakan informasi penting tentang dirinya pada orang asing.


"Jangan khawatir, dia adalah anggota kepolisian." Eri memegang bahu Tuti ketika melihat raut cemas di wajah wanita itu.


"Saya berasal dari desa Wonodadu, Pak." Tuti menjawab dengan mantap.


"Wonodadu? Lalu, apa yang membuatmu berada di kota ini? Dan kenapa orang-orang itu menyekapmu?"


Mendengar berondongan pertanyaan dari Tegar, Tuti langsung menjelaskan kronologinya; bagaimana bisa ia berada di kota itu, dan untuk tujuan apa. Mengenai penyekapan terhadap dirinya, ia sendiri juga tidak tahu siapa pelakunya.


Namun, Tegar sendiri bisa menangkap poin penting yang merupakan sebuah petunjuk baru untuknya.


"Kau pernah mengasuh Rachia Arunika putri dari Arun Permana dan Hima Anggraini?" tanya Tegar sekadar untuk mengulangi penjelasan yang telah disampaikan oleh Tuti. Ia harap telinganya tidak salah mendengar informasi.


"Benar, Pak."


"Berarti kau adalah saksi kunciku," tutur Tegar, yang sukses membuat dua wanita di depannya tersentak.


"Saksi kunci?" Keduanya sama-sama mengulangi perkataan pria itu.

__ADS_1


"Ya, apa kau belum tahu jika Rachia Arunika telah tewas di dalam rumahnya sekitar sepuluh hari yang lalu?" tanya Tegar pada Tuti.


DEG


Jantung Tuti seolah berhenti berdetak. Ia tidak tahu jika bocah yang pernah diasuhnya itu, kini telah tinggal namanya saja.


Kedua bola matanya kembali memanas. Buliran bening berbalut duka kembali membasahi pipinya.


"Berarti kau dipecat sehari sebelum pembunuhan itu terjadi," ucap Tegar setelah menganalisa tanggal kematian Chia dan hari di mana Tuti diberhentikan, hanya beda satu hari saja.


Wanita itu terus menggeleng dalam dekapan tangis.


Erianiza yang berada di dekat Tuti juga tak kalah terkejutnya. Jika anak yang diasuh Tuti sudah meninggal, lalu siapa bocah yang sering ditemuinya di taman bermain?


"Tegar, aku--" Erianiza ingin menyampaikan sesuatu, namun ia khawatir Tegar akan menganggapnya berbicara omong kosong.


"Ada apa, Eri?" Bisa Tegar lihat dengan jelas kedua alis wanita itu saling bertautan.


"Aku sering bertemu bocah perempuan berumur sekitar tujuh tahunan di taman bermain. Namanya Rara. Bocah itu berwajah bulat dan berambut kribo. Apakah Rachia Arunika yang kau maksud tadi, memiliki ciri tubuh yang sama?" Eri tak mampu lagi untuk menahan diri. Rasa penasaran tentu ikut membelenggu hatinya ketika mendengar penuturan Tuti yang mengatakan bahwa alamat majikannya terletak di dekat taman bermain.


Tegar menarik ponsel dari saku celana, lalu mencari foto Rachia Arunika di galeri.


"Ini dia!"


Tegar menyodorkan ponselnya ke depan Eri yang membuat tangan wanita itu bergetar saat menerimanya.


Kedua mata Eri langsung membola, ketika melihat wajah Rachia Arunika yang telah dikabarkan meninggal dunia itu persis sekali dengan wajah bocah yang sering ditemuinya di taman bermain.


"Tuhaaan!" ucap Eri dengan mata berkaca-kaca.


Tegar menarik kembali ponselnya ketika melihat wanita itu sudah berlinang air mata. Kedua telapak tangannya membekap mulut sehingga tangis yang keluar hanya berbentuk isakan pedih.


"Kenapa?" Tegar merasa bingung karena Erianiza tiba-tiba menangis setelah melihat wajah putri Arun yang bernasib malang itu.


"Dia ... dia adalah bocah yang selalu menemaniku di taman setiap sore," ucap Eri dengan susah payah.


Baik Tegar mau pun Tuti sama-sama tersentak. Tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


Namun, keduanya sama-sama berpikir bahwa tidak mungkin Eri berkata omong kosong jika air mata yang keluar dari kedua bola mata beningnya, merupakan sebuah duka mendalam yang tidak bisa dibuat-buat.

__ADS_1


"Pantas saja, setiap kupegang tangannya suhu tubuhnya selalu dingin. Dan dia selalu bilang kalau dia sakit di bagian perutnya, Gar." Tangisan Eri semakin pecah.


Mau tidak mau, Tegar meraih tubuh rapuh mantan kekasihnya itu ke dalam pelukannya. Berusaha menenangkan wanita itu sebisanya.


__ADS_2